FRIEND, #Part 4: Kucing Hitam


Ini part lanjutan yang kemarin. Kalau tidak keberatan setelah baca jangan lupa tinggalkan jejak. Hihi. Ditunggu komentarnya ya … ^^ *sebagai bahan pertimbangan antara lanjut posting part selanjutnya atau tidak. XP

Selamat membaca. 🙂

De javu.

Aku pernah dalam kondisi seperti ini sebelumnya, mengamati satu persatu gedung baru dengan seorang teman di samping yang terus bercerita. Dulunya tempat yang kucari pertama kali adalah kantin. Aku mudah sekali lapar, dan ketika lapar tanganku gampang gemetar dengan keringat dingin. Mungkin karena hal itu pula, tiba-tiba saja ada kejutan berupa sekerat roti dengan selai kacang atau setoples kue kering dalam tas yang aku yakin papalah pelakunya. Papa bilang, meski badanku kecil aku paling juara soal makan. Tere yang alergi kacang dan tidak suka roti tawar biasanya memilih mengambil kue nastar dan diam-diam menyelipkan gulungan kertas di dalamnya. Biasanya dia akan menulis: kuenya enak, besok-besok buat yang lain ya Papanya Kei, atau kali lain aku ingin kue yang lebih banyak lagi. Selalu. Kami biasa berbagi bekal hingga semester satu berakhir, berikutnya diikuti persahabatan di antara kami yang turut kandas.

♫ Teringat semua cerita orang tentang riwayatku …. ♫

Aku tersadar begitu mendengar suara itu kembali mengalun. Dilla memiliki suara yang indah. Lembut. Dapat kupastikan apabila dia mengikuti ajang pencarian bakat, dia pasti akan lolos audisi dengan mudah.

Dilla memiliki rambut keriting sepundak yang dibelah tengah. Bibirnya tipis dengan lengkung senyum yang lebar. Manis. Melihat binar matanya, dia tampak seperti orang yang tidak punya masalah. Hidungnya tidak mancung dan hari ini di jam istirihat dia berbicara tentang Si Kucing Hitam.

“Kucing Hitam?” ulangku hampir menyerupai bisikan. Aku hanya sedikit terkejut mendengarnya, dan mengatakan sesuatu yang sepertinya tidak perlu kutanyakan. Aku benar-benar menyesal.

Namun, aku justru menangkap ekspresi lain dari Dilla. Dia terlihat senang mendengar responku, lalu menggangguk dalam-dalam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya menarik tanganku melewati beberapa kelas, belokan, dan sebenarnya aku cukup canggung ketika ada siswa yang sekilas melihat ke arah kami di sepanjang koridor. Aku tidak suka diperhatikan.

Aku bersyukur tidak berjalan sendiri kali ini. Ingatan itu akan muncul dengan cepat di mana ada yang menjambak rambutku dari belakang kuat-kuat lalu berlari dengan tawa terbahak, tiba-tiba ada yang mendorong kepalaku ke depan berulang-ulang, terjatuh karena kakiku tersandung oleh kaki seseorang yang sepertinya disengaja karena setelahnya aku mendapat tawa dari mereka. Dan aku baru menyadari semua itu waktu dipanggil guru maju ke depan, ada yang menempelkan secarik kertas di punggungku bertuliskan siksa aku!, dan tidak ada yang mengakui hal itu saat guru bertanya.

Kami berhenti di sebuah kelas. Namun tidak menemukan siapa pun begitu mata kami mengamati seisi ruangan bercat kuning cerah itu selain bangku yang berantakan, serta beberapa bungkus makanan ringan dan kertas berserak di lantai. Cukup kotor. Lalu, Dilla menarik tanganku kembali. Sepertinya dia paling hobi soal urusan tarik-menarik tangan orang.

“Itu dia!”

Aku mengedarkan pandangan mencari apa atau siapa yang dimaksudnya. Kami melangkah menuju lapangan basket, napasku masih terengah-engah karena tidak terbiasa berjalan cepat. Ada tiga cowok yang sibuk bermain basket dengan keringat membanjiri seragam mereka. Satu lemparan, dan, masuk. Dua cowok di antara mereka memutuskan duduk dengan air muka kelelahan. Sepertinya mereka kalah.

Dilla mengalihkan wajah sambil bersendekap begitu ada salah satu cowok yang berlari, mendekat ke arah kami. Seragam cowok itu tidak terkancing sehingga berkibar-kibar ditiup angin dan menampakkan kaus biru berlogo klub bola dengan cetakan keringat yang kentara. Rambutnya berantakan dengan mata hazel dan dia memiliki postur tubuh tinggi. Aku mencium aroma kayu manis yang berpadu bau matahari begitu dia berdiri di depan kami.

Dia mengacak rambut Dilla. “Harusnya aku yang pasang wajah jutek karena nggak kamu jenguk habis jatuh dari motor.”

Mendengar hal itu aku baru sadar apabila di dekat alisnya ada bekas jahitan, dan di bawah bibirnya yang berwarna merah pudar itu ada plester motif bintang. Wajahnya tampak kuyu dengan siku yang masih menampakkan luka di beberapa bagian.

Dilla mencebik. “Siapa suruh naik motor di jalan umum, kamu masih 15 tahun dan belum punya SIM. Harusnya kamu istirahat dan nggak main di sini. Minum obat kek, nggak panas-panasan dulu kek, nggak ….”

Cowok itu mengerakkan bibir seakan mengikuti apa yang dikatakan Dilla. Kemudian nyengir dan menggaruk kepala begitu Dilla memasang wajah cemberut. Meringis ketika Dilla mencubit perut cowok itu tanpa ampun.

“Hei, dilarang sentuh bagian itu. Haha, ampun!” cowok itu terus mengaduh sambil menyingkirkan kedua tangan Dilla. Namun, sepertinya sia-sia.

Aku tidak menyangka jika perut adalah bagian sensitif dari cowok—yang sepertinya salah satu cowok populer karena barusan ada sekumpulan cewek yang menyapanya malu-malu—yang lantas membuat ekspresi Dilla berubah manyun dan menghentikan aksinya.

“Siapa dia?” Cowok itu menunjuk ke arahku. “Barang baru?”

Tanpa sadar aku memundurkan satu langkah mendengar hal itu. Apa jangan-jangan dia  tipe cowok yang suka gonta-ganti cewek? Tapi Dilla justru menarik lenganku menjadi lebih dekat dan melotot sambil menempelkan telunjuknya di dada cowok itu.

“Bercanda,” cowok itu menegaskan, lantas tangannya terulur padaku. “Albizia Frendy Prakasa. Panggil Al saja.”

“Kucing hitam, kembaran kucing garong yang selalu dapat mangsa di mana pun. Nggak doyan makanan pedas alias suka makanan manis-manis dan paling suka pelajaran seni, sejarah, sama olahraga.” Dilla menjabat tangan Albizia. “Aku nggak rela sahabat baruku ini jadi mangsa berikutnya, maka dari itu aku wakilin. Dia Keisha, cantik bukan?”

Albizia hanya mengangguk-angguk seolah sudah lelah menanggapi apa pun keburukan yang dilontarkan Dilla tentangnya. Lucunya, dia tidak membalas.

Mendengar bel berbunyi kami memutuskan berpisah. Dilla menceritakan banyak hal mengenai Albizia padaku sepanjang perjalanan menuju kelas. Lalu, kami berhenti begitu mendapati tiga cewek yang salah satunya adalah Tere masuk terlebih dahulu, yang kali ini menatapku sekilas dengan seulas senyum sinis. Satu hal, ada isyarat tak kasat mata yang seolah tengah mengancamku.

Tak lama Audy muncul. Dalam jarak sedekat ini dia tampak berantakan dengan rambut tak tersisir rapi dan lingkar mata menghitam. Dia menatap ke arah Audy seakan-akan tengah mengatakan, ngapain lihat-lihat! Aneh?

Dilla menggeleng dan tersenyum. “Kita belum kenalan secara resmi, aku Dilla Putri. Kita bisa berteman.”

“Penting?” Hanya itu yang dikatakan Audy dengan mimik datar sebelum akhirnya melengos pergi.

Dilla tertegun sejenak, kemudian tertawa. “Ah …, dia sombong sekali.”

Aku menggeleng, tidak sependapat. Ada hal yang membuatku merasa apabila Audy tidak demikian, meski aku juga tahu apa yang dikatakan Dilla barusan hanyalah bercanda. Audy Shinta, entah kenapa aku sangat yakin pernah bertemu dengannya.

***

Kucing hitam adalah kucing tanda persahabatan yang diberikan Albizia pada Dilla. Kucing hitam yang diberi kalung berbandul lonceng kecil. Lalu, Dilla pun mulai sering memanggil Albizia dengan nama binatang peliharaan itu karena beberapa insiden. Sementara Dilla memberikan jersey ukuran XL sebagai tanda pengikat. Dilla hanya mengatakan padaku, dia hanya tidak tahu Al akan setinggi atau sebesar apa waktu mereka sudah tidak tinggal satu komplek lagi. Dilla tidak percaya kalau ternyata mereka akan satu sekolah lagi di SMP, juga di SMA seperti saat ini.

“Al anaknya pemalas, tapi aku senang dia punya kemauan yang kuat. Dia hampir nggak naik kelas karena lebih mentingin main musik dan sering bolos. Dulu di rumahnya ada studio musik dan anehnya mamanya nggak melarang. Tapi mendekati ulangan semester, mamanya bilang ketika ada aku juga waktu itu. Kalau Al hanya perlu mendapat nilai baik.

Baik bagi Al adalah nilai ngepas, 65 di rapor. Itu artinya dia boleh main gitar kembali sepuasnya. Meski dia anaknya bandel, tapi kalau dinasehitin gampang nurut. Dia sayang banget sama mamanya. Kamu tahu, dia masih sering dicium mamanya.” Dilla menunjuk pipi dengan bibir manyun. “Aku nggak bisa bayangin kalau-kalau fansnya Al tahu soal ini. Dia juga pernah nangis lo waktu di SMP, gara-gara …, kamu tahu soal apa?”

“Gara-gara apa?” Diputusin cewek? Dapat nilai buruk? Bertengkar dengan mamanya? Atau …. Aku menggeleng lemah.

Dilla menatapku dengan muka seolah-olah tengah memenangkan obrolan panjang ini. Seakan lirikan matanya mengatakan, pengin tahu banget ya? Dan, aku bagian dari pendengar pasif itu yang kalah sebelum mendapatkan info-info penting lebih banyak.

Dilla menggeleng. “Itu satu rahasia, cuma aku yang boleh tahu. Aku pulang dulu.”

Aku mengangguk sekali. Kami berpisah di gerbang, dia melambaikan tangannya dan berlari menyusul gerombolan cowok yang salah satunya adalah Albizia. Mereka tampak tertawa setelahnya dan saling menoyor entah karena apa. Yang jelas Albizia mengejar Dilla setelah cewek itu membisikkan sesuatu.

Aku menghela napas kasar, kapan aku bisa tertawa selepas itu?

  1. Tawa yang sama seperti mereka.
Iklan

2 thoughts on “FRIEND, #Part 4: Kucing Hitam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s