BUKU BARU: KENAPA MEMILIH INDIE?


Dalam waktu dekat saya akan menerbitkan buku kumcer secara indie.

Sebenarnya, sudah cukup lama saya memimpikan sebuah buku, yang di dalamnya ada beberapa cerpen karya sendiri. Keinginan itu saya tahan, meski sesekali tetap ada. Saya pernah mengumpulkan beberapa cerpen yang pernah dimuat di media, antara tahun 2013 hingga 2014, untuk selanjutnya dikirim ke penerbit. Penerbit mayor yang menerima kumpulan cerpen yang pernah dimuat di media. Tapi kemudian saya sadar. Belum. Belum waktunya.

Tahun 2015 tidak banyak karya yang saya tulis. Bisa dihitung dengan jari tangan. Bahkan yang dimuat di media, beberapa ditulis tahun 2014. Ah, yang dimuat cuma tiga buah cerpen kok, dengan rincian 1 cerpen ditulis tahun 2015. See? Sama sekali tidak produktif. Lalu, setelah menyelesaikan novel dengan rentang 3.5 bulan, atau total empat bulan beserta revisi, saya hanya sesekali menulis cerpen maupun resensi. Bertepatan, waktu itu saya mendapatkan sebuah pekerjaan yang bisa disambi kuliah. Lima bulan, sampai akhirnya Januari 2016 saya memutuskan berhenti. Di tempat kerja tersebut sebenarnya ada banyak waktu luang untuk menulis, tapi entah kenapa saya seperti merasa tidak nyaman. Merasa tulisan saya jadi aneh. Saya tidak tahu, karena tulisan saya tidak ada yang selesai. Koreksi, ada, hanya nyawanya seperti tercerabut begitu saja. Jelek. Mungkin, karena beberapa bulan terakhir saya memang sudah tidak kerasan berada di tempat tersebut.

Sampai suatu ketika keinginan untuk membuat buku kumpulan cerpen itu muncul kembali. Saat itu, selepas acara bedah buku Jodoh karya Mas Fadh Pahdepie di Toga Mas 17 Januari 2016, Mas Andri menyodorkan buku karangan miliknya pada saya. Buku itu diterbitkan secara indie dan prosesnya lumayan cepat. Hasil cetakannya pun nggak kalah sama terbitan mayor. Lem dan kertasnya bagus. Karena penasaran, saya pun bertanya beberapa hal padanya.

05976602956b70d55d1294c2f2b1ee62
Novel Mas Andri Surya, Petualangan Leon. Novel yang unik. Kamu bisa beli di nulisbuku.com. Harganya 35.000 aja lo. 😉

Beberapa hari menimbang, saya pun mencari tahu beberapa penerbit indie yang lain. Sampai akhirnya pilihan saya jatuh pada Reybook. Iya, selain karena saya kenal dengan Reyhan—pemilik Reybook—juga karena tarif yang disediakan cukup terjangkau. Iya yang kedua, karena saya pengin punya buku sebelum skripsi. Bukan, itu memang bukan tujuan awal. Karena tujuan paling awal kenapa memilih indie dan tidak mengirimkan ke mayor, karena ingin menumbuhkan semangat yang hilang itu lebih cepat. Sedikit konyol. Juga, karena ingin mengumpulkan kenangan. Kenangan dalam menulis selama ada di Malang. Selama masa-masa kuliah ini. Meski saya sendiri percaya pada sebuah Jalan Takdir yang manis dan memang masih susah diterka saat ini. Pun, pada perpustakaan kota yang mungkin akan saya rindukan ketika pulang ke Kasembon nanti. Perpustakaan dengan buku serta majalah yang sangat membantu saya dalam menulis selama ini. Buku ini juga semacam karya idealis. Ingin “punya saja” buat koleksi pribadi.

Tapi, saya juga berpikir apa artinya sebuah buku tanpa pembaca?

Dari situ, saya mulai memilih beberapa cerpen. Lima cerpen pernah dimuat di media, satu novelet yang sedang saya selesaikan khusus untuk buku ini, serta empat yang lain adalah cerpen baru—yang tentunya berkesan bagi saya. Langkah selanjutnya membuat konsep kover. Saya ingin kover saya lanscape dan yang terpikir pertama kali adalah bunga matahari dengan judul kenangan. Saya juga membuat burlb sambil memutar lagu-lagu cengeng biar nyawanya terasa. Haha. Burlb yang sedikit beda, karena diambil dari judul-judul cerpen yang saya pilih. Lalu, saya mengirimkan coretan saya pada Reyhan via BBM.

cache_00000152b45a394b18b
coret-coret gagal kreatif >_<

Beberapa hari setelahnya saya dikirimi contoh kover yang sudah jadi. Senang, karena cukup cepat, tapi saya ingin ada perbandingan. Lalu kover kedua muncul. Sama-sama bagus dan bikin saya bingung. XD Soal rencana terbit di indie dan share kover, waktu itu hanya cerita sama Salmah dan Nikmatus Sholika. Makasih sudah bikin saya tambah bingung. Haha.

2
Contreng nomer 1 atau 2 ya? Hihi. Makin bingung. XD

Ragu. Saya sudah lama tidak begitu aktif di facebook. Ragu yang kedua, saya berniat memosting kover tersebut dan meminta bantuan. Tapi ini terbit di indie lo! 😀 Tapi akhirnya pada tanggal 24 Januari saya memostingnya juga. Dan, terkejut. Sungguh saya tidak menyangka jika akan banyak yang meninggalkan komentar serta like di foto tersebut. Memberi saran, suka kover yang ini, yang pada akhirnya menggoyahkan pilihan awal saya. Terharu. Terima kasih untuk tidak bertanya kenapa memilih di indie. Meski dari postingan itu pula, saya mendapat sejumlah pertanyaan yang dilayangkan via inbox. Tarif menerbitkan di situ berapa ya, Ko? Kayaknya tertarik. XD XD XD

Dan pada akhirnya ada pula yang mempertanyakan hal tersebut. Kenapa memilih jalur indie? Mungkin, postingan ini bisa sedikit menjawab pertanyaan tentang hal itu. Walau mungkin tidak memuaskan. Juga, menyoal beberapa teman penulis yang menerbitkan di indie belakangan ini. Jujur, saya tidak latah. ^_^ Saya juga bukan orang yang anti pada Penerbit Indie, yang belakangan image-nya sedikit turun karena beberapa permasalahan.

Akhir postingan ini … baik indie maupun mayor sama-sama bagus, hanya melihatnya dari sudut pandang yang mana? ^_^

12642774_1266759596674666_6745231104478329766_n
Dan akhirnya pilih yang ini karena beberapa alasan. XD. Dibeli ya nanti kalau terbit. ^^

Iklan

2 thoughts on “BUKU BARU: KENAPA MEMILIH INDIE?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s