Menulis Merupakan Sebuah Upaya Menjadi Bahagia #Bagian Cerpen


 

Menulis membuat saya bahagia. Pada mulanya tidak demikian. Saya berorientasi ingin mendapatkan uang. Apakah itu suatu hal yang salah?

10177245_955910794426216_3513779449503760861_n
Ketika masa SMA ada sebuah pelajaran mengarang. Mengarang sebuah cerita pendek yang diketik, lalu dikumpulkan. Flashback sedikit, saat SMP saya sangat menyukai tiga pelajaran, yakni Bahasa indonesia, Biologi, dan Fisika. Saat diumumkan hasil tryout, ternyata nilai bahasa Indonesia saya mendapat posisi kedua—saya lupa satu kecamatan Kasembon atau hanya sebatas SMP itu saja. Hihi. Yang jelas hal ini membuat saya setingkat lebih PD dan semakin menyukai pelajaran ini. Jadilah ketika ada tugas membuat cerpen saya sangat semangat. Tidak banyak bacaan, waktu itu saya juga terlalu banyak menonton FTV terlebih jika artisnya Putri Titian. Xixixi. Dan cerita yang saya hasilkan pun penuh drama ala-ala FTV. Tahu tidak saya menulis dialognya seperti apa?
Seperti ini.
Ningsih: Apa yang kamu lakukan ke saya itu kejih!!! (sambil menangis tersedu)
Yoga : Aku … aku … (mencoba memegang tangan Ningsih, tapi canggung)
Itu dialog di cerpen atau apasih ya? Hihihi. Betapa ternyata saya masih tidak ngeh soal dialog tag. Saya mulai mengerti ketika membaca novel Laskar Pelangi. Entah kenapa, saya pun jadi sering menulis cerpen di buku setelah pelajaran mengarang tersebut. Cerpen-cerpen aneh nan drama, kalau dibaca ulang rasanya sedihhh.
Ketika mendekati masa kelulusan SMA, seorang teman sekelas yang notabene merupakan tim redaksi majalah sekolah memberi woro-woro. Namanya Diah Ayu K.P—anaknya cantik.

11222358_989380071072669_2429462269443574494_n
Hemmm talah cantik, ‘kan? Haha. Nyomot fotonya dari sini

Intinya dia mengumumkan kalau kita mau titip salam di salah satu rubrik atau artikel-artikel bisa dikumpulkan ke dia. Boleh ditulis tangan. Wah, dari sini saya pun kepikiran … apaya yang bisa saya jadikan kenang-kenangan? Saya pun dengan 10 persen keyakinan menulis cerpen dan artikel. Woha, artikelnya sungguh lucu. Begitu dimuat saya buru-buru tidak mengakui jika cerpen dan artikel tersebut adalah tulisa saya. Malu-maluin karena pada ciecie-in. Oke saya ini orangnya masih merasa kalau karya yang saya bikin itu jelek. >_<

10437010_893463187337644_398680727717428939_n
Tahu tidak nama di cerpen ini siapa? kO2_cs1. Xoxoxo

Setelah lulus saya bekerja, gajinya minim dan orangtua pun menyuruh untuk berhenti bekerja. Sebenarnya saya sangat menyukai pekerjaan ini, teman-teman di sana sudah layaknya keluarga. Hangat ceria, sesuatu yang rasanya belum pernah saya sentuh sebelumnya. Ketika kerja saya tidak menulis apa-apa. Hobi menulis berganti melihat goodreads dan hanya baca-baca review dan kagum sama kaver-kaver di sana. Saya kenal goodreads dari FP Gagasmedia. Saya lupa, semasa menganggur tiga bulanan di rumah saya menemukan sebuah lomba menulis bertemakan religi. Nah! Saya mulai menulis dan mengetiknya di warnet, tapi berhubung kecepatan menulis saya minim jadilah meminta untuk diketikkan mas-mas penjaga warnetnya. Tara, satu cerpen islami jadi dan tidak menang. Memang ketika dibaca ulang cerpen saya ya gitu …, tapi lucu saja waktu dibaca ulang. Kalah. Tapi senang saja. Tidak menulis lagi.
Nah, titik ketika awal kuliah inilah saya bersentuhan kembali dengan hobi lama. Ada laptop. Buat apa sih kalau tidak bisa menghasilkan dan cuma mengerjakan tugas sesekali saja? Lalu saya berkenalan dengan akun Dicha Senja—tetap, saya cuma pembaca gelap catatan FB-nya yang ketika itu membahas soal novel Kak Hengki Kumayandi. Dari sini saya kepo untuk add akun FB-nya. Kemudian, saya menemukan sebuah grup kepenulisan bernama Kelas Online Menulis yang kemudian lebih akrab dengan nama Cendol. Lalu, beberapa bulan setelahnya saya berkenalan dengan Kobimo.
Dari kedua grup inilah saya belajar kembali soal tulis menulis, terlebih ketika cerpen pertama yang saya buat kala itu mendapat sejumlah kritikan pedas. Mental saya masih lemah. Ya, memang demikian. Tapi setelah direnungi, saya pun punya tekad untuk bisa kembali. Memulai dengan lebih terbuka pada kritikan, toh saya masih baru mulai, masa langsung patah begitu saja? Halo, apakabar mimpi jadi penulis yang menghasilkan uang? *lhoh?* Iya, tekad saya menulis memang pengin punya duit tambahan biaya hidup selama kos kok. Awal tahun 2013 saya menancapkan mimpi, harus ada karya yang dimuat. Harus ada. Juga sebagai semacam pembuktian atas sejumlah kritikan pedas sebelumnya.
Saya pun membeli sejumlah koran hari Minggu. Duh, cerpen Kompas dan Jawa Pos serupa mimpi yang begitu kecil buat saya raih. Lalu, ada saya melihat rubrik cerpen di Malang Post. Membeli beberapa edisi dan mempelajari cerpen-cerpennya. Kirim pertama tidak dimuat. Kirim kedua ternyata dimuat menjelang akhir Januari. Duh, senangnya tidak ketulungan. Tapi, kemudian sedikit patah waktu tahu tidak ada honornya. Oke tidak apa-apa. Setidaknya sudah ada satu jalan. Saya pun kemudian mengenal Dikpa Sativa penulis yang humble. Saya juga berkenalan dengan rubrik baru di Fajar Makasar. Ternyata sejumlah cerpen saya dimuat. Tapi ternyata karena jarak dan minimnya teman penulis, honor pun tidak turun. Satu cerpen dihargai 50 ketika itu. Patah? Tentu. Duh, duh. Mungkin memang seperti ini kalau terlalu memforsir ingin punya uang. Dari sinilah saya mulai merenung dan berpikir ulang membenahi tujuan menulis saya. Bagaimana jika menulis merupakan cara membunuh sepi serta penat sejumlah tugas untuk menjadi bahagia?
Saya pun mulai menulis dengan tanpa beban. Biarlah belum menghasilkan, tapi dari pengalaman sebelumnya saya memilih untuk menembus media yang benar-benar memberikan honor. Saya juga mulai sering ikut lomba menulis. Banyak gagalnya dan menjadi senang ketika salah satu cerpen yang saya tulis bisa dibukukan. Pertama kalinya menulis cerpen dengan setting Jepang. Dari kesan pertama yang menyenangkan inilah saya selalu berpikir pengin suatu hari menulis cerita yang lebih panjang dengan latar negeri sakura tersebut. Kemudian, ada seorang teman yang cerpennya dimuat HAI. Saya pun mencari tahu alamat e-mail HAI via google. Rasanya masih sungkan tanya alamat langsung ke penulis. Lhawong kenal saja masih sebatas like di sejumlah postingan. Alamat-alamat yang sudah kedaluwarsa pun saya kirimi. Haha. Tapi terkejut bukan main ketika mendapat balasan dari HAI untuk cerpen yang saya kirim dua bulan sebelumnya. Woha! Demi apa? Tapi dengan baiknya redaktur HAI meminta saya revisi untuk dipanjangkan. Duh bimbang. Saat itu saya sudah berkenalan dengan majalah ini dari perpustakaan kota, melihat-lihat jika syaratnya maksimal 6000 cws. Kok kalau ditambah malah semakin nambah cws-nya ya? Kemudian di sinilah saya berani tanya beberapa penulis senior seperti Om Abe dan Kak Lonyenk Rap. Dari sini, benar segitu. Apa jangan-jangan kakaknya salah ketik? Akhirnya saya justru mengurangi sejumlah kata hingga pas 6000 cws. Pas. Dan tidak berharap apapun, mendapat balasan seminggu kemudian untuk menjaga tanggal terbit serta jika bertanya honor bisa menghubungi kakak *sensor*.

1376413_736917749658856_442953908_n
Penampakan cerpen yang pertama kali dimuat :*

Dan dari sinilah HAI amat berkesan bagi saya. Betapa baiknya sang redaktur majalah satu ini. Cerpen selanjutnya, waktu cerpen saya tidak lolos sebuah lomba saya pun memilih memgirimkannya ke Majalah Sekar. Majalah wanita yang belum pernah saya sentuh secara fisik. Kok ya pede? Tapi sebulan setelahnya saya mendapat balasan e-mail jika cerpen saya akan dimuat di edisi sekian. Sungguh, saya tidak tahu harus berkata apa waktu itu. Tapi, justru sebuah rumor tentang tutupnya majalah ini membuat bimbang. Saya tidak menemukan majalah edisi tersebut, tapi kata orangtua honornya sejumlah 400 masuk. Bukankah itu honor sekar? *Sampai sekarang belum menemukan edisi ini* Jadi, cerpen saya dimuat di edisi terakhir majalah ini? Sedih bukan main.
Kemudian saya berkenalan dengan Kak Nurhayati Pujiastuti. Saya mendapat rekomendasi dari Dikpa yang menyukai cerpen-cerpen beliau. Saat beliau memosting tentang kelas menulis gratis. Tanpa ekspektasi apapun sebagai anak bawang, saya pun ikut mendaftar dan berdoa semoga terpilih. Dan kau tahu, Penulis Tangguh II menjadi semangat luar biasa bagi saya dalam mendapatkan sejumlah ilmu bagaimana mendapatkan ide. Jika dikata soal kerja kelompok dalam sebuah grup, percayalah penulis tangguh tidak demikian. Di sejumlah cerpen waktu belajar, yang paling saya ingat adalah kelas cerpen dewasa. Kak Nurhayati memberi komentar apabila cerpen saya kurang logis dari nama dan juga endingnya diminta mengganti. Apakah Kak Nurhayati lantas mengusulkan saran ending yang nendang, yang biasanya ada di cerpen-cerpen beliau yang selalu ada efek kejut? Tidak, saya justru diminta untuk berpikir, melihat kembali gambar dan membaca ulang sambil memastikan jumlah halaman. Saya pun memutuskan menggubah nama tokoh dan mengganti ending. Ending yang memang di luar dugaan saya. Hasilnya, di akhir tahun 2013 cerpen saya dimuat Femina. Honornya bisa buat beli modem dan bayar semesteran.
Menulis adalah upaya menjadi bahagia, saya benar-benar merasakannya. Hari ini ketika saya lebih sering menulis artikel dan bergelut dengan tugas akhir rasanya ada rindu yang teramat sangat akan masa-masa di atas. Menulis cerpen. Cerpen yang bikin saya lega, terlepas dari dimuat atau tidak. Belakangan cerpen-cerpen yang saya buat selalu berhenti di tengah jalan, seakan tidak menemukan nyawa yang kuat untuk membawa tokoh-tokohnya pada akhir cerita yang manis atau pahit. Saya masih menulis. Menulis terus sampai nanti tidak bisa menulis lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s