CERPEN: MARRA


    Marra, kau lebih suka menyebut dirimu dengan nama itu.
“Kenapa aku harus memanggilmu dengan nama Marra? Aneh.”
“Apa itu sejenis nama pena? Atau, nama bohongan?”
Pertanyaan itu selalu terdengar ganjil di telingamu. Kau selalu mengenyahkannya dan dengan begitu ada yang bisa kau lepas. Sahabat, juga ingatan tentang kedua orang tuamu yang kian pupus. Dan, saat itu tiba. Hari ini, di sore yang muram, kau memandang langit Kota Bogor untuk terakhir kalinya.
“Kau baik-baik saja? Gerimis adalah pertanda baik untuk perjalanan kita.”
Mobil melaju tenang. Titik-titik air hujan membasahi kaca mobil dan kau menghela napas untuk beberapa kali. Jaket hitam itu tidak terkancing sempurna sehingga membuat tantemu mendengus, lalu menarik resletingnya. Tantemu benar, gerimis selalu menjadi penawar keheningan yang baik.
“Di Jakarta nanti kau akan menemukan banyak teman baru,” ucap tantemu lagi, lalu mengatakan sesuatu pada sopir, “Kita mampir ke butik dulu.”
Tante Ella, adik Papa, adalah satu-satunya keluarga yang kaumiliki sekarang, paska kecelakaan tragis yang menewaskan kedua orang tuamu. Semuanya terasa cepat, kebahagiaan itu terenggut begitu saja. Tidak akan ada lagi acara menghias pohon natal, bertukar kado dan meletakkannya di kolong ranjang, atau menghitung mundur menyambut tahun baru dengan melihat kembang api di pusat kota bersama. Tawa yang pudar dan berubah menjadi seulas senyum getir.
Lidahmu masih terasa kelu, bahkan untuk menanggapi ucapan Tante Ella yang seolah tidak ada habisnya. Tanganmu lantas menyentuh kaca jendela mobil yang terasa dingin. Lalu, ada kata yang kautulis dengan jari telunjuk.
Kata itu …, Marra.
***
Sedikit banyak kau bersyukur karena Tante Ella adalah sosok yang tidak cepat hanyut dalam kesedihan. Tidak menyinggung tentang kematian orang tuamu secuil pun, bahkan sejak pertama kali kautinggal satu atap dengannya kemarin di daerah Bintaro. Atau bisa jadi beliau tengah menjaga perasaan seseorang yang tak lain adalah kau?
“Marra, menurutmu bagaimana gaun ini?” Tante Ella mengangkat gaun bermotif bunga berwarna pink, yang di bagian kerahnya diberi renda warna putih.
Kau mengernyit, tapi Tantemu segera menjawab sambil tertawa. “Nama facebook-mu berubah menjadi Marra sejak beberapa bulan lalu bukan?”
“Terlalu cerah,” ucapmu datar, tidak mengindahkan topik yang dibahas sebelumnya.
Tante Ella menggeleng, tampak frustasi, lalu berjalan ke arahmu dan menempelkan gaun itu. “Ah, warna gaun ini bahkan cocok dengan warna kulitmu. Kita hanya perlu merapikan sedikit rambutmu nanti. Tapi ngomong-ngomong sejak kapan kau tidak keramas?”
Kau menatap tantemu dengan malas. Lagi-lagi tantemu tertawa. “Aku hanya bercanda. Pagi ini hangat, apa kau tidak ingin jalan-jalan keluar? Di dekat Indomaret ada toko kue cucur yang rasanya enak. Apa perlu Tante temani?”
“Aku bisa jalan sendiri.”
Tante Ella mengangguk sambil membenahi rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan. Lalu, kau keluar dari butik dengan selembar uang seratus ribu pemberian Tante Ella. Sebenarnya kau sedang tidak ingin makan apa pun. Tapi melihat seulas senyum itu, rasanya kau tidak bisa menolaknya.
Lagi, Tante Ella benar, pagi ini matahari muncul malu-malu dan sinarnya memberikan rasa hangat. Kau berjalan dengan santai, tidak ingin terburu-buru, lagipula kau baru masuk di SMA yang baru minggu depan. Kau berjalan melewati pertokoan dan rumah-rumah, lalu menyeberang jalan menuju tempat yang disebutkan Tante Ella.
Setelahnya, kau mengangsurkan uang pada kasir dan mendapatkan dua box berisi kue cucur rasa original serta durian. Tas kresek itu mengayun seirama langkah. Kau menatap jauh ke arah butik Tante Ella dan sebuah jalan yang ada di depanmu saat ini. Sepertinya dua jalan yang terhubung, pikirmu. Ada dua alasan kenapa kau memilih jalan ini. Pertama, kau tidak ingin cepat-cepat sampai butik lalu bosan menunggu Tante Ella yang tengah mengerjakan sesuatu. Kedua, karena kau tahu saat bosan menunggu pikiranmu akan tertuju pada Papa dan Mama. Kemudian air mata itu tidak terbendung saat mengingat kenangan manis bersama mereka.
Kau berhenti begitu mendapati bola basket menggelinding ke arahmu, lalu mendongak mencari siapa pemiliknya. Tak lama, muncul cowok berbadan tinggi yang mengenakan kaus tanpa lengan dan rambut menjuntai menutupi alis. Dia keluar dari halaman rumah dan tentunya cowok itu berkeringat.
Ada aroma segar dari tubuh cowok itu yang kau hirup. Lalu dengan sedikit rasa peduli kau memungut bola itu dan menyodorkannya pada cowok yang malah tersenyum padamu.
“Terima kasih,” kata cowok itu sambil tetap mempertahankan senyum.
Kau mengangguk, tidak berniat mengatakan apapun, lalu memutuskan meninggalkan cowok itu.
“Aku Bima Prasta. Terima kasih untuk bolanya.”
Yang menjadi pertanyaanmu, bagaimana cara tersenyum setulus itu? Senyum yang terlihat manis dan membuat lawan bicara ingin ikut membalasnya. Sayangnya senyum di bibirmu sudah lama memudar sejak beberapa bulan lalu.
***
Bima Prasta.
Kau mengetik nama itu pada menu pencarian di facebook. Setelah memerhatikan dengan seksama beberapa nama yang sama, akhirnya kau menemukan foto profil yang mirip dengan cowok tadi.
Mendadak muncul sebersit ide. Ide seperti yang pernah kau lakukan pada teman-temanmu dulu. Ah, kaupikir ini tidaklah terlalu buruk. Membuat beberapa akun bohongan dengan memasang beberapa foto cowok tampan atau cewek cantik sebagai bahan penyelidikan. Penyelidikan tentang sisi bohong dalam diri mereka. Nyatanya terbukti jika di belakang, teman-temanmu tidaklah sebaik seperti yang ditampilkan.
Melihat dari postingan terakhir, foto Bima bersama teman-temannya berseragam basket warna merah dengan garis hitam, jelas cowok itu sudah lama tidak pernah online. Itu postingan setahun lalu. Tapi, dengan sedikit keberanian kau mencoba menekan tombol pertemanan di salah satu akunmu dengan nama dan foto palsu. Iseng. Anehnya, tak lama permintaanmu segera dikonfirmasi oleh Bima.
Lalu, setelah sebulan lebih menonaktifkan akun pribadi, hari ini kau tergerak untuk membukanya. Ada puluhan inbox dan ratusan pemberitahuan di sana. Isinya sama. Cacian saat ketahuan teman-temanmu jika menggunakan akun palsu. Kau ketahuan saat ada teman yang membuka-buka handphone-mu ketika kau pergi ke toilet.
Dasar fake! Apa lo kesepian sampai harus ganggu hidup orang lain, hah?
Kata itu yang sering kau dapatkan. Tidak, tentu kau tidak kesepian selama ini. Tapi setelah ketahuan, kau benar-benar merasa sendiri, dikucilkan, dan menjadi bulan-bulanan pembullyan di sekolah. Keinginan itu selalu berulang untuk mengetahui seberapa baik sebenarnya arti teman di belakangmu.
Kau mengembuskan napas, mengirim pesan ke inbox Bima.
Hai? Boleh kenalan?
Pesan itu hanya dibaca. Tidak dibalas dalam rentang yang lama.
Kau mengernyit, memandangi foto-foto Bima. Di foto itu dia tidak hanya tersenyum, dia tertawa dan tampak bahagia. Kau menggeleng dan dengan cepat langsung menutup laptop, ada sebersit iri yang begitu kuat menancap di dasar hatimu. Kau juga ingin terlihat seperti itu.
Tak lama saat matamu teralih pada pigura berisi foto Mama dan Papa di atas nakas, punggungmu berkuncang dengan tangan tertelungkup menutup wajah. Rindu itu menyergapmu dengan cepat. Kau benar-benar merindukan mereka. Sangat.
***
Kau tidak pernah menyukai hujan yang datang tiba-tiba. Ya, harusnya tadi kau memercayai ucapan Tante Ella untuk membawa payung atau jas hujan. Kau segera menepi di emperan toko yang tutup menjelang sore, berusaha menyelamatkan dua box kue cucur dari lebatnya hujan. Rambut sepundakmu lepek dan ujung sepatumu kotor.
Kau menengadah, awan terlalu pekat untuk berharap hujan lekas reda. Pandanganmu terseret ke arah kiri begitu mendengar derap langkah. Kau terkesiap, cowok berseragam pramuka itu berlari ke arahmu dengan tas menutupi kepala.
Begitu dia sampai, kau sedikit menjaga jarak. Bisa kaudengar tarikan napas cowok itu mengambil oksigen dengan kasar. Tak lama malah diselingi tawa, sungguh aneh.
“Prediksi Mama selalu benar. Hari ini hujan.”
Kau masih bergeming. Sama. Kalau saja Mama masih ada, pasti beliau juga menghawatirkanmu. Kadang, Mama menyuruh Papa menjemputmu saat menunggu angkot begitu lama, lalu sebelum pulang mampir ke sebuah tempat membeli jagung rebus. Kau menggigit bibir, hawa dingin membuatmu tidak nyaman. Terlebih, ingatan itu makin terasa tidak menyenangkan dalam kondisi seperti ini.
“Hei, kita bertemu lagi?” Saat kau menoleh cowok itu menawarkan senyum yang sama. Bajunya basah kuyub. Tanpa bisa kaucegah, kepalamu mengangguk. “Kau tinggal di sini? Namamu?”
“Marra.” Hanya itu yang kau katakan, lantas kembali menatap muka.
Setelah lama tidak ada yang berkata, kau dikejutkan dengan pertanyaan, “Apa ini akun facebook-mu? Kenapa banyak sekali yang menandai dan mengirim di dindingmu kata-kata kasar?”
Kau menelan ludah dengan susah payah. Merutuki diri sendiri yang lupa menonaktifkan kembali akun itu.
“Akun fake? Hoax? Kurang kerjaan bikin akun-akun nggak penting? Apa mereka sedang kerasukan saat mengetik kata-kata itu. Aku tidak habis pikir.”
Kau memejamkan mata, rasanya sudah muak. “Itu benar.”
“Eh?” Bima menoleh ke arahmu. Matanya menyipit. “Tapi bagaimana …, maksudku, kau benar-benar mengamini tuduhan ini? Jangan-jangan Marra bukan nama aslimu? Ini terdengar begitu aneh untukku. Seperti …, nama kesedihan.”
Kau tersenyum kecut. Nyatanya tidak ada hal dalam dirimu yang bisa dipercaya. Kau memundurkan satu langkah, ada sisi dalam dirimu yang menolak hal itu.
“Kenapa harus membuat banyak akun untuk mengetahui sisi lain dari seseorang?” Kau mendengar ada yang goyah dari nada bicara Bima. “Bukankah setiap orang punya dua sisi? Punya rahasia. Kebohongan. Ah, kata-kataku sekarang bahkan terdengar kasar dan seperti Guru BK. Apa kau pernah berpikir kenapa kita harus mencari kesalahan orang lain, mengetahui apa benar mereka seorang yang baik, cinta, dan bisa dipercaya. Kenapa bukan kita saja yang jujur pada diri sendiri. Menjadi pribadi yang lebih baik tanpa—”
“Kau tidak mengerti.” Tanganmu menggenggam erat tas kresek. Napasmu menyesak dengan keputusan bulat untuk menembus hujan.
“Hei, Marra, maafkan aku.”
Kau tidak memedulikannya.
***
“Apa komentarmu?”
Marra. Kau memakai nama itu setelah tersingkir dari pergaulan. Kau menemukan nama itu dari sebuah buku, berasal dari bahasa Hebrew yang berarti getir. Kau menatap lantai dengan gusar, ucapan Bima kemarin begitu mengusikmu semalaman.
Mungkin itu penyakit. Awalnya kau hanya iseng karena temanmu membatalkan janji mengerjakan tugas kelompok bersama dengan alasan orang tua sakit. Tapi, saat mendapat BBM dari temanmu yang lain, jika temanmu tadi jalan-jalan ke Mall bersamanya, ada pahit yang kaurasakan. Mulai membuat akun palsu untuk mengerjai dan mencari tahu yang sebenarnya. Setelah itu kau justru tertarik dengan temanmu yang lain. Jika tidak melakukannya ada sisi resah dalam dirimu yang sulit hilang.
Diam-diam kau setuju dengan ucapan Bima kemarin. Dia sempat membalas inbox yang kau kirim dua hari lalu dengan bertanya, ini Marra?, sebelum akhirnya kau memilih menonaktifkan semua akun palsumu.
“Marra?”
“Eh?” Kau buru-buru mendongak dan tersadar dari lamunan. Tante Ella hanya menggeleng sambil menepuk pundak manekin bergaun pernikahan warna putih. Dan, pertanyaan aneh itu tanpa sadar kau suarakan. “Tante akan menikah?”
Tante Ella tertawa. “Tentu saja! Nanti. Bagaimana menurutmu gaun ini?”
Kau mengangguk. Menurutmu gaun buatan Tante Ella itu memang bagus. Tanpa cela untuk dikomentari kekurangannya. Pun, kau yakin Tantemu akan terlihat cantik dengan gaun itu nantinya.
Tante Ella tersenyum puas. Dia memandangmu dengan serius. “Sekarang Tante Ella adalah walimu, Sayang. Mama dan Papa pasti bahagia di surga jika kau juga bahagia. Lupakan nama Marra, kembali menjadi diri sendiri. Permintaan Tante tidak berat, ‘kan?”
Kau membenahi posisi duduk. Di luar hujan masih saja turun.
***
“Hei, kau di sini?”
Keputusan itu utuh. Kau memosting status permintaan maaf kepada teman-temanmu dulu dan menandai mereka. Meski beberapa tidak terima, tapi setidaknya kau lega, sebagian dari mereka memaafkan perbuatanmu.
Kau mengangguk. Hari ini kau juga ingin minta maaf secara resmi pada orang yang baru kakukenal, yang berdiri di depanmu saat ini. “Maafkan kata-kataku kemarin.”
“Ah, tidak,” kata Bima sambil menggaruk-garuk rambutnya. “Aku terlalu sensitif saat tahu apabila kau salah satu yang suka membuat akun palsu. Aku pernah ditipu sahabatku sendiri.”
Kau menaikkan alis. Bibirmu terbuka, tapi tidak ada kata yang berhasil keluar. Ditipu?
“Dulu aku pernah jatuh cinta sama seseorang di facebook. Sangat.” Bima mengucapkannya dengan sedikit pelan sambil nyengir, malu. “BBM-an juga setiap hari. Rasanya konyol. Ya, waktu janji ketemuan ternyata dia bukan seperti yang ada di foto. Maksudku, ternyata dia sahabatku sendiri di kelas. Anak chears yang selalu memberikan semangat untukku.”
Kau melihat Bima diam sejenak sebelum akhirnya dia melanjutkan. “Waktu itu aku pulang dengan pikiran aneh. Mungkin karena itu pula aku melamun saat berkendara hingga tidak sadar ada sebuah mobil menghantam. Lalu …, lalu semua menjadi kacau waktu dokter melarangku bermain basket karena cidera di kaki cukup parah. Aku gagal mengikuti turnamen nasional bersama tim-ku. Itu setahun lalu. Jadi, kau jangan meminta maaf …, Tania Putri.”
Matamu membulat dan dengan cepat menatap cowok di depanmu. “Kau tahu namaku?”
Bima tertawa. “Kau keponakan Kak Ella, ‘kan? Dia sering datang ke rumahku dan beberapa hari lalu bercerita soal Marra.” Bima melanjutkan untuk menggenapi kebingunganmu. “Kakakku akan menikah.”
Sesaat jantungmu berkedut. Kau lalu teringat gaun pernikahan yang dipamerkan Tante Ella kemarin. Entah kenapa kau merasakan ada perasaan aneh menjalar. Ragu. Gamang. Takut?
“Kakakku perempuan, jika kau ingin tahu itu Tania.” Bima tertawa. “Kau tidak berpikir sesuatu yang lain bukan?”
“Eng, tidak kok.” Kau buru-buru menggeleng karena tebakan Bima benar. Tapi untuk pertama kalinya kau membalas tawa itu. Ada perasaan hangat saat ada yang menyebut dirimu dengan nama …, Tania.

19 Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s