cerpen: Gerimis Sore Ini


Kami bersahabat. Aku dan dia. Tak ada ikatan khusus atara kami selain hal itu. Sebuah persahabatan yang tulus sejak duduk di bangku SMA hingga kini ketika kami sudah sama-sama bekerja. Rentang waktu yang bisa dibilang lama untuk mengenal pribadi masing-masing.

Dia tahu, aku bukanlah penyuka kopi sejak dulu. Meminumnya barang seteguk bisa membuat kepalaku pening dan dipastikan akan susah tidur. Dia tentu berbeda. Dia tidak hanya menyukai, bisa dibilang kopi adalah cinta untuknya saat ini. Cinta yang kadang membuatnya tidak realistis lagi dalam menjalani hidup.

Apa aku mengganggu?”

Di luar hujan. Aku menyampirkan mantel yang separuh basah di punggung kursi, masih menunggu jawaban pria yang sedang tekun dengan percobaan kopi barunya.

Dia menatapku. Seperti biasa, tatapan sayu yang tidak aku inginkan lalu dia menggeleng.

Aku mengangguk tanda mengerti sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Ruangan ini belum berubah dari tahun lalu, masih bernuansa hitam dan putih. Ada beberapa foto musisi Jazz di dinding. Nuansa yang remang serta klasik kukira memang menampakkan kepribadian pemiliknya yang sekarang suka menyendiri.

Apa tidak ada minuman hangat atau sepotong roti bakar dengan selai kacang untukku?”

Dia tidak menjawab. Tapi kemudian beralih dari meja barista ke arah mejaku. Sepertinya dia lupa bercukur, sebab ada rambut halus yang kini mengitari dagu perseginya. Pun, dia tampak berantakan dengan kaus abu-abu tanpa motif dan celana berbahan katun. Berbeda jauh dari hari biasa.

Ini pukul berapa?” nada itu keluar seperti sebuah protes.

Aku menengok jam tangan. “Masih pukul delapan pagi di hari natal yang dingin. Harusnya kamu senang karena kedatangan tamu agung yang sudah dua minggu tidak menyambangimu. Hari ini aku libur kerja. Dan aku juga bisa menebak, kamu tidak membuka kafe ini karena alasan malas dengan keramaian di hari libur.”

Dia nyegir sesaat, lalu duduk tepat di hadapanku. Memandangku cukup lama dan itu membuatku risih.

Masih dengan pengacara itu?” Dia mencebik. “Menghajarku karena alasan cemburu dan kamu lebih sering bersamaku?”

Aku meringis. “Ah …, kami sudah tidak ada apa-apa. Aku dan dia sadar, perbedaan keyakinan ternyata cukup menjadi batu sandungan yang ampuh bagi kami untuk berpisah. Kamu sendiri bagaimana? Eng, apa masih menunggu Yuniar?”

Dia mengangkat wajah, sepertinya cukup terkejut dengan apa yang kukatakan. Aku menyukai bola matanya yang cokelat dan dinaungi bulu mata lentik. Namun untuk saat ini aku menangkap dia tidak ingin mendengar apa pun dari bibirlku.

Sudah seminggu dia bekerja di tempatku. Kamu sudah tahu kabar ini, bukan? Apakah kamu tidak ingin bertemu dengannya setelah lima tahun kalian ….” Aku menggeleng. “Dia sempat menanyakanmu padaku kemarin.”

Dia mengembuskan napas panjang lantas mengusap wajah. Ada raut frustasi dari air mukanya yang begitu kentara.

Dia berkata pelan, “Ya, aku akan menemuinya.”

Aku memutar bola mata, cukup terkejut dengan jawaban yang dia berikan. “Aku senang mendengarnya.”

Aku lantas menengok ke samping, di luar hujan mulai deras.

*

Hujan. Aku benci hujan sejak dulu. Hujan serupa tangisan ibu yang pergi ditinggal ayah. Hujan pula yang membuatku tertahan di sini dalam waktu cukup lama, menikmati titik-titik air yang turun dari langit dengan bosan.

Kalau saja mobilku tidak masuk bengkel, dan kalau saja tadi aku menerima tawaran dari teman sekantor pulang bersama. Mungkin, aku tidak akan menunggu angkutan umum selama ini. Tentu hal yang menjemukan menunggu di halte tanpa teman ngobrol satu pun.

Ah, mendadak aku teringat dengan Bass. Apa perlu aku menghubunginya untuk menjemputku? Aku menggeleng, baru ingat dia ada janji dengan seseorang hari ini.

Bass, pria beraroma kopi itu sudah lama tidak terlihat menggandeng wanita. Dia tak pernah bercerita apapun padaku soal perasaannya semenjak Yuniar meninggalkannya. Pun, dia jadi lebih pendiam.

“Dia masih sendiri?”

Aku mengangguk begitu Yuniar menanyakan hal itu padaku saat jam makan siang kemarin. Aku tahu Bass. Dia pria yang setia dan menunggu sudah menjadi keahliannya.

Yuniar menyesap kopinya kembali. Kuku tangannya tampak cantik dengan warna putih, serasi dengan pakaian kerja yang dikenakannya.

Aku lupa jika kamu tidak pernah menyukai kopi. Padahal latte di tempat ini sungguh nikmat. Apa perlu aku pesankan minuman lain?”

Aku menggeleng. “Tidak perlu.”

Aku tahu maksud yang dikatakannya barusan. Kopi ibarat barang mahal yang tidak bisa kusentuh apalagi untuk kumiliki. Sejak dulu memang begitu, aku selalu kalah satu langkah darinya. Termasuk dalam hal perasaan juga pekerjaan saat ini. Ide-ide liarnya kembali diterima untuk iklan sabun mandi. Dia berada di posisi art directur sementara aku broadcast production di sebuah perusahaan periklanan.

“Aku masih tidak percaya, apa mungkin dia menungguku?” Dia menatapku sambil menyelipkan rambut pirangnya di sela daun telinga. Nada suaranya seolah tengah mengejek. “Aku sadar akan kesalahanku dulu dan kupikir Bass memang pria yang baik untukku.”

Aku tersenyum kecut. Kurasa wanita di depanku tengah berhalusinasi. Meski aku sendiri tidak yakin, betapa sakitnya perasaan Bass ketika menunggu Yuniar selama empat tahun di luar negeri. Lalu, tahu-tahu sebuah undangan pernikahan tercetak dengan nama Yuniar dan nama pria asing muncul di meja kerja Bass.

Dan kini setelah resmi bercerai dia kembali lagi pada Bass? Aku masih tidak mengerti dengan jalan pikirannya.

Aku tersadar begitu mendapati payung biru muncul di hadapanku. Ketika payung itu diangkat barulah aku tahu siapa yang datang.

“Bass?”

Dia tidak menjawab, menangkupkan kembali payungnya dan duduk di sampingku. Napasnya tenang, aroma tubuhnya tercium jelas di hidungku. Kali ini dia berpenampilan rapi dengan kemeja biru tua yang dimasukkan celana jeans hitam.

“Bukankah saat ini kamu dan Yuniar ada janji?”

Dia menggangguk.

“Lalu kenapa kamu tidak pergi? Seperti sebuah mimpi dia datang kembali. Juga seperti yang kamu inginkan, kalian bisa bersama sekarang.”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Atau kalian sudah bertemu dan akan menceritakan kabar baik untukku?” Aku menatap ke arah mata Bass. “Yang kulihat kamu tampak lebih hidup.”

Dia tersenyum. Mengetuk-ngetuk sepatu bothnya beberapa kali.

“Bass …,” protesku merasa tidak didengar.

Setelah diam cukup lama, akhirnya dia berkata sambil menatapku. “Selama ini yang kutunggu bukanlah Yuniar, melainkan keberanianku mengungkapkan perasaan.” Dia mendongak menatap langit. “Tiap kali kamu datang ke kafe, aku selalu menanyakan bagaimana hubunganmu dengan pengacara itu. Dua tahun kalian berhubungan, dan aku kalah satu langkah darinya. Kupikir, aku tidak akan pernah mengungkapkan hal ini.”

Aku mengernyit, setengah menelan ludah. Apa yang dikatakannya barusan? Bercanda?

“Kali ini aku serius.”

Bibirku terasa kelu, tidak tahu apa yang mesti kukatakan.

Yuniar ….” Entah mengapa nama itu muncul begitu saja.

Dia tertawa singkat lalu berkata dengan serius, “Bisakah kamu tidak berkata tentang Yuniar dan hanya bicara tentang kita? Kamu dan aku, Kinar.”

Hujan mulai reda. Aku tidak menjawab, namun dengan menatapnya dan tersenyum apa mungkin dia mengerti maksudku? Maksud jika selama ini aku juga menunggunya dan selalu kalah satu langkah dengan Yuniar.

Dia ikut tersenyum, menggenggam tanganku erat dan kami sama-sama menikmati gerimis di sore ini dengan tenang.

Malang, 21 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s