CERPEN: PAYUNG BERCORAK PELANGI


Kean berutang banyak pada pria pemilik payung bercorak pelangi. Payung yang menyelamatkannya dari hujan deras dan juga interview di sebuah toko kue sore itu. Toko kue yang kini menjadi tempat dia bekerja. Pun, payung itu pula yang kini membuatnya menunggu di depan Gedung Katedral hingga lonceng pukul tiga berdentang nyaring.

Ini adalah kali kedua Kean menunggu sebelum berangkat bekerja. Udara kota Malang sore ini cukup dingin dan dia lebih suka memasukkan tangannya ke saku jaket sambil mengembuskan napas. Matanya mengawasi satu persatu orang yang lewat. Dia masih ingat pria dengan sepasang mata cokelat itu memiliki potongan rambut rapi serta penampilan kasual. Kean hanya berharap bisa bertemu dengannya lagi dengan maksud mengembalikan payung dan mengucapkan terima kasih.

Sore itu saat Kean berteduh di depan Gedung Katedral, dia baru menyadari ada yang menyodorkan payung begitu saja di sampingnya. Mungkin pria itu menyadari kegusaran hati Kean yang beberapa kali bergumam sambil melihat jam di pergelangan tangan. Kakinya bahkan tak berhenti mengetuk lantai dengan gusar, sesekali dia mengutuki hujan yang tak kunjung reda. Pula, pakaian basah bukanlah pilihan yang baik baginya ketika itu.

Pria itu beraroma cendana dengan sedikit perpaduan samar bau cengkih. Sebelum Kean bertanya apa maksudnya, pria dengan bibir bawah penuh dan suara berat itu berkata, “Pakailah.”

Dalam beberapa detik Kean terpaku menatap pria berahang tegas dengan raut sendu yang tidak dia ketahui namanya itu. Namun pada akhirnya dia menerima uluran payung dan ketika akan mengucapkan terima kasih, pria dengan punggung bidang itu telah berlari menembus hujan dengan berpayungkan jaket dan dia tidak terlihat lagi setelahnya.

Kean menghela napas panjang, merapikan sejenak rambutnya, lantas berjalan menjauh. Sepertinya hari ini dia tidak cukup beruntung.

Hujan selalu membawa kisah tersendiri dalam ingatan Kean. Tentang gadis kecil yang menangis sambil memegangi perut karena lapar di tengah lebatnya hujan, dan juga bocah laki-laki yang membagi sekerat roti kismis padanya. Dua puluh tahun silam, namun ingatan itu justru semakin kekal dalam benak Kean.

“Hei, kamu ….”

Aroma manis dari toko kue itu menerbitkan liur dan juga tenggorokan yang kian tercekat karena terlalu sering menelan ludah. Gadis kecil dengan rambut lepek sepunggung itu masih mengamati orang-orang dari balik jendela toko kue yang seakan tak memedulikannya. Bercengkerama dalam tawa tak berkesudahan, sementara perempuan kecil itu tak henti-hentinya memegangi perut karena seharian belum makan. Buku tangannya memucat dengan bibir kebiruan dan gigil yang tak kunjung hilang.

“Hei, kamu ….”

Lagi-lagi suara itu terdengar. Suara bocah laki-laki. Gadis kecil itu enggan menoleh. Kean versi kecil tidak menyukai anak laki-laki. Laki-laki seperti ayahnya yang selalu bertindak kasar dan marah-marah, atau laki-laki seperti teman sekelasnya di SD yang suka membicarakan ayahnya, yang masuk penjara karena korupsi beberapa hari sebelumnya.

Lalu saat tangan itu menariknya, Kean baru berani menolehkan pandangan. Bocah laki-laki itu berbadan gemuk, namun tinggi. Perutnya yang buncit memantul-mantul saat berlari membuat Kean ingin tertawa.

“Apa yang kamu tertawakan?”

Kean menggeleng cepat-cepat. Dia mencoba melepaskan genggaman tangan itu.

“Kamu lapar? Aku ada banyak kue.”

Saat melihat senyum itu Kean baru menyadari ada sepasang mata cokelat yang indah, yang membuatnya buru-buru menggeleng, namun ternyata perutnya berkata lain. Bocah laki-laki itu tertawa, giginya hitam geripis. Lucu. Membuat matanya tenggelam di antara kedua pipi yang tembam. Dan, Kean tidak punya alasan lain selain menunggu bocah laki-laki itu kembali dari dapur.

“Kenapa hujan-hujan?”

Kean tidak menjawab, dikunyahnya roti itu cepat-cepat. Begitu tandas, dia baru menyadari apabila bocah laki-laki di sampingnya masih menunggu jawaban. Alisnya yang tebal terangkat dengan bibir terbuka.

“Tidak.” Hanya itu yang dikatakan Kean sambil menunduk dalam-dalam. Bayangan ayah muncul seketika, teringat saat beliau menghardiknya karena ketahuan bicara dengan pemulung di depan rumah dan memberinya uang. Ayah tidak suka Kean berbicara dengan orang asing.

“Ah, payah sekali. Aku ingin bermain bola seperti mereka. Tapi teman-teman bilang lariku sangat buruk.”

Saat mendengar itu Kean mendongak, mencari tahu subjek yang tengah dibicarakan. Mata Kean mengedar ke sekeliling, menyadari ada beberapa anak laki-laki bermain bola di tengah hujan sambil bertelanjang dada. Tawa mereka terdengar sumbang.

“Aku ….”

Kean menoleh. Mencoba mengenali raut sendu yang serupa mendung. Detik selanjutnya cerita demi cerita muncul. Bocah laki-laki itu bercerita apabila sering diejek teman-temannya dengan sebutan kuda nil atau gajah. Selalu menjadi pelari yang terakhir saat jam olahraga. Waktu mengerjakan tugas di depan kelas, tahu-tahu celananya sobek dan teman-temannya langsung tertawa.

“Mereka nggak tahu sih sakitnya ditertawakan dan diejek.”

Kean menggigit bibir, melihat kuku-kuku di jarinya sesaat. Dia tidak tahu harus berkata apa ketika itu selain menggenggam tangan anak laki-laki di sampingnya. Erat sekali, sampai dia ingin menangis. Ada cerita mengenai dirinya yang kemudian ikut muncul. Tentang ibu yang belakangan menjadi pemurung setelah kepergian ayah. Tidak membuat masakan hari ini dan sekelumit kepedihan menjadi tersingkir dari pergaulan. Teman-teman yang dulu selalu dekat, berbagi bekal, hilang begitu saja.

Begitu hujan reda mereka sama-sama berjanji untuk menjadi lebih baik setelah ini. Kean berjanji untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan bisa menghadapi semuanya. Anak laki-laki bernama Ben itu pun berjanji untuk tidak cengeng lagi dan sebuah keinginan kuat lain.

Kean baru akan beranjak pergi begitu mendengar pertanyaan, “Apa kita akan bertemu lagi?”

Kean menggeleng. “Aku akan pindah ke Surabaya besok. Hari ini ibu tampak sedih karena meninggalkan banyak hal di sini. Sejujurnya aku juga.”

Ada raut kecewa yang kentara dari air muka Ben. Tapi, dia ikut tersenyum karena Kean melempar senyum lebar padanya disertai lambaian tangan. Gaun bermotif bunga itu lenyap di belokan, dan entah kenapa Ben tidak rela Kean pergi.

Dalam kecipak air yang bertalu dengan kaki mungil Kean, ada janji agar di waktu mendatang dia bisa bekerja di toko kue. Dia juga akan mengenang nama itu. Ben, si gendut yang lucu dengan gigi hitam geripis.

Nyatanya kenangan itu manis. Melekat dan membumbungkan perasaan kuat dalam hati Kean. Keinginan semasa kecil untuk bekerja di toko kue ini terwujud dengan mudah. Ada hal yang masih mengganjal dalam pikirannya. Ke mana Ben? Bahkan Kean tidak menemukan fotonya di bangunan tua ini selain beberapa lukisan kontemporer.

Kean lantas membuka oven dan mengeluarkan roti yang sudah mengembang, menguarkan aroma tape dan wijen yang wangi. Ini Minggu yang sibuk, ada beberapa menu baru serta bonus pancake bagi pengunjung baru. Kean menyeka keringat sambil menyapukan padangan. Beberapa temannya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Bentar lagi pemilik toko ini datang,” kata Mae sambil menepuk pundak Kean. Dia menempati posisi spesial di bagian mempercantik tampilan kue dan roti. “Kuharap kamu bisa tersenyum.”

Ah, senyum. Rasanya Kean sudah lama tidak tersenyum. Maksudnya, sebentuk senyum tulus. Kepindahannya ke Surabaya nyatanya tidak seindah yang dia bayangkan. Ada perjuangan besar seorang ibu dalam membesarkannya. Ada perih yang membuncah ketika tahu-tahu mama meninggal karena kecelakaan. Saat itu dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini. Tinggal bersama nenek dengan harapan yang mulai pupus satu persatu. Bekerja sambil kuliah, lalu kenapa sekarang dia malah memutuskan bekerja di sini? Di tempat yang nyatanya sangat berbeda jauh dari jurusan manajemen yang dia ambil. Dia sendiri tidak yakin, selain mewujudkan satu mimpi semasa kecilnya. Hanya itu. Mimpi yang abu-abu.

“Dia datang,” bisik Mae yang membuat Kean buru-buru memaksakan senyum.

Begitu tubuh berbalut kemeja hitam yang digulung itu memasuki dapur, Kean hanya dapat menahan napas. Matanya membulat. Payung bercorak pelangi yang terkembang, aroma cendana, dan sepasang mata cokelat itu …. Dia menggeleng lemah. Sepercik ragu itu membuatnya sadar, ada satu mimpi kecil Ben yang dia ingat. Memiliki berat badan ideal?

Sepasang mata itu kini menatap Kean. Ada debar hebat yang dirasakannya begitu mata keduanya bertemu. Pria itu tersenyum. Tidak berkata-kata, namun justru dari tatapan itu Kean merasa ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Siapa pria itu? Apa dia Ben? Kenapa dia pergi begitu saja? Apa jangan-jangan dia tidak mengenaliku? Ada banyak pertanyaan bergumul, namun tidak ada yang keluar dari bibir mungil Kean.

Begitu pria itu pergi, Mae buru-buru menghampirinya.

Aku bersyukur dia tidak lagi marah-marah seperti minggu lalu,” Mae mencebik.
“Minggu ini dia akan menikah.”

Saat itu Kean menoleh, menikah? “Siapa nama pria tadi?”

Mae meneguk ludah karena ekspresi Kean sungguh aneh. “Ben Sudibyo. Mereka akan menjalani janji sucinya di Gedung Katedral dekat sini. Kamu kenapa?”

Kean tersenyum. Ya, tentu saja, kedatangannya ke sini tak lain hanya untuk mengucapkan terima kasih pada dua orang yang dia temui. Bocah laki-laki yang membagi roti, juga pria yang memberikan payung bercorak pelangi untuknya. Dua orang yang ternyata sama. Lalu, kenapa saat ini justru ada yang terasa sesak di dadanya. Kenapa Ben menatapnya seperti itu. Apakah dia tidak bahagia?

Mae menambahkan, “Dia dijodohkan.”

Kean memakasakan senyum. Dan, semua terjawab sudah. Dongeng tentang malaikat yang turun ketika hujan itu kini telah berakhir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s