Untuk Saya Buku Adalah Barang Mahal


 

Rasanya sudah lama sekali tidak menyambangi blog yang satu ini. Belakangan saya didera rasa malas luar biasa dan semoga lekas menemukan formula yang tepat untuk mengatasinya. Haha. Hari ini ketika saya sedang berada di rumah dan melihat deretan novel di rak, ada sebuah lintasan waktu yang menyeret saya pada kenangan awal berkenalan dengan buku.

13000203_1326689590681666_5678556442385367499_n


Saya minim bacaan dan bisa dibilang pembaca yang lambat. Dulu itu hampir tidak ada bacaan di rumah selain buku pelajaran sekolah. Ketika kecil saya masih ingat harus mampir ke rumah saudara yang langganan bobo. Semasa SD dan SMP perpus jarang sekali dibuka. Semasa SMA, mungkin sama seperti yang lain mengunjungi perpus ketika ada tugas dan saya tahu ini kesalahan besar saya ketika itu. Tapi bukankah penyesalan selalu datang terakhir? Namun selalu ada harapan, tidak ada yang terlambat bukan?
Sebelumnya saya sudah pernah membaca novel karangan Fredy S. sewaktu SMP. Membaca yang secara tidak sengaja karena menemukan buku tersebut di kamar kakak. Mungkin lebih ke arah penasaran karena namanya hampir sama dengan saya, juga pernah melihat buku tersebut pernah berseliweran di kalangan kakak kelas. Saya kelas 1 kala itu. Ternyata ceritanya seperti itu, namun memang ada alur yang jelas dan saya masih sedikit mengingat ceritanya walau lupa judul. Hehe.
Sewaktu buming Laskar Pelangi, bulik (jawa: tante) meminjamkan buku dengan judul sama untuk saya baca. Katanya bagus dan inspiratif. Jadilah saya membacanya dan tuntas. Lalu buku Sang Pemimpi serta Edensor pun menyusul untuk saya baca. Betapa saat itu seorang siswa kelas XI IPA langsung bermimpi untuk bisa jadi penulis yang karyanya bisa difilmkan. Lucu ya? Mungkin, di postingan lain saya akan menceritakannya lebih detail.
Semasa kuliah ada buku yang saya beli yakni 5 cm dan Negeri 5 Menara di sebuah lapak buku murah di Malang. Harganya fantastis murah, 2 buku hanya 40 ribu padahal baru lo. Dari sini saya tidak tahu jika ini merupakan buku bajakan, dan buku yang dipinjami bulik dulu pun ternyata sama. Mengetahui hal ini cukup membuat rapuh, namun tidak lantas retak dan menjadi puing-puing. :p Tapi untuk mahasiswa dengan uang pemberian orangtua senilai 150 yang belum dipotong pp naik bus Kasembon-Malang, serta naik angot berangkat ngampus selama dua minggu, uang 40 sungguh berharga. Jadi untuk uang makan serta misal print tugas, bersih kisaran 60-70, dua minggu. Hihi. Ya, itu empat tahun lalu. Dan sebenarnya meski sedikit, tapi anehnya uang tersebut selalu cukup. Mencukup-cukupkan. Saya juga jualan pulsa sih ketika itu. Lumayan, meski kadang manyun kalau ada yang ngebon. T.T *kzl*
Lalu, saya berkenalan lagi dengan mimpi menjadi penulis. Kenapa? Dulu ketika orangtua berniat membelikan laptop, sebenarnya saya selalu merasa sungkan dan menunda-nunda. Karena kuliah sendiri kok rasanya sudah merepotkan orangtua. Hiks. Tapi ternyata dibelikan juga di bulan September, laptop bekas yang sangat saya sayangi. Karena tidak ada lowongan kerja, saya tidak naif, apakah laptop ini bisa menghasilkan uang? Menulis bisa dapat duit nggak sih?
Dari latar belakang masalah di atas—ceile serasa bikin skripsi aja XD—saya pun tergerak masuk di sejumlah grup kepenulisan. Tepatnya November-Desember 2012. Saya singkat ceritanya ya, karena pengin bahas buku. Dari grup Cendol saya terkejut karena mendapat hadiah buku untuk puisi yang saya bikin, yang notabene bagi saya amat sangat sederhana. Makasih Om Mayoko Aiko. Di grup ini karya saya juga dibedah dan gitu …. haha. Sebelumnya bacaan saya hanya sebatas cerpen di sejumlah blog/web dan juga catatan facebook milik Bimo Rafandha serta David Ng (silent reader saja dan belum berani menyapa).
Nah, karena kritikan yang cukup pedas buat cerpen saya tadi, sebagai anak baru dengan mental permen karet ini nekat banget punya ambisi bisa nongol di Media. Semacam bisa bikin, tapi punya rasa minder yang akut. Selalu merasa karya yang selesai dibikin jelek banget. Ya ampun, ini jadi membicarakan karya. Intinya setelah itu ada beberapa yang dimuat.
Karena sebagai anak kos dengan biaya hidup yang wajib ngirit! Giveaway berhadiah buku serupa berlian di kepala singa. Nah kan. Hihi, kemungkinan dapat minim sih ya apalagi saingannya gitu. Hmmm talah, waktu gagas mengadakan GA dan ternyata tidak menyangka nama saya muncul. Wah, wah, seneng puol … hadiahnya novel Hatimu yang kemudian menjadi bagian dari salah satu novel saya (diceritain kali lain deh ya). Waktu buming Perahu Kertas, bersyukur banget bisa donlod e-booknya. Mecicil baca di laptop sampai sekian ratus halaman. Hihi.
Dan giveaway-giveaway lain pun bermunculan. Yang paling ditunggu selalu GA rutin Gagas. Kuis yang selalu bikin menang adalah membuat kalimat dengan judul-judul buku Gagas. Padahal demi apapun kala itu saya belum pernah beli buku terbitan mereka. T.T Gini amat ya. Dan kiriman buku-buku pun bikin emak selalu nanya setengah nyengir, “Buku terus, kiriman duit kapan nih?” Haha.

10565072_931965916820704_8241183421679020689_n
Buku terbanyak hasil GA yang pernah saya dapat 😦

Untuk menunjang karir—hemmm talah—saya pun mulai sering berkunjung ke perpustakaan umum. Dan saya banyak menemukan majalah, khususnya Hai, Gadis, juga Femina. Surga. Surga. Ke sini sekali waktu diajak teman mengerjakan tugas bareng, dan selanjutnya sering datang sendiri saking asiknya dapat banyak bacaan. Ya, di perpus ini koleksi novelnya juga banyak.
Dan, setelah ada sejumlah cerpen yang dimuat … buku pertama pun akhirnya terbeli. Waktu itu buku Kak Prisca Primasari Evergreen serta Me and You VS The World yang terbeli. Senengnya luar biasa karena beli dengan hasil jerih payah sendiri. Lalu, di tahun 2014 berkenalan dengan resensi yang juga mengantarkan saya mendapat sejumlah buku dari penerbit. Alhamdulillah. Koleksi semakin bertambah. Juga, saat ada bazar buku lalu dengan mengandalkan kamera HP keluaran china, ternyata bisa menjadi pundi-pundi kecil di celengan saya. Sedikit demi sedikit. Belakangan pun rasanya membeli buku jauh lebih menarik daripada menambah koleksi baju di lemari. Merasakan juga? *tosh kalem*
Bersyukur di tengah kesusahan secara finansial, Allah memberikan kemudahan untuk hamba-Nya yang satu ini. Jalan yang mulanya pesimis untuk saya lalui. Jika belakangan senang bikin GA dengan hadiah buku, sebenarnya tidak lain mengingat masa-masa pengin beli buku, tapi rasanya urusan perut dan print, fotocopy, bayar kas kelas jauh lebih penting. Hanya sekadar unek-unek waktu tidak bisa tidur. Gitu, makasih sudah baca ya.
Tidak ada jalan yang mudah, sayang ….

Malang, 6 Juni 2016, 1:07 WIB

Iklan

2 thoughts on “Untuk Saya Buku Adalah Barang Mahal

  1. Wah keren ceritanya… saya mah msh inget dulu sering nongkrong di gramedia buat bisa baca buku gratisan…jujur waktu itu gak ada anggaran buat beli buku…

    Sedih memang kasus buku bajakan… tapi ya mau gimana lagi? Beli asli mahal. Ya udah tak doain aja semoga Mas Koko dikasih rejeki lebih suapaya apa? Supaya buku bajakan yg sempat terbeli dulu bisa tergantii dengan buku yang asli 😀

    1. Wah sayangnya di Gramedia sini nggak bisa buka-buka buku. Haha. Tosh, haus bacaan. 😀 Alhamdulillah buku bajakan sudah ditinggalin dan sudah mulai beli buku sendiri meski harus nabung. Ahaha. Amin, semoga kita-kita ini selalu diberi sehat dan rezeki yang berkah. 🙂 Makasih udah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s