#Part 5: LAVENDEL


Ini lanjutan dari part sebelumnya. ^^ Berharap setelah baca ada yang ninggalin koment di postingan bawahnya. XD

Gimana ceritanya? ^^ Apakah ada bagian yang bikin penasaran?

Selamat membaca. Ditunggu komentarnya. 🙂 Ada yang nunggu part lanjutannya? 😉

***

Aroma yang menggambarkan papa adalah lavendel. Aroma yang membuatku tenang dalam berapa jenak ketika memeluknya, mengendus-endus—terutama bagian ketiak—layaknya anjing pelacak. Papa sendiri menyukai warna lavendel. Warna kesukaanku juga, seperti jaket berbahan parasut yang tengah kukenakan pagi ini. Kata papa ungu memiliki makna filosofis yang dalam, seseorang yang tidak ragu-ragu dalam mengahadapi masa depan, dan aku percaya itu. Mungkin karena hal itu pula papa menghadiahkan warna itu untukku. Violeta adalah nama tengahku, panggilan sewaktu kecil, yang lebih sering disingkat dengan huruf V di absensi. Keisha V. Ginna. Ginna sendiri merupakan singkatan dari nama papa dan mama; Gihan, Ninna.

Kakiku terus terayun, namun mendadak terhenti begitu mengenali aroma ini. Aroma lavendel yang samar bercampur bau embun dedaunan serta bau-bau lain yang tidak asing sepanjang perjalanan menuju sekolah: asap rokok dan bau usang kendaraan.

Mataku mengedar ke sekitar. Dan, tepat, detik ini juga aku melihat cowok itu berjalan dengan santainya di depanku. Cowok yang kulihat tempo hari memberikan sapu tangan. Aku berniat memanggilnya, namun urung karena sepertinya dia terlalu asik membaca buku yang dipegang dengan headphone menyumpal telinga. Aku pun memutuskan memasukkan kedua tanganku kembali ke saku jaket. Sepertinya aku tidak memiliki cukup keberanian menyapa, dan yang pasti aku tidak tahu siapa namanya. Apakah dia satu angkatan denganku? Atau jangan-jangan kakak kelas? Hal berikutnya yang kusadari adalah bisa jadi dia lupa denganku. Cewek yang tidak populer dan cenderung tidak pernah dilirik. Layaknya itik buruk rupa di tengah kerumunan angsa-angsa cantik, terlihat namun tetap saja tidak menarik. Kecuali bagi mereka yang memiliki kepentingan untuk membuat hidup seseorang menjadi tidak menyenangkan. Bisa jadi aku adalah sasaran empuk yang gurih.

Aku hanya dapat mengikuti cowok itu dari belakang. Tetap menjaga jarak. Menatap punggungnya sambil diam-diam menaruh perhatian lebih bagaimana dia tetap fokus membaca tanpa menabrak atau pun tersandung batu yang sering kulakukan. Kadang, aku merasa cukup buruk melakukan kesalahan-kesalahan kecil itu. Ceroboh sekali.

Aku membulatkan mata begitu dia berbalik arah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain menunduk dan menepi sejenak. Apa dia tahu jika aku membuntutinya lantas menegurku? Ah, kesimpulan macam apa itu. Namun, segalanya terjawab sudah begitu langkah itu sedikit berlari melewati tubuh ini. Bola mataku bergerak dan menemukan dia menutup buku sambil tersenyum ke arah nenek yang mengenakan kebaya hijau, tak jauh dari tempatku berdiri, yang sepertinya tampak kesusahan menyeberang. Aku menahan napas, jujur senyum itu cukup manis. Mencetak kantung mata yang kentara dan membuat matanya tampak segaris. Lalu tangannya menggenggam pergelangan tangan nenek dengan rambut digelung itu dan satu tangannya lagi membawakan tas keranjang berjalan menjauh.

Melihat cowok itu akan kembali ke sini, aku buru-buru berjalan dengan lebih cepat. Gerbang sekolah sudah tampak. Tapi dari sini aku melihat ada yang menatapku dengan sorot mata tajam. Aku tidak yakin apakah Tere sudah berdiri di sana sejak tadi sambil bersendekap dengan dua orang di belakangnya. Aku tahu nama mereka, yang berpostur sedikit gemuk adalah Faye dan yang menjulang tinggi dengan rambut dikucir kuda adalah Siska. Mereka memiliki satu kesamaan, tatapan yang menyeramkan.

Aku berhenti. Pandangan kami bertemu, namun aku yang lebih cepat kalah dan tidak berani menatapnya lama-lama. Aku tidak tahu apa yang Tere ucapkan sebelum meninggalkan tempat sambil memberi gerakan tangan seolah menggorok leher.

Yang ingin kutanyakan, apa kesalahanku hari ini?

Aku pernah mendapati buku tugasku sudah tidak berbentuk buku lagi ketika kutinggal sejenak ke kantin membeli snack, di jam istirahat waktu kelas delapan. Robek dan tercecer di lantai. Waktu itu hal pertama yang kusadari adalah kesalahan tidak menerima tawaran mengerjakan tugas dari kakak kelas dan juga milik Tere sehari sebelumnya. Selanjutnya aku menerima hukuman berdiri di luar kelas hingga bel pulang berbunyi karena lagi-lagi aku terlalu lemah untuk melapor pada guru. Kemudian, hari-hari berikutnya aku lebih banyak tinggal di kelas. Sendirian. Memastikan barang yang ada dalam tasku aman sepenuhnya. Tak apa jika pada akhirnya aku terluka dengan jambakan atau mendapat kata-kata kotor.

“Kei!”

Aku tersadar dari lamunan, entah siapa yang memanggilku barusan, tapi yang jelas aku melihat ada Dilla dan Albizia tengah berlari ke sini. Mereka tampak bahagia, saling menyalip, menyenggol, meleletkan lidah, dan tentu saja Albizia yang sampai terlebih dahulu.

“Harusnya kamu ngalah sama cewek,” protes Dilla tidak terima.

Lalu aku menoleh begitu ada suara sepatu mendekat, berhenti, lantas menyadari perubahan raut wajah Albizia yang tadinya cerah seperti sinar matahari kini meredup ditelan mendung. Cepat. Begitu saja. Aku tidak tahu ada hubungan apa di antara Albizia dan cowok yang kutemui tadi. Apakah di antara mereka ada masalah? Mungkin karena cewek? Atau aku yang terlalu berlebihan menggambarkan ekspresi dingin di antara keduanya?

“Kei, ayo masuk! Jam pertama pelajaran ekonomi dan kita nggak boleh terlambat.”

Aku mengangguk dan langsung menyamai langkah Dilla.

“Al, jangan mematung di situ terlalu lama!” sambung Dilla sambil menarik pergelangan tangan Albizia.

Albizia menurut begitu saja dan memukul pelan kepala Dilla diiringi senyum yang menampakkan giginya yang rapi. Seperti senyum yang dipaksakan sebab matanya seolah tidak terlihat senang. “Iya, Nyi Blorong.”

Dilla melotot, namun tidak melawan. Saat aku menoleh ke belakang, menyapukan pandangan, cowok tadi sudah tidak ada di tempat semula. Pun, di sekitar aku tidak menemukannya. Aku lantas berjalan mundur beberapa langkah, masih bingung, lagi-lagi menemukan tas punggung hitam itu bergerak-gerak kian menjauh.

Cowok itu mau bolos lagi? Aneh, melihat wajahnya aku pikir dia bukanlah tipe anak nakal yang suka dihukum guru.

“Kei kamu cari siapa?”

“Eh, enggak.” Aku menggeleng, kemudian berjalan menyusul Dilla.

***

Tidak ada yang spesial.

Tempat ini terletak tak jauh dari sekolah. Aku rasa ini bukanlah tempat rahasia meski memang letaknya sedikit menjorok ke dalam dan kadang tidak disadari keberadaannya jika dilihat dari luar. Ada satu pohon trembesi yang berdiri kokoh di tengah dan sebagian rumput yang menyelimuti tanah, juga beberapa rumpun, semak yang tampak tidak terawat.

Dilla mengajakku ke tempat ini setelah bel tanda pulang berbunyi. Albizia masih tinggal di sekolah karena mau latihan di ruang musik dengan teman-temannya. Dilla bercerita padaku tentang tempat rahasia yang sering dia kunjungi semasa SMP.

“Kamu orang pertama yang kuajak ke sini. Albizia bahkan nggak pernah tahu soal tempat ini,” begitu kalimat lanjutan yang Dilla utarakan padaku dengan mimik muka bahagia. Meski sepertinya cukup aneh, mungkin Albizia tahu hanya saja Dilla tidak menyadarinya. Bukankah mereka bersahabat? Dan di antara sahabat memang tidak ada rahasia yang sepatutnya saling disembunyikan bukan?

Aku menarik kembali kalimatku sebelumnya tentang tidak ada yang spesial dari tempat ini. Aku salah, karena ternyata begitu berdiri di bawah rimbun daun-daun pohon trembesi yang menyerupai kanopi ini aku merasa nyaman. Angin bertiup pelan, sejuk, seolah tengah membuka lemari es di musim kemarau.

Dalam sebuah artikel yang ada di majalah remaja, aku pernah membaca apabila pohon trembesi memiliki umur hingga ratusan tahun, bisa mencapai tinggi 35 meter, juga mampu menyerap karbon dioksida lebih banyak dari pohon lain. Dan, detik selanjutnya yang kusadari adalah nama latin dari pohon ini adalah—Albizia saman. Eh, Albizia? Aku menatap ke arah Dilla yang mengitari pohon sambil menunduk seolah mencari sesuatu.

“Tempat ini sudah nggak aman lagi,” komentarnya. “Sepertinya buat tempat bolos sambil merokok.”

Dilla memperlihatkan bungkus serta beberapa putung rokok padaku. Ada raut kekecewaan dari dirinya yang kentara. Markasnya diusik dengan tidak menyenangkan. Dia lalu duduk begitu saja yang diiringi helaan napas kasar, memasukkan barang yang baru saja dia temukan ke dalam tas. Aku pun dengan ragu ikut duduk di sebelahnya. Tempat yang masih terasa asing untuk ukuranku.

Aku mengernyit ketika sekilas melihat benda dalam tas Dilla. “Kaset pita?”

Dilla mengangguk antusias, mengeluarkan kaset berwadah bening dengan cover dominan putih yang di tengah terdapat kotak persegi dengan gambar penyanyi bertuliskan Supertramp Roger Hodgson, Hai Hai. Selanjutnya dia juga mengeluarkan tape recorder yang masih tampak bagus dari tasnya.

“Banyak yang bilang kalau selera musikku sedikit kacau, jadul,” katanya seraya membuka tempat kaset, lalu meletakkan isinya ke dalam tape recorder. Berlanjut mencolokkan earphone dan dia kembali menatapku. “Ini lagu lama, semua lagu yang ada dalam album ini ditulis oleh Hudgson kecuali Land Ho. Coba dengar deh, tapi aku nggak janji kamu bakalan suka.”

Aku tidak menolak ketika tangan Dilla menyumpalkan earphone ke telingaku. Nada-nada sedikit kemeresak mengisi pendengaranku tak lama kemudian. Entakan tuts-tuts piano dan aku menangkap sebuah lirik, don’t say that you’ll never be lonely, baby ….

“Yang kamu dengar ini judulnya Right Place,” komentar Dilla. “Aku punya banyak koleksi kaset pita dari grup band atau penyanyi lama seperti The Who, Hellowen, Punk Rock 84, juga album kompilasi The British 15, Slow, dan banyak lagi. Tapi dari semuanya aku paling suka dan termasuk penggemar berat lagu-lagu The Cranberries.” Dilla melirikku lalu bernyanyi singkat. “In your head, in your head …. Zombie, zombie, zombie.”

Aku mengerjapkan mata mendengar penjelasan Dilla. Wow.

Dia malah nyengir. “Sepertinya kita harus pulang, aku tadi belum izin sama tante kalau pulang telat.” Dilla menepuk-nepuk bokongnya, menghilangkan sisa rumput yang menempel di rok abu-abu. “Kamu bisa membawanya dan sebagai ganti pinjami aku koleksi novelmu.”

Aku menatap Dilla tidak mengerti. Bagaimana dia bisa tahu jika aku suka membaca novel?

“Aku nggak sengaja melihat Wuthering Hight karya Emily Bronte di tasmu tadi. Tasmu terbuka sepanjang pelajaran Bahasa Inggris. Kuharap kamu sudah selesai membacanya.”

Ah, begitu. Ini semacam kebiasaan di masa SMP yang terbawa hingga saat ini, menyelipkan novel dan kubaca setiap jam istirahat. Tapi kini aku sedikit ragu membacanya karena kupikir Dilla akan menganggapku terlalu serius atau kutu buku saat membaca apalagi bersamanya di kantin. Mungkin, ini hanya bentuk kekhawatiranku semata. Takut kehilangan seorang sahabat untuk kedua kalinya.

Aku lantas mengangsurkan novel yang cukup tebal itu pada Dilla. Aku sudah menuntaskannya semalam, namun selalu ingin membaca untuk kedua atau ketiga kalinya jika novel itu memiliki kesan tersendiri. Aku juga mengalami hal serupa saat membaca Rumah Lebah milik Ruwi Meita tempo hari. Kadang tanpa disadari aku dibuat terkejut pada detail cerita atau quote yang sebelumnya kulewatkan tanpa sadar.

“Aku nggak janji kamu bakal suka.”

Dilla tertawa. “Ya, aku ngerti kok. Setiap orang punya selera masing-masing bukan? Belum tentu hal yang kita sukai akan disukai orang lain. Yang orang lain bilang bagus, belum tentu bagus juga buat kita. Tapi aku penasaran dengan kisah di novel ini, meski iya sih baru lihat tebalnya saja sudah kenyang duluan. Hehe.”

Aku tersenyum sekilas menanggapi ucapan Dilla. Kami pun berjalan pulang beriringan, melewatkan sore bersama.

Langit tampak muram, namun ada suatu kehangatan yang kurasakan menyelinap di dada ini. Damai. Sahabat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s