RESENSI, DIMUAT DI PERADA KORAN JAKARTA. Kamis, 25 Februari 2016.


Ini merupakan tulisan pertama saya yang dimuat media tahun 2016 dan resensi ke-5 setelah setahun kemarin tidak satu pun yang berhasil tembus media satu ini. 🙂

Mulanya saya sedikit pesimis dan merasa kurang yakin jika akan dimuat, tapi cukup kaget juga saat dapat kabar dari Mas Untung Wahyudi jika resensi ini tampil. Hihi. Rasanya seperti merasakan senang yang luar biasa–jika tidak ingin disebut lebay–setelah lama tidak menulis. Ini merupakan angin segar bagi saya pribadi dan semoga menjadi jalan untuk karya-karya selanjutnya. Mulai menulis kembali di tengah menyelesaikan tugas akhir kuliah.

XD Pembukaannya kepanjangan ya, berikut versi asli resensi saya karena ada bagian yang diedit oleh redakturnya.

Ada yang bertanya, apakah ada honornya jika dimuat? Ada, 285 ribu. Menurut saya cukup besar mengingat jumlah halaman yang hanya 2-3 halaman spasi 1.5, peluangnya pun besar mengingat tayang setiap hari kecuali Minggu. 🙂 Selamat mencoba ya.

KISAH CINTA DALAM BALUTAN BUDAYA TIONGHOA

 

Judul  : Satu Kisah yang Tak Terucap

Penulis  : Guntur Alam

Penerbit : GagasMedia

Terbit  : Februari 2016

Tebal  : 241 halaman

ISBN  : 978-979-780-855-6

 

Seperti yang kita ketahui, apabila beberapa minggu lalu umat Tionghoa tengah merayakan hari raya imlek. Pun tidak lepas dari itu, dalam kebudayaan Tioghoa sendiri—khususnya di Pulau Kemaro—ada sebuah legenda tentang Puteri Melayu dan Pangeran Negeri Tionghoa.

Seorang pangeran di negeri Tiongkok itu bernama Tan Bun An mendengar legenda tentang kecantikan Putri Siti Fatimah. Dia penasaran dan ingin menyuntingnya menjadi istri. (hal. 19)

Legenda itu pula yang mengantarkan Lee pulang ke kampung halamannya di Palembang, selain masalah perjodohan yang direncakan Oma Liem. Lee sendiri dijodohkan dengan Ratna, sahabat semasa dia kecil. Lee menerima perjodohan tersebut, sayangnya Ratna justru sebaliknya.

“Aku nggak pernah bilang setuju dengan perjodohan ini. Nggak pernah bilang juga mau mencobanya.” Dada Ratna rasanya akan meledak. Ada yang sakit. Sakit sekali di ulu hatinya. “Asal Koko tahu, aku mengenakan cheongsam dan berdandan bukan untuk menyambut Koko, melainkan karena aku menghormati Oma Liem.” (hal. 44)

Ratna bekerja di restoran pempek milik Oma Liem sebagai manajer. Sebenarnya ada alasan yang cukup kuat kenapa dia tidak menyutujui perjodohan tersebut. Alasan yang dirahasiakan Ratna sejak dulu, hingga membuat hubungannya dengan beberapa pria berakhir tidak menyenangkan.

Tidak hanya Ratna, Lee pun sama. Tiga tahun lalu hubungannya dengan Michel berakhir tidak menyenangkan. Kekasihnya ketahuan selingkuh, bahkan di depan matanya sendiri.

Hubungan keduanya semakin rumit ketika Samuel muncul. Apalagi saat Samuel mengajak Ratna mengajar di Kampung Kapitan.

“Mungkin, ini terdengar gila.” Lee menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Ratna duduk di sebelahnya. Diam. “Aku merasa cemburu saat tahu kamu pergi dengan Samuel.” (hal. 97)

Pada akhirnya setelah banyak peristiwa mereka lewati, Ratna pun mau menerima perjodohan tersebut. Walau setelah dia menceritakan rahasianya selama ini respon Lee sungguh di luar dugaannya.

Kenyataan jika Ratna tak sesuai harapannya membuat Lee kembali teringat dengan Michel. Lee tak bisa berkompromi dengan semua ini. (hal. 225)

Selain membahas tentang cinta antara Lee dan Ratna, novel ini juga menyuguhkan tentang beberapa hal menarik. Seperti pergantian nama yang dijelaskan pada halaman 15. Mereka pun hanya menggunakan nama Tionghoa di dalam rumah atau lingkungan saja. Di luar itu, nama Indonesia-lah yang harus dikenalkan. Tak heran, beberapa nama pun diubah, seperti Tan menjadi Tanuwijaya atau Tanujaya. Han menjadi Handoyo atau Handoko, Wie menjadi Widaya, Sue menjadi Sucipto dan sebagainya.

Juga disebutkan beberapa upacara, salah satunya adalah Chiung Si Ku atau sebuah upacara memanggil hantu. Di halaman 11 dijelaskan, apabila Ratna harus memegang tampah dan Lee membakar nyuko sebagai persembahan untuk roh yang dipanggil. Hal ini menarik karena menambah pengetahuan tentang budaya Tionghoa lebih dalam. Pun, tentang betapa beragamnya budaya yang ada di Indonesia.

 

versi online:

http://www.koran-jakarta.com/kisah-cinta-berbalut-budaya-tionghoa/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s