#Part 6 FRIEND, Satu Rahasia di Ruang Ganti


Hai, hai, kamu … Gimana kabarnya? Masih ada yang pengin tahu kelanjutan kisah Keisha, Tere, dan yang lain?

Berikut bab lanjutannya. Semoga suka ya …, ditunggu komentarnya. 😉

***

Olahraga merupakan salah satu pelajaran yang sebenarnya tidak aku sukai. Ada dua alasan. Pertama, karena aku paling payah dalam berlari. Pernah terjatuh saat lari estafet dan itu sungguh memalukan, teman satu timku, Tere bahkan menghindar begitu mendengar derai tawa dan olokan dari teman-teman yang mengarah padaku. Dia pergi begitu saja tanpa mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Alasan kedua, karena dalam beberapa hal olahraga menuntut kerjasama tim dan aku belum bisa untuk itu. Aku hanya belum begitu mengenal pribadi mereka dengan jelas. Atau mungkin aku terlalu paranoid karena kejadian yang sudah-sudah.

Setelah berganti pakaian dan meletakkan seragam di loker, aku dan Dilla pun buru-buru menuju lapangan karena suara peluit Pak Jati terdengar mengintruksi untuk lekas ke sana. Bukan hal menarik ketika jam olahraga dipindah paling akhir Sabtu ini. Sinar matahari terasa menyengat ditambah udara yang pengap, dan tentu saja dalam beberapa menit pemanasan kausku sedikit kuyup oleh keringat. Rasanya perutku ikut-ikutan mual.

Setelah itu kami diminta untuk berkelompok. Laki-laki sendiri, perempuan sendiri. Siang ini kami akan berlatih soal voli setelah sebelumnya materi mengenai hal itu sudah diberikan dan juga dipelajari. Termasuk dasar-dasar bermainnya. Aku dan Dilla berserta teman yang lain berada dalam satu tim, di sisi lawan ada Tere beserta temannya. Sepertinya ini adalah pilihan yang buruk. Setidaknya untuk diriku.

Awalnya segalanya menyenangkan, meski sedikit kepayahan aku bisa bermain dengan cukup baik. Pak Jati juga masih mengawasi sebelum telepon itu membuatnya pergi dengan alasan penting dan kami diperkenankan untuk main sepuasnya hingga jam berakhir.

Tapi tidak di menit ketika Tere yang berkuasa atas bola di udara. Tangannya  begitu kuat seakan ada perasaan beringas dari mimik wajahnya dan tersenyum licik menatapku. Ini pertanda yang sudah aku duga sebelumnya.

Smash!

Dan tepat ketika bola itu melesat aku hanya dapat meringkukkan tubuh, mataku terpejam berharap tidak ada yang terjadi. Tidak ada bagian tubuh ini yang akan memar karena lemparan bola itu.

“D-Dilla …!”

Begitu mendengar teriakan beberapa kali, saat itulah aku merasa ada yang janggal. Mataku reflek terbuka. Yang pertama kali kulihat, Dilla terkapar di depanku dengan hidung berdarah. Duniaku seakan berhenti, yang terdengar hanya suara bola voli yang memantul di lapangan semen berulang-ulang yang kemudian membuatku kesusahan mencari oksigen. Tenggorokanku tercekat dan dengan panik segera berjongkok memastikan tidak ada sesuatu yang serius terjadi pada Dilla.

“Dilla ….” Aku menggerakkan tubuhnya. Tidak ada reaksi apa pun. Beberapa teman berkerumun dengan mimik takut.

Pak Jati datang bersama salah seorang murid.

“Ada apa ini?” tanya Pak Jati seolah mengintrogasi kami satu-satu dengan muka marah.

Tidak ada yang menjawab. Semua menunduk.

Lalu beliau langsung membopong Dilla menuju UKS. Aku lantas berjalan mengikuti Pak Jati dengan air mata yang menggantung di kelopak. Tanganku menutup bibir. Cemas.

Mataku mengedar ke sekitar, nahasnya aku tidak menemukan Tere. Satu pertanyaan yang kemudian muncul adalah kenapa dia bisa berbuat sejahat ini?

Aku menggigit bibir kuat-kuat dengan tangan terkepal gemetar. Harusnya aku yang terkena lemaparan bola tadi dan bukan Dilla.

Aku benar-benar merasa bersalah. Alasan yang membuat dadaku terasa penuh saat ini tak lain karena Dilla baru saja menyelamatkanku dari bahaya.

***

Albizia datang. Raut cemas segera terbit di wajahnya begitu melihat Dilla yang terbaring di ranjang UKS. Dia menatapku seolah mencari kebenaran yang sepertinya tidak dia temukan. Seperti biasa seragamnya sudah kusut dengan ujung mencuat tidak karuan.

“Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya? Dilla nggak apa-apa, ‘kan?”

Aku selalu kesulitan memulai kata ketika sedang gugup. Tiba-tiba saja aku cegukan saking banyaknya pertanyaan yang dilontarkan Albizia. Aku bersyukur, tak lama kemudian Dilla mengerang dan berusaha bangun dari posisi tidur sambil memegangi kening. Matanya menyipit dengan alis bertemu, lalu menatap ke arah kami.

“Kalian berisik,” protesnya seraya menyibak selimut. “Ayo pulang! Aku sudah nggak papa kok.”

Albizia melongo. Aku sendiri pun menegakkan posisi duduk karena ekspresi Dilla terlihat baik-baik saja. Secepat itu?

“Benar-benar nggak papa?” Albizia menempelkan punggung tangannya di kening Dilla. “Aku dengar dari anak-anak kamu terlempar bola sampai pingsan dan mimisan. Ah, tahu gitu aku masih enak-enakin dulu makan mie ayam tadi di kantin.”

“Kei …, tolong usir kucing garong ini! Suaranya bikin pendengaranku terganggu.”

“Hei, aku cuma bercanda.” Lagi-lagi Albizia menjitak kepala Dilla yang dibalas satu cubitan di perut Albizia yang membuatnya meringis. “Aku bawa motor tadi. Pulang bareng?”

Detik berikutnya aku menangkap ekspresi tidak suka dari diri Dilla. Meski mereka sering beradu dan seakan memiliki dunia sendiri, namun aku berpikir apabila mereka adalah sahabat yang solid. Anehnya aku tidak merasa terganggu atau tersingkirkan pada lingkaran persahabatan yang mereka buat, entah kenapa pada suatu titik tangan Dilla selalu ada untukku. Mengulurkan sesuatu yang tulus lewat senyum dan banyak cerita yang lebih sering kutanggapi dengan anggukan atau gelengan.

“Kenapa?”

Dilla beranjak dari ranjang. “Kamu bandel sekarang. Baru jatuh dari motor, terus hari ini bawa motor lagi, padahal belum pantes lagi kamu bawa motor.”

“Teman-teman lain juga—”

“Dan kamu jadi suka ikut-ikutan yang nggak benar. Pasti alasan berikutnya …,” Dilla terbatuk seolah dibuat-buat. “Karena tadi sudah mepet Dilla Keriting …, aku terlambat. Aku bisa menebak kalau kamu juga ngebut, ‘kan?”

Albizia kalah telak. Dia tampak gelagapan. “Ya, ya …, aku mengaku salah. Kamu  marah-marah terus, mama saja jarang marahin aku. Huh, dasar sewot. Besok janji naik angkot lagi deh. Saling tunggu-tungguan seperti biasanya.”

Peduli.

Itu yang kurasakan ada pada diri Dilla mengenai Albizia. Aku melihat dia tersenyum, namun cepat disembunyikan dengan melirik sebal ke arah lawan bicaranya. Setelah cukup yakin aku pun memutuskan bersuara.

“Eng …, sebelum pulang, aku ambilkan seragammu dulu di loker.”

Dilla mengangguk. “Berani sendirian?”

“Atau aku temani?” balas Albizia.

Aku langsung menggeleng dan menggerakkan kedua tangan di depan dada. “Nggak, nggak usah. Aku bisa sendiri.”

Lalu, aku melangkah keluar. Sekolah sudah cukup sepi, lengang, hanya terdengar beberapa suara dari arah lapangan, tepatnya dari anak-anak ekstrakurikuller pramuka. Aku berbelok arah dan segera menuju ke arah loker yang terletak tak jauh dari ruang ganti.

Tanganku gegas mengambil seragam. Aku hanya tidak ingin Dilla serta Albizia menunggu terlalu lama. Namun, aku berhenti sejenak begitu mendengar sesuatu. Kakiku kuseret perlahan menuju ke arah sumber suara tersebut, di ruang ganti. Aku cuma ingin memastikan apabila pendengaranku masih cukup normal.

Pintu ruang ganti tidak tertutup rapat. Ada celah dan suara itu semakin jelas. Dering telepon diselingi tangis.

Aku terperanjat, berusaha menguasai diri begitu sosok itu menyadari keberadaanku. Dia lalu menghapus air matanya cepat-cepat. Diam, hanya saja dia terus menatapku yang malah membuatku tidak tahu harus berbuat apa. Bersikap normal, memeluk, atau menenangkannya? Sayangnya aku tidaklah seberani itu.

“Kei, kamu di mana?”

Aku segera menutup pintu ruang ganti begitu mendengar suara langkah sepatu berlari. Jelas, itu Albizia. Sebelumnya aku sempat mengangguk pada cewek itu, cewek yang tiba-tiba menghilang saat jam olahraga. Seperti ada sesuatu perjanjian yang telah aku buat tanpa mengucapkannya secara langsung. Dia ikut menggangguk pelan dan langsung mematikan handphone-nya.

Aku menjaga rahasia ini, tentang sisi rapuh dalam dirinya yang mungkin tidak banyak orang ketahui.

Aku berbalik, mengatur napas saat Albizia sudah berdiri di depanku. Dia mengamati sekitar seperti tengah memastikan tidak ada yang tengah aku sembunyikan. Tanpa berkata aku memilih berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.

“Ayo pulang,” kataku sedikit tidak yakin, namun Albizia menyetujui tanpa menoleh ke belakang lagi.

Iklan

2 thoughts on “#Part 6 FRIEND, Satu Rahasia di Ruang Ganti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s