REVIEW: Perfect Pain karya Anggun Prameswari


KELUAR DARI JERAT BERNAMA KERAGUAN

Judul : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Terbit : 2015
Harga : Rp. 58.000
Tebal : 314 halaman
ISBN : 978-979-780-840-8

Perfect Pain bercerita tentang Bidari atau lebih suka dipanggil Bi yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya, Bram, adalah sosok yang tempramen dan ringan tangan, namun di sisi lain dia menjadi sangat penyayang pada Bi dan takut kehilangan istrinya tersebut. Kekerasan itu sendiri dilakukan di depan mata Karel, anaknya.
Selama ini Bi bertahan hanya untuk Karel. Sampai pada suatu titik Bi sudah tidak tahan dengan perlakukan suaminya dan memutuskan kabur. Dalam masa itu dia ditolong oleh Sindhu, pengacara muda. Ini bukan kebetulan, karena sebelumnya mereka sudah pernah bertemu saat mencari Karel bersama Miss Elena—guru Karel yang merupakan kekasih Sindhu.
Karena merasa sungkan pada Elena dan Sindhu, Bi pun berinisiatif untuk membawa Karel pulang ke rumah orangtuanya. Sayangnya, Bi punya kenangan buruk dengan sang ayah. Hubungan mereka tidak begitu baik. Pun, tak lama setelah itu Bram muncul. Bi memilih kabur karena merasa tidak ada yang menginginkannya, baik di rumah maupun seandainya kembali apakah Bram tidak berlaku lebih kasar padanya?
Sindhu menemukan Bi, dan mengajak mereka ke Rumah Puan—sebuah tempat yang mengayomi korban KDRT. Melihat Karel, Sindhu teringat denga sesuatu di masa lampau tentang dia, ibu, dan ayahnya. Hal itu pula yang menjadi bayang-bayang tentang hubungannya dengan Elena. Di sisi lain dia ingin melindungi Bi.
Bram menjadi sangat frustasi dan mengirimkan sms pada Bi jika ingin bunuh diri. Bi yang sebenarnya masih mengasihi Bram mendadak ragu. Lantas, apakah Bi akan menemui suaminya? Pun seadainya memilih bertemu, apakah Bi yakin tidak akan mati di tangan seorang seperti Bram? Tak lama setelah itu Karel ikut menghilang.
T_T
Prok. Prok. Prok. Ini novel pertama yang saya baca tahun 2016, tapi baru direview apa baru dikomenin ya ini? XD
Novel kedua karya Mbak Anggun yang saya baca setelah After Rain. Sama-sama Roman Depresi. Namun, kadar depresinya mungkin lebih banyak yang dialami Bi daripada Seren. Di sini perhatian saya, selain apa yang dialami Seren, saya tidak tahu bagaimana kondisi psikologi Karel yang melihat ayahnya memukul ibunya. Usianya sungguh masih terlalu muda untuk melihat sebuah kekerasan.
Saya suka bagaimana Mbak Anggun bercerita dalam novel-novelnya karena tidak jauh berbeda dari cerpen-cerpen beliau yang saya baca. Narasinya lancar dan enak diikuti.
Karakter tokohnya kuat, ini untuk Karel, Sindhu, Ayah, Ibu, dan Elena. Untuk Bi, kuat, hanya saja saya merasa kecewa pada beberapa keputusannya. Dia masih berstatus istri. Bram, sayangnya tidak ada penjelasan apapun kenapa Bram bisa berbuat seperti itu. Mungkin ada sesuatu di masa lalunya yang melukai sehingga membuatnya menjadi pribadi pemberontak saat ini? Sayangnya hal itu tidak dijelaskan.
Setelah membaca ini, saya tidak tahu, perasaan dan pertanyaan yang muncul … kenapa sosok laki-laki terlebih ayah digambarkan kasar? Terlepas dari sosok Sindhu dan Karel.
Banyak kalimat manis dan renungan di buku ini yang saya suka. Terlebih burlb yang cukup menggambarkan isi.
Saya tidak ingin berbicara banyak soal novel ini. Saya suka. 4/5 bintang untuk novel ini. Dan, tentu bakal menunggu kelahiran novel Mbak Anggun selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s