Cerpen: AROMA DAPUR DAN CERITA LAMA TENTANG KITA


    Dan kini, rindu itu kian pekat. Sepekat rasa yang tengah melayang-layang di kepala Mahoni saat ini. Dapur. Entah mengapa kata itu yang pertama kali muncul setelah dia dinyatakan sembuh dan boleh pulang oleh dokter semalam. Dia merindukan perpaduan aroma terasi, cabai, bawang, juga tomat segar dari cobeknya. Pun, suara air mendidih serta rempah-rempah yang sudah lama tidak mendarat di lidah semenjak demam berdarah menyerang tubuhnya.
Dapur membuatnya nyaman. Setidaknya demikian yang dirasakan Mahoni begitu menginjakkan kaki di ruangan bernuansa krem itu. Tangannya menyentuh kompor yang sedikit berdebu, meraba lemari kabinet, dan merasakan sejuknya aroma sayur serta buah-buahan begitu kulkas dibuka. Aroma dapur yang menentramkan. Dapur mengingatkannya pada Ibu juga memori-memori di masa silam.
Masakan buatan Ibu yang dinantikan Mahoni hanyalah perkedel kentang. Ya, sederhana. Entah mantra apa yang dimasukkan Ibu sehingga ketika menggigit renyahnya balutan telur, lalu gurih perpaduan antara merica, bawang, serta irisan seledri yang menyatu dalam lembut kentang yang ditumbuk kasar itu menyisakan kesan tersendiri. Rumah. Dan, dia ingin membuatnya pagi ini bersama sop ceker, juga bonus secobek sambal tomat pedas. Dia hanya ingin mengenang Ibu yang sudah meninggal dengan memasak.
Mahoni berulang kali menghela napas. Dia sengaja tidak membuka jendela, aroma masakan itu ingin dia hirup sendirian kali ini. Akan selalu ada yang menyisakan piring kotor juga bonus membantu mengerjakan PR. Ingatan itu mengental kuat dalam benak Mahoni.
“Jangan pernah bilang soal ini pada Ibu, kamu janji?”
Mahoni versi kecil selalu mengangguk dengan apa yang dikatakan dan diinginkan kakaknya, Yuniar. Mahoni tidak begitu pandai, berbanding terbalik dengan Yuniar yang selalu juara kelas. Pula, ada sepercik iri akan kecantikan Ibu yang diturunkan utuh pada kakaknya.
“Apa kamu tidak sadar apabila sepasang mata dengan alis tebal milikmu itu begitu indah?”
Mendadak pipi Mahoni menghangat, disingkirkannya sejenak kalimat itu jauh-jauh. Dia lantas melangkah menuju kompor, memasukkan ceker ayam yang telah dicucinya tadi ke dalam panci. Begitu air mendidih ditiriskannya ceker ayam itu. Kemudian, Mahoni memasak air yang baru dengan memasukkan potongan kentang, wortel, dan ceker ayam kembali hingga empuk.
Mahoni baru akan memasukkan potongan tomat dan seledri, namun urung begitu mendengar suara pantofel mengetuk lantai keramik. Dia menoleh. Menemukan pria dengan kemeja ungu yang seakan ikut terkejut dengan memaksakan sepasang mata sipit itu terbuka lebih lebar. Sejenak jantung Mahoni terasa berkedut hebat. Jati.
Mahoni membatin, dari mana dia tahu rumahku? Jelas, dia tidak ingin menunjukkan keterkejutannya itu secara gamblang.
“Maaf pintumu terbuka,” kata pria itu sambil menunjuk ke arah kanan tubuhnya. “Aku takut ada pencuri karena beberapa kali memanggil namamu tidak ada jawaban.”
Mahoni mengenyahkan kalimat itu, dia kembali fokus pada masakannya. Tinggal memasukkan garam, lada, gula, dan masakan itu akan sempurna.
“Ada yang bisa kubantu?”
Mahoni melirik ke arah Jati yang menggulung lengan bajunya. Jam tangan itu masih sama. Pun, harum wood yang segera tertangkap hidung Mahoni, dan itu serupa racun baginya.
“Tidak ada yang bisa diandalkan dari dapur kecil saya ini untuk chef restoran besar seperti kamu.”
Jati cukup terkejut, namun dia tanggapi dengan seulas senyum. Ditatapnya wanita dengan rambut keriting dan kulit kuning langsat itu lekat-lekat. Tidak ada yang berubah, Mahoni masih sama hanya tampak sedikit pucat. Jati sengaja menggulung lengan bajunya agar Mahoni bisa melihat jam tangan pemberiannya dulu masih setia melingkar di pergelangan tangan Jati.
“Sudah dua tahun kamu tidak ada kabar, pergi begitu saja, dan ternyata rumahmu tidak jauh dari restoran baruku.” Jati tertawa pendek. “Aku tidak sengaja melihatmu pulang kerja lalu membuntuti. Untuk pertama kalinya aku mengamini apabila dunia itu memang sempit.”
Mahoni mematikan kompor. Dia tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Meski membuat sambal di cobek akan menetralkan suasana hatinya, tapi dia ingat pesan Ibu apabila dalam mengulek sekalipun harus ada cinta, bukan emosi untuk lekas membuat bumbu itu tertumbuk menjadi halus. “Karena perasaan seseorang yang memasak akan sampai pada lidah yang merasakan masakanmu Mahoni ….”
Dua tahun lalu saat Ibu meninggal Mahoni memang pulang ke Jakarta. Setelahnya dia memutuskan meninggalkan Yuniar dengan pergi ke Malang karena segalanya sudah jelas, apabila dirinya memang sudah tidak memiliki apapun untuk membuatnya tetap tinggal. Malang menjanjikan sebuah pekerjaan di sebuah bank swasta juga rumah baru untuknya.
“Aku bisa menguleknya.”
Mahoni mengangkat wajah. Mencoba menghalangi niat pria dengan punggung bidang dan pinggang ramping itu, namun sepertinya sia-sia karena tak lama terdengar nada menumbuk.
“Masih menyukai makanan pedas?” tanya Jati memunggungi Mahoni. “Harusnya seorang yang memiliki riwayat maag sepertimu menghindari hal ini.”
Aku mohon berhentilah berbicara. Mahoni menggigit bibir kuat-kuat. Lidahnya terasa kelu, bahkan untuk mengatakan apa pun. Diam adalah pilihan terbaik untuknya tanpa memperkeruh apa yang sudah terjadi.
“Aku kangen makan perkedel kentang buatanmu, makanan itu mengingatkanku pada rasa yang sama dengan yang dibuat Ibumu. Makanan yang sama-sama pernah membuat kita—”
“Pergilah …,” kata itu akhirnya muncul tak lama setelah Mahoni merasa cukup lelah.
Jati berbalik. Mencoba mencari sesuatu dari mimik datar Mahoni, sayangnya untuk kali ini dia tidak bisa membacanya.
“Saya minta dari sekarang kamu berhenti datang ke sini,” lanjut Mahoni dengan nada tenang.
Jati membuka bibir. “Kenapa?”
“Karena kita sudah selesai.”
Hening. Mahoni meremas ujung celemeknya dengan gusar. Dia benci melihat tatapan Jati yang seperti itu. Seolah ada linang yang minta dihapus, lalu tubuh yang memohon untuk dipeluk. Pria yang rapuh.
Mahoni mengetahui lengkap kisah Jati dari kecil hingga dewasa. Hingga mereka bertemu, dua nama pohon yang sama-sama berjanji untuk menjadi kuat bersama. Pria itu begitu mencintai sang Ibu, dan Mahoni mencintai pria yang pandai memasak seperti Ibunya. Seolah menemukan dua wajah berbeda dalam satu nyawa serta napas yang sama. Sayangnya itu sudah berakhir semenjak Yuniar menyukai pria yang sama dengannya.
Jati mengangguk. Ada banyak kalimat yang bergumul, namun rasanya sulit mengeluarkannya satu patah kata pun.
Mahoni menarik napas dalam-dalam. “Kita memiliki jalan yang tidak lagi searah seperti dulu. Saya sudah memutuskan jalan saya sendiri dengan tidak menjadi orang ketiga dalam pernikahan kalian.”
Dan bukankah kalian bahagia? Mahoni dengan susah payah menahan rentetan pertanyaan aneh lainnya. Dia yakin, baik Jati maupunYuniar sudah hidup dalam lingkup keluarga yang bahagia meski belum juga dikarunia anak semenjak pernikahan dua setengah tahun silam. Lalu, kenapa sekarang dia begitu peduli akan kebahagiaan Jati?
“Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk ….” Tiba-tiba ada rasa yang menyesak di dada Mahoni. “Melupakan kenangan tentang kita.”
Jati menatap Mahoni tajam, namun dia tersenyum mengetahui kenyataan pahit itu. “Kenapa kamu seperti itu? Setelah apa yang pernah kita lalui bersama, lalu kamu memutuskan hubungan karena kakakmu itu? Kenapa selalu mengalah untuknya? Kenapa kamu tidak memikirkan kebahagiaanmu sendiri?”
Mahoni menelan ludah. Karena dengan Jati Yuniar jauh lebih tenang dan bersemangat. Sama seperti ketika Yuniar kecil, waktu bersama Bapak dulu. Bapak yang selalu memanjakan Yuniar hingga ketika meninggal—lalu menjadi satu keluarga yang sedikit kesusahan dalam hal ekonomi—Yuniar merasa dunianya tidak adil. Tapi, tangan Mahoni selalu terulur membantu kakaknya. Seperti pesan Bapak untuk selalu menjaga dan menyayangi Ibu serta kakanya. Mahoni menggenggam amanat itu dengan tulus.
“Bagaimana bisa kamu hidup seperti itu?” Jati sadar kalimatnya cukup kasar. “Kamu menyerahkan orang yang salah padaku. Kamu memilih jalan dengan meninggalkanku begitu saja. Kadang aku harus berhenti untuk menebak apakah benar kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Sekuat apa yang aku rasakan selama ini padamu.”
Sama. Perasaanku selalu sama. Mahoni tetap bungkam. Ada banyak penolakan dalam dirinya tentang apa yang diungkapkan Jati mengenainya.
“Lalu, aku dekat dengan kakakmu. Dia tidak terlalu buruk, tapi juga tidak sebaik dirimu. Dia cerewet. Dia penuntut. Dia mudah melontarkan kalimat pesimis tentang bunuh diri. Apakah kamu melihat aku bahagia?” Jati mendongak. Mengalihkan kontak mata dengan Mahoni. “Kamu tidak menarikku dalam sesuatu yang salah. Saat itu aku menyadari apabila kamu tidak benar-benar berjuang tentang hubungan kita. Aku juga sadar jika selama ini perasaanku salah. Aku merasa bersalah memaksamu bertahan menyukaiku. Maafkan aku.”
Tidak. Aku yang salah. Maafkan aku. Namun, Mahoni justru mengatakan, “Ya, kamu salah tentang perasaan kita.”
“Ya, tentu, aku lega mendengarnya.” Jati tersenyum kecut. “Mulai hari ini aku akan berusaha untuk melupakanmu seperti halnya dirimu. Kita sama-sama melepaskan. Tidak ada beban lagi.”
Walau jauh dalam lubuk hati Jati ada perasaan mengganjal begitu kuat. Pada suatu titik dia mencoba untuk berhenti. Berhenti untuk selalu mengejar dan berharap akan balasan lain tentang perjuangan bersama. Namun, hal itu tidak dia temukan pada diri Mahoni. Lalu, kenapa perasaan pria harus seperti ini ketika jatuh teramat dalam?
Jati meninggalkan ruangan itu tanpa berniat menoleh ke belakang. Dapur restorannya telah menunggu untuk mengalihkan perasaan kalut yang kian menyiksa.
Tangan Mahoni gemetar, dia segera memegang ujung nakas kuat-kuat. Napasnya sesak, tenggorokannya tercekat, dan bagaimana mungkin dia melupakan kenangan tentang mereka dulu? Bagaimana bisa dia berkata demikian? Suara pantofel yang kian menjauh itu layaknya suara pisau yang beradu dengan telenan, mengiris secara perlahan dan potongan itu tidak bisa utuh kembali.
Dia menyesali keputusan itu, tapi segalanya tidak akan pernah berubah. Maka, dia memutuskan menjauh karena dengan begitu segalanya akan menjadi lebih baik. Untuknya, juga untuk keluarga kecil Jati.
Mahoni menatap cobek dengan ulekan sambal tidak sempurna itu. Ditumbuk sangat kasar dan bahkan tidak merata. Lantas jarinya terulur mencoba mencicipi sambal buatan Jati, ada rasa yang kemudian dia kenal betul.
Rasa itu bernama kesepian.
Malang, 3 Mei 2015

newsmedia_11f_wanita_ditinggalin

Iklan

2 thoughts on “Cerpen: AROMA DAPUR DAN CERITA LAMA TENTANG KITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s