Bagian 1: Janji Bunga Matahari


28301-Single-Sunflower

Salah satu cerita dalam buku Kenangan adalah novelet Janji Bunga Matahari. Buku ini rencana terbit dalam waktu dekat.

Berikut saya posting sedikit nukilan dalam novelet tersebut. 🙂 Ada sepuluh bagian, dan yang saya posting ini merupakan bagian awalnya. Selamat membaca. ^_^

Musim semi dan sakura.

Ini adalah tahun pertama Tomomi Kawaguchi tercatat sebagai siswa di Koishitai Gakuen. Dia berjalan dengan senang karena akhirnya bisa memakai blazer berwarna abu-abu dengan rok kotak-kotak sedikit gelap dan dasi kupu-kupu, seifuku khas Koishitai Gakuen. Matanya mengerjap beberapa kali menyaksikan bunga-bunga sakura yang berwarna merah muda itu terbang tertiup angin lalu jatuh ke tanah.

Awal yang baik, batin Tomomi yakin.

Alasan Tomomi memilih Koishitai Gakuen, yang terletak tak jauh dari JR Narita-line Stasiun Namegawa, tak lain karena dia ingin hidup mandiri di sini bersama nenek—jauh dari tempat tinggalnya di Kyoto—dan merencanakan banyak hal, mulai dari kerja paruh waktu serta bisa melihat kebun bunga matahari Yume Bokujo sewaktu-waktu di Nagi, Chiba. Juga satu alasan yang tidak ingin dia ceritakan pada siapa pun.

Tomomi justru merasa beruntung saat Haruna bercerita ingin melanjutkan di sekolah yang sama dengannya. Meski di sekolah lama mereka tidak begitu akrab, karena tidak pernah berada dalam satu kelas, tapi ketika sudah mengenal Haruna, Tomomi semakin percaya apabila dia teman yang menyenangkan. Namun alasan Haruna memilih Koishitai Gakuen membuat Tomomi mengernyit seraya tertawa sambil membungkam mulut. Haruna ingin mengejar cinta pertamanya di SMA tersebut.

Siapa cinta pertamamu itu Haruna-San? Apa dia sangat tampan?”

Haruna mengangguk dalam-dalam. “Nanti kau akan tahu sendiri bagaimana dia. Dia senior di klub basket Koishitai Gakuen. Jika kita sudah masuk sekolah nanti, akan kuceritakan padamu lebih banyak tentangnya.”

Saat berjalan melewati deretan pertokoan Tomomi berhenti sejenak. Tak jauh dari tempatnya berdiri dia melihat seorang pemuda diusir dari kedai ramen. Matanya lalu membulat saat seorang bibi berambut keriting yang mengenakan celemek bermotif daun momiji menyiram pemuda itu. Rambut serta kemeja biru yang dipakai pemuda itu pun basah seketika.

… pergi dan jangan pernah datang ke sini lagi!” ucap si bibi sambil mengacung-acungkan tangannya. Sebuah tas berbahan parasut dilempar tak lama kemudian. Namun karena tidak tertutup rapat, beberapa benda dalam tas itu tercecer ke tanah.

Beberapa orang di sekitar seakan tidak peduli dengan pemandangan itu dan terus berjalan. Tapi berbeda hal dengan Tomomi. Dia masih terpaku dengan bibir terbuka. Sebuah benda yang mengelinding di dekat sepatu miliknya, membuat Tomomi tersadar karena benda itu mengeluarkan bunyi cukup nyaring. Tomomi berjongkok, kemudian lekas memungut gantungan kunci berbentuk lonceng.

Saat akan berdiri dan berniat mengembalikan gantungan kunci tersebut, Tomomi melihat pemuda berpenampilan berantakan tadi sudah memungut tasnya dan berlari pergi.

Hei, Kakak, milik—” mu?

Tomomi menghela napas kasar dengan punggung sedikit merosot. Gadis berkucir kuda dengan tatanan poni menutupi alis itu hanya tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Yang Tomomi ingat rambut kakak tadi sedikit panjang hingga dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, terlebih dengan posisi memunggunginya.

Pandangan Tomomi turun melihat uwabaki barunya sedikit kotor karena ikut terciprat air tadi, lalu tanpa berpikir panjang dimasukkannya gantungan kunci itu ke saku blazer. Hari pertama sekolah, tentu Tomomi tidak boleh terlambat.

Dalam pembagian bangku, Tomomi dan Haruna harus berlega hati karena berpisah. Tapi mereka berada di deretan yang sama, yaitu bangku di dekat jendela. Jika mereka berdiri dan melihat ke arah jendela, mereka akan mendapati pemandangan dahan-dahan dari pohon plum yang tengah berbunga, dan yang paling disukai Haruna adalah lapangan basket Koishitai Gakuen yang tampak begitu jelas dari lantai dua, tempatnya berdiri saat ini.

Aku bisa melihat Makoto-senpai dari sini sepanjang waktu ….”

Makoto Miura, nama lengkap yang masih diingat Tomomi saat dirinya dan Haruna tengah menyerahkan berkas di Koishitai Gakuen beberapa bulan lalu. Ketika itu yang dibicarakan Haruna tidak jauh-jauh dari topik tentang keinginan menjadi manajer klub basket tahun ini dan bertemu dengan cinta pertamanya.

Pipi Haruna memerah tiap kali membicarakan Miura. Helaan napasnya membuat kaca jendela sedikit berembun. “Waktu kecil dulu aku dan Makoto-Senpai satu sekolah. Dia senior yang baik hati dan menyenangkan. Kau tahu Tomo-chan, di rumahnya dia memelihara seekor anjing pudel bernama Miku yang sering diajaknya bermain di lapangan, di dekat rumahku.”

Tomomi menoleh ke samping. Di jam istirahat hanya ada mereka berdua dengan bekal yang sudah habis. “Tapi bagaimana bisa kau begitu menyukainya? Dan, cinta pertama …”

“Tomo-chan kau sungguh tidak sabaran.” Kali ini Haruna terkikik geli. “Karena dia pernah memberiku lolipop.”

Mata Tomomi membulat, “Hanya karena itu?”

“Hanya itu bagaimana Tomo-chan? Itu permen spesial karena Makoto-Senpai memberikannya padaku saat sedang menangis. Hanya saja beberapa hari setelah itu dia pindah sekolah. Miku pun ikut dengannya.”

Tomomi hanya bisa tersenyum karena tidak mengerti dengan konsep cinta pertama yang diceritakan Haruna padanya. Tapi dia merasa senang karena Haruna mau membagi hal itu dengannya.

Yang sekarang menjadi pertanyaan Tomomi seperti apa Miura saat ini? Setelah delapan tahun Haruna tidak bertemu dengannya, apakah dia tetap menjadi sosok yang menyenangkan? Atau hal yang sedikit tidak mengenakkan, Miura lupa pada gadis kecil yang menangis dan kembali ceria berkat permen lolipop yang diberikannya kala itu.

Tomomi tidak tahu, dia hanya melihat ada kesungguhan di mata Haruna. Hanya itu.

Sorenya, sehabis membantu nenek membuat kue beras Tomomi teringat pada gantungan kunci milik kakak berambut cokelat tadi.

Diambilnya gantungan kunci itu dari saku blazer yang tergantung di dekat rak buku. Bentuk lonceng itu seperti pada umumnya dan berwarna oranye. Yang membuatnya unik karena ada satu tulisan hiragana yang berarti haru. Musim semi.

Tomomi pikir gantungan kunci di tangannya itu lucu, dan tidak ada salahnya jika dia menambahkannya sebagai hiasan tas.

Jika suatu hari nanti gantungan kunci bernama haru itu dicari pemiliknya dan Tomomi berniat mengembalikan, dia hanya ingin bertanya satu hal; apa barang ini sudah tidak berarti lagi bagi kakak?

Jika tidak sedang membicarakan Miura, Tomomi paham betul arah pembicaraan Haruna kali ini akan dibawa ke mana. Selepas jam pelajaran kedua, mereka duduk di bawah pohon plum sambil membaca buku tentang jenis-jenis serangga.

“Aku memutuskan mendaftar sebagai manajer klub basket.”

Tomomi menurunkan bacaannya. “Dan, kau akan bersaing dengan dua orang yang lain?”

Tomomi tahu jika ada Naomi-san, teman sekelasnya yang ikut mendaftar, serta Raishu-san dari kelas lain.

Haruna mengangguk. “Ya, aku akan bekerja keras.”

Tomomi tentu senang mendengarnya. “Kau sudah bertemu dengan Makoto-senpai?”

Haruna menggeleng dengan malas. Dia menutup bukunya. “Beberapa hari lalu aku mengecek akun facebooknya, dia memosting status sedikit sedih. Kata kakak senior yang lain Makoto-senpai masih sakit. Dia baru masuk tiga hari lagi.”

Dengan helaan napas pelan Haruna melanjutkan, “Aku sangat berharap Makoto-senpai masih mengingatku. Aku juga berharap bisa mendapatkan dai-ni—kancing kedua—dari kemeja miliknya.”

“Kancing kedua? Maksudmu …”

Haruna melotot. “Kau pura-pura tidak tahu atau sungguh tidak tahu? Kancing kedua dari atas Tomo-chan. Kancing yang paling dekat dengan hati. Itu artinya Makoto-senpai telah memberikan perasaannya padaku.”

Mendengar cerita Haruna, diam-diam Tomomi juga ingin merasakan rasanya jatuh cinta. Tomomi pernah jatuh cinta pada tahun terakhirnya kemarin di SMP pada seorang siswa dari Senarai Gakuen, Kyoto. Tapi, dia harus patah hati terlebih dulu sebelum menyatakan perasaannya ketika mengetahui kenyataan pahit itu.

Tomomi menatap bukunya kembali. Lalu, apakah satu alasan kepindahannya ke sini bisa memperbaiki semuanya? Gantungan kunci di tas Tomomi bergemerincing tertiup angin.

Beberapa wajah yang saya bayangkan saat menulis novelet ini. Namun, saya percaya kamu punya bayangan sendiri untuk setiap tokohnya. ^_^

KimiNiTodokeLiveAction-1

capture-20150930-150911

superthumb

tumblr_mhc1kgfYkZ1qj00j8o1_500_zpsf229088f

7c92241f95c0e6dfdc5afa7e7c435d6f

Shota-Sometani-600

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s