CERPEN: DIA YANG KUSEBUT CINTA


pict from: https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj-8eGJ0LDLAhUOxI4KHdSuBvkQjhwIBQ&url=http%3A%2F%2Ftaniec-mojapasja.tumblr.com%2F&psig=AFQjCNEMbkDnvgOwJFcATWvjll3B_rMiiA&ust=1457510542519064

Kenes
Aku mengenang bunda dalam sebuah tarian yang diiringi melodi-melodi indah dari musik orkestra. Bunda tidak memaksaku menjadi seorang balerina. Ada bayak mimpi kata bunda dan aku berhak memilih salah satu atau dua di antaranya. Ketika bunda pergi meninggalkanku untuk selamanya, aku telah memilih mimpi mana yang harus kuwujudkan.
Namun, ketika melihat cewek bermata sebulat anggur dengan aroma apel itu, aku seperti melihat bunda dalam wujud nyata. Kaki jenjang dan ketika dia meliukkan badan disertai gerak tangan, dari sana aku merasa ada sesuatu kekuatan. Kekuatan itu juga yang perlahan seperti sebuah ranjau yang menghalangiku mewujudkan mimpi.
Lalu, aku harus bagaimana bunda? Dia tampak tidak menyukaiku. Aku juga ingin begitu, hanya saja aku masih ingat kata-kata bunda bahwa aku tidak boleh membenci atau dendam pada siapa pun. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya.
Shabrina
Aku membenci semua hal! Bahkan pada diriku sendiri. Seandainya papa masih hidup, pasti beliau tahu betapa kegelisahan merengkuhku begitu erat saat ini. Pada mimpi serta obsesi mama yang menginginkanku menjadi anggota OSIS, mengikuti les balet, serta beberapa les lain yang menunjang prestasiku agar tidak tertinggal sepuluh besar juara kelas.
Aku pernah bermimpi menjadi juru masak yang andal di sebuah restoran besar seperti papa. Tapi mama bilang aku lebih cocok menjadi balerina. Yang jelas, aku tidak tahu apa persisnya itu mimpi. Hingga suatu ketika di musim hujan, aku melihat cewek itu datang. Dia yang memancarkan binar di matanya ketika menari. Seperti ada sepasang sayap di punggungnya saat melompat. Gerakannya selaras, meski ada beberapa bagian yang masih terasa belum menyatu dan terlihat kaku.
Aku melihat ada mimpi di sana. Sesuatu yang kusebut cinta. Sesuatu yang sayangnya tidak kumiliki. Namun, masalah terbesarnya dia dekat dengan seorang yang aku sukai.
Cowok itu. Ya, danseur dengan senyum sehangat pagi. Hanya saja aku tidak berani menyebut namanya secara langsung sejak peristiwa beberapa tahun silam, dan memilih mengucapkannya dalam hati. Hanya diam-diam.
Kenes
Kami saling mengenal dalam rentang waktu yang bisa dibilang cukup lama. Dia tinggal di sebelah rumahmu semenjak delapan tahun yang lalu. Ibunya pandai membuat kari ayam yang lezat, ayahnya adalah pencinta tanaman hias sehingga tidak salah jika halaman rumahnya dipenuhi aneka bunga dari berbagai jenis.
Setiap menjelang pukul tujuh aku akan menunggunya dari balik jendela kamar di lantai dua. Dia akan melambaikan tangan dengan lolipop yang tidak pernah absen di mulutnya. Dia sendiri bersekolah di sekolah formal, sedangkan aku memilih homeschooling mengikuti saran ayah. Di mana seharusnya saat ini aku duduk di kelas sebelas, satu tingkat di bawah cowok itu. Mengenakan seragam yang sama seperti miliknya.
Aku juga akan menunggunya setiap menjelang sore. Begitu mendapati motor matic berwarna putih di depan gerbang lengkap dengan pengendaranya, aku pun gegas menyiapkan semua keperluanku dengan senyum cerah. Rasanya seperti mendapat donor semangat berpuluh-puluh kali lipat.
Ayah mencium keningku sebelum berangkat dan mengatakan, “Hati-hati!”
Ayah memang begitu, beliau selalu menghawatirkanku secara berlebihan karena aku anak satu-satunya. Aku menyanyangi ayah, meski memang tidak sebesar rasa sayangku pada bunda. Dari tangan ayah aku sering mendapat kejutan, seperti rak buku baru di sudut kamar atau meja kecil yang belakangan menjadi temanku menyantap buku dongeng dan jus jambu. Ayahku hebat karena bisa membuat kayu-kayu itu menjadi wujud yang indah.
“Sudah siap?”
Aku mengangguk menanggapi ucapan cowok bermata hazel di depanku ini.
Ketika motor mulai melaju pelan, aku hanya dapat mengatakan dalam hati, apabila cowok yang membocengku ini adalah sahabat terbaikku setelah bunda. Sahabat yang dapat mengerti kondisiku dalam keadaan apapun.
Kenalkan, namanya Banyu. Gigi depannya ginsul satu. Dia sahabat yang menyenangkan dan tidak banyak bicara. Dia paling suka buah jeruk. Bila berada di dekatnya akan tercium dengan jelas aroma jeruk yang berpadu rempah dari parfum miliknya. Dia suka membaca, dan kami seringkali berdiskusi soal buku. Aku sendiri lebih suka karya klasik seperti karangan Emily Bronthe dan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer.
Dan kami sama-sama mempunyai rahasia satu sama lain.
Shabrina
Senin. Hari yang melelahkan ketika harus bangun pagi, piket sebentar, lalu menjadi komandan upacara karena sekarang giliran kelasku. Berikutnya gegas menyiapkan bahan dan rapat untuk majalah sekolah edisi terbaru.
Ah …, sampai detik ini aku masih tidak mengerti apa maksudnya masa SMA adalah masa paling membahagiakan? Aku bahkan tidak merasakannya. Pun, aku tidak benar-benar memahami pentingnya memiliki teman kecuali mereka sedang membutuhkanku. Seolah ada prinsip untung dan tidak dalam sebuah persahabatan.
Mungkin, banyak yang mengira persahabatan di antara kami tampak sempurna, nyatanya tidak demikian. Naila hanya akan membutuhkanku saat dia kesulitan memilih baju mana yang pantas dipakai. Bianca lebih suka merecokiku saat tidak bisa memecahkan soal-soal kimia. Katanya rumit dan aku paling jago soal itu. Terakhir Faye, dia mungkin tampak tidak terlalu merepotkan. Pendiam. Namun ada satu hal, dia sering menyebarkan ucapan tidak enak mengenaiku di belakang. Semisal, aku terlalu angkuh atau ingin populer di sekolah.
Dan, tidak ada hal yang paling kutunggu selain bel tanda pulang berbunyi. Istirahat sejenak, mandi, lalu berangkat menuju Eclair Ballet School diantar sopir. Langkahku kemudian terhenti begitu melihat cowok itu dan Kenes tampak tertawa setelah memarkirkan motor. Tak lama mereka menyadari kedatanganku. Suara tawa itu pun segera lenyap ditelan udara sore yang hangat.
“Sore, Brin?”
Itu suara Kenes, lembut dan kalem, namun mataku malah tertuju ke arah cowok yang tengah mengedarkan pandangannya itu. Aku menggeleng lemah. Tanpa menjawab pertanyaan tidak penting itu aku segera masuk. Aku tidak peduli apabila Kenes menganggapku sombong. Aku hanya tidak ingin terlalu dekat dengan siapa pun. Tidak benar-benar menganggap ikatan persahabatan itu ada lalu pada akhirnya terluka.
Kenes
Aku percaya ada jutaan rahasia di dunia ini. Aku juga yakin, apabila setiap orang memiliki sesuatu hal yang sengaja disembunyikan dan dijaga rapat-rapat agar tidak terlihat oleh orang lain. Hal itu juga yang kusadari ada pada diri Shabrina.
Dia tipe orang yang kaku dan serius. Bahkan aku tidak pernah melihatnya sekali pun mengulas senyum. Diam-diam aku mengagumi bagaimana dia tekun berlatih, sering datang lebih awal, dan selalu tanpa celah saat menari. Tapi, di Sabtu yang gigil aku melihatnya mengintip di depan pintu ruang balerino. Saat itu wajahnya tampak muram. Setahuku di ruang balerino hanya ada Banyu dan tiga danseur yang masih junior. Aku tidak tahu persisnya, karena setelah itu Shabrina berjalan menjauh dengan wajah menunduk.
Aku menghela napas kasar, mengusir pikiran itu jauh-jauh dan kembali berlatih. Miss Liza seperti biasanya memberikan arahan-arahan pada kami tentang bagaimana menari yang baik dan benar.
“Shabrina …, ada telepon dari pihak rumah, katanya mamamu masuk rumah sakit.”
Aku mendengar suara lirih itu dari Miss Liza, pandanganku menoleh sejenak pada cewek yang tampak tak acuh dengan kabar barusan. Mataku mengernyit, menangkap ada sesuatu yang ganjil pada diri Shabrina. Pada sorot matanya.
Shabrina
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain menari dengan lebih keras. Tidak peduli apa yang barusan Miss Liza katakan. Aku hanya perlu menganggapnya seperti angin lalu. Itu saja.
Bagiku mama sakit atau pun tidak, hal itu tidak pernah berdampak apapun pada diri ini. Aku biasa bangun sendiri, tidak seperti Bianca yang dibangunkan mamanya lewat kecupan di kening, atau diantar jemput setiap hari seperti Naila. Tiba-tiba mendapat kejutan bekal makanan yang berganti karena mama jago masak seperti Faye. Aku tidak menemukan itu semua pada diri mama.
Lalu, kenapa aku harus merasa takut ketika mama berada di rumah sakit?
“Mamamu membutuhkanmu, Brin.”
Aku berbalik. Menemukan Kenes berdiri di depanku. Mataku mengerjap tidak mengerti maksudnya. “Kamu menguping?”
“Maafkan aku, tapi kamu harus pergi.”
Aku ingin tertawa, apa pedulinya? Dan aku cukup terkejut dengan reaksi Kenes yang menggenggam pergelangan tanganku, erat.
“Kamu harus pergi, Brin,” kata Kenes dengan wajah menunduk.
Aku membuang napas. “Apa pedulimu? Ini bahkan tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Ini urusanku! Terserah aku mau pergi atau tidak dan aku harap kamu melepaskan tanganmu itu jauh-jauh dariku!”
Aku tidak peduli pada beberapa teman yang berhenti berlatih dan menatap ke arah kami dengan suara kasak-kusuk. Padanganku justru teralih ke arah pintu. Pada sosok yang berdiri di sana tanpa menatapku. Dan dadaku mendadak sesak dengan apa yang di katakannya.
“Karena kita sahabat. Karena kita peduli denganmu.”
Sejak kapan dia berdiri di sana?
“Karena aku menyayangi bunda.” Kenes mengangkat kepala dan menatapku, lalu diikuti senyum samar. “Bunda yang sudah pergi meninggalkanku. Bunda yang rela melakukan apa saja untukku. Anaknya, anak yang selalu dicintainya.”
Aku memundurkan satu langkah, diikuti satu langkah lagi yang kian gusar. Menggigit bibir kuat-kuat dan aku tidak tahu kenapa mendadak ada yang menggenang di kelopak mataku. Dadaku kini benar-benar terasa penuh. Aku melepaskan tangan Kenes dan berbalik, menangkupkan wajah dalam-dalam. Ada yang jatuh dan aku tidak ingin orang-orang melihatku menangis. Melihatku dalam kondisi rapuh. Aku cewek yang kuat!
Sosok mama muncul dengan cepat di kepala. Senyum yang kian retak setiap kali menatapku, wajah lelah dengan punggung yang menyimpan kesedihan. Apa mama bahagia? Apa benar ucapan Kenes barusan, apabila mama bekerja keras untuk anaknya. Untukku? Mendadak aku takut kehilangan mama, serupa ketakutanku ketika papa meninggal karena kecelakaan.
“Kita bisa pergi ke rumah sakit sama-sama.”
Aku seolah terhipnotis dan mengangguk begitu saja mendengar ucapan Kenes barusan.
***
Aku kembali memandang mama yang tengah tertidur pulas. Tadi, mama hanya mengatakan, “Tidak apa-apa, hanya darah rendah biasa.”
Mataku kembali menatap langit-langit kamar sambil mengusap punggung tangan mama.
Adalah dia yang seringkali membuatku merasa bersalah tiap kali bertemu. Pada cowok tinggi kurus dan ingatan di masa SMP saat kami berada dalam satu sekolah. Aku menyukainya. Namun, dia terlalu cuek bahkan untuk membalas surat-surat yang kuselipkan di tasnya. Aku tidak berani atau mungkin terlalu gugup menyapanya lewat media sosial, dan aku yakin dia berbeda. Dia spesial.
Sayangnya hal itu tidak berjalan baik ketika aku bercerita pada teman sebangku. Tentang semua yang kutahu akan cowok itu. Pada jam istirahat di kantin temanku mendatanginya, lalu semua yang kuanggap rahasia diumbar begitu saja. Tentang perasaanku, juga dia yang menari balet. Hingga beberapa semester sebelum lulus, aku melihatnya lebih suka menyendiri di perpustakaan dengan earphone menyumpal di telinga. Dia seakan tidak peduli pada ucapan-ucapan miring mengenai balet dan dirinya. Sejak saat itulah aku merasa takut menyapanya.
Kabar yang kudengar, dia akan kuliah di luar kota setelah lulus. Aku hanya tidak tahu, di waktu yang mana aku minta maaf. Di waktu yang mana pula aku bisa bertemu dengannya lagi?
Kenes
Kini, aku mulai paham tentang cewek yang pernah diceritakan Banyu padaku. Aku tersenyum tiap kali melihat Banyu menggaruk belakang kepala saat aku menyebut nama Shabrina. Rahasia tentang cewek yang disukainya. Dan sosok itu datang terlambat sore ini.
“Mungkin kalian sudah mendengar kabar ini sejak beberapa bulan lalu,” Miss Liza menatap ke arah kami dengan mimik muka cerah. “Pementasan balet besar bersama akademi-akademi balet lain di Jogja sebulan lagi.”
Shabrina duduk tak jauh dari tempatku.
“Untuk pentas yang besar Miss dan pelatih lain di sini sudah sepakat untuk mengangkat swan lake dance. Ada yang punya ide cerita lain? Tidak ada? Baiklah, untuk danseur yang cukup berpengalaman, Miss menunjuk Banyu sebagai Pangeran Siegfried dan Odette Miss percayakan pada—”
Aku menahan napas berharap yang ditunjuk sebagai Odette adalah aku. Mimpi yang akan segera terwujud. Namun, beberapa pasang mata justru membisikkan nama Shabrina.
“Kenes.”
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, masih tidak percaya mendengarnya. Banyu menyenggol pundakku sambil mengucapkan selamat, tapi tak lama ada suara dari arah—Shabrina?
“Ke …, kenapa dia? Kenapa bukan aku, Miss?”
Miss tersenyum. “Karena Kenes layak, pantas, dan menguasai semua. Miss sudah menduga kamu akan protes. Tapi sejauh mana kamu tahu tentang balet? Apa kamu cinta? Apakah kamu tahu di negara mana balet pertama kali dipentaskan? Apa kamu juga tahu, pada tahun 1890 Petipa dengan iringan musik tchaikovsky mementaskan cerita mengenai apa?”
Tidak ada jawaban dari Shabrina.
“Kenes, apa kamu tahu?”
Aku menunduk lalu menjawabnya sedikit ragu, “The sleeping beauty, Miss.”
Tak lama aku melihat Shabrina bangkit dan sebelum pergi dia berkata, “Miss tidak adil!”
Shabrina
Langkahku terhenti dengan air mata yang tidak bisa kucegah. Pementasan itu adalah hal yang kuinginkan jauh-jauh hari, aku bahkan berlatih dengan cukup keras. Lalu, kenapa bukan aku? Kenapa Kenes yang tampak pucat dan lemah itu yang dipilih? Kenapa dia yang datang tidak rutin mendapat posisi spesial dibanding aku?
Aku tidak berani menoleh saat mendengar langkah kaki yang cukup familer.
“Masih ada pementasan besar itu dua tahun lagi.”
Aku menggeleng. Dan tidak bersamamu? Pertanyaan yang begitu menyakitkan ketika aku sadar dua tahun lagi dia tidak berada di sini.
Aku menarik napas yang terasa berat lantas memejamkan mata. Banyu …, “Aksara.” Aku bersyukur dapat menyebut nama belakangnya dengan cukup jelas. “Maafkan aku.”
“Kamu tidak salah. Kamu hanya berada pada situasi yang tidak menguntungkan, dan ketika itu kita masih terlalu kecil membahas tentang cinta.”
Aku mengangguk, berusaha keras menyembunyikan isak yang kian tak tertahan. Aku hanya berharap dia mengerti, sampai detik ini aku masih menyukainya.
Kenes
Aku tidak pernah bosan setiap kali bunda bercerita tentang kisah seorang putri yang dikutuk oleh penyihir jahat menjadi angsa. Akan ada saat bahagia, akan ada pangeran tampan yang setia menjaganya. Bunda selalu seperti itu, membacakan dongeng sambil mengusap kepalaku menjelang tidur.
Aku menghela napas kasar. Kenangan itu nyatanya masih terekam jelas dalam ingatan. Aku menoleh begitu mendengar suara langkah kaki.
“Minumlah …, udara malam ini cukup dingin.”
Aku menerima mug berisi susu hangat dari tangan ayah, lantas meneguknya sedikit. Kami sama-sama diam di atap sambil menatap langit, di mana ribuan bintang mulai menyapa dalam hening.
“Apa ayah takut?”
Beliau menoleh, lalu menggeleng. “Kenapa harus takut?”
“Wajah ayah tampak sedih.” Aku berkata jujur dan kembali meneguk susu hangat.
Ayah tertawa, tapi aku menangkap tawa yang hambar. “Swan lake dance?”
“Miss memilihku menjadi Odette, tapi aku tidak yakin ayah.”
“Ibumu pernah menjadi angsa cantik dalam pementasan balet. Dan ayah ingin melihatmu juga di pementasan tahun ini. Bukankah kamu menginginkan momen itu sejak lama?”
“Ah itu ….” Aku menatap ayah sambil mengulum senyum. Ada teman yang juga menginginkan posisi itu, Ayah, aku harus bagaimana? Sayangnya aku malah berkata, “Malam ini aku ingin tidur di kamar bunda.”
Setelah yakin tidak ada yang diobrolkan lagi aku memutuskan bangkit. Meninggalkan ayah sendiri dan berharap menemukan buku dongeng atau buku bagus lainnya di kamar bunda.
Shabrina
Mungkin benar, aku belum mencintai balet dengan sepenuh hati, penuh rasa seperti Kenes. Aku tidak tahu banyak tentang balet kecuali teknik dan cowok itu. Kata-kata Miss Liza aku cerna pelan-pelan sepanjang malam hingga pagi ini aku sudah menemukan jawabannya. Datang ke ruang Miss Liza di saat semua belum datang. Pula, karena Kenes tidak pernah hadir di hari Minggu.
“Saya sudah memutuskan untuk bergabung di corps de ballet bersama yang lain, Miss.”
“Penari kelompok?” Miss tampak tak acuh dan membolak-balik kertas. Nada suaranya seolah menyindir.
Aku mengangguk. Lalu Miss meletakkan kertasnya itu di atas meja dan menatapku sungguh-sungguh.
“Pagi ini Kenes datang menawarkan konsep a folk tale, yang dipopulerkan tahun 1854 oleh koreografer Bournonville,” Aku mengerjap mendengarnya. “Iringan musik Gade dan Hardman yang romantis dengan konfigurasi solo dancer, pas de deux dan corps de ballet. Artinya kamu bisa ikut menari bersama Kenes, satu balerino, juga penari kelompok yang lain.”
Mataku mengerjap untuk kesekian kalinya. Tidak percaya, Kenes melakukannya?
“Dia bilang tidak ingin melihat sahabatnya bersedih, satu-satunya sahabat cewek yang mengajarkannya kerja keras serta ketekunan berlatih. Karena kita sahabat, Miss. Dia berkata seperti itu tadi dengan wajah memohon. Saat itulah miss berpikir dan mempertimbangkannya. Kenes begitu bersemangat meski terkena gagal ginjal di usia yang sangat muda. Dia harus cuci darah seminggu dua kali dan itu sebabnya miss mengagumi anak itu. Dia ingin seperti bundanya yang menari di sebuah pementasan besar. Dream come true.”
Aku menunduk dalam-dalam, tidak tahu apa yang harus kulakukan selain menahan air mataku agar tidak jatuh. Jujur, tanganku gemetar saat ini. Jadi itu sebabnya kenapa dia jarang datang? Kenes begitu baik padaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jarum-jarum itu melukai tubuhnya setiap kali cuci darah. Dia yang masih bisa tersenyum ketika sakit. Menawarkan arti ketulusan lewat tangan-tangan yang terulur padaku.
Aku merasakan ada yang mengalir hangat di dada ini. Hal yang sebenarnya aku benci untuk mengakuinya. Sesuatu yang baru kali aku benar-benar merasakannya. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih pada Kenes setelah ini. Aku menyebutnya …, sahabat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s