Draft FRIEND


Hai, hai ….

Kamu pernah membaca ALBIZIA di postingan sebelum ini? Ya, karena cerpen tersebut cukup banyak yang membaca dan mendapat respon positif, maka saya pun berinisiatif untuk membuatnya menjadi novel. Ada beberapa hal yang sama, pun berbeda. Jadi selamat membaca. Ditunggu komentarnya. ^^

Novel ini dibagi menjadi 4 bagian, setiap bagian terdiri dari 5-7 part. Ini bagian pertama. Akan kuperkenalkan kalian pada Kei, Tere, Albizia dan yang lain ….

BAGIAN 1

 

 

 

#1: Pedih

Hari ini adalah hari ketiga setelah papa pergi. Aku berpikir untuk selalu mengingatnya. Namun, semakin aku mengingat papa, maka akan ada kepedihan teramat dalam di dada. Ada lubang yang membuatku ingin menangis tiap kali mengenangnya.

“Relakanlah, Kei ….” mama akan berbicara seperti itu tiap kali melihatku mendekam di kamar sambil memeluk pigura berisi foto papa.

“Aku belum ingin melihat mama dulu,” aku berkata lirih seraya menggeser posisi duduk, menjauh, dan menghindari kontak mata darinya.

“Makanlah ….” Bisa kudengar desah kecewa dari bibir mama sebelum pintu kamar benar-benar ditutup.

Mama tidak menangis ketika papa meninggal. Beliau bahkan datang terlambat, karena setiap kali aku menghubunginya tidak ada jawaban selain suara dari operator seluler. Hingga akhirnya WA yang kukirim baru beliau balas satu jam kemudian. Senyum mama pun tampak samar tiap kali ada pelayat yang memberinya kata-kata penyemangat. Mama tidak butuh itu, karena yang paling terluka atas kepergian papa adalah aku.

Mama sendiri adalah wanita karir yang sibuk bekerja. Berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam ketika aku sudah tidur. Sedangkan papa lebih banyak di rumah karena pekerjaannya hanya berhadapan di depan komputer, lalu akan ada gambar-gambar ajaib yang dibuatnya. Akan ada omlet mie serta nasi goreng jawa buatan papa. Juga, kehangatan tiap kali menonton film berdua, cerita-cerita konyol, diskusi buku dan musik.

Dan sekarang aku benar-benar merindukan semua hal itu.

Papa bilang kesedihan yang menjerat akan mengurai perlahan bila kita memejamkan mata sambil menghirup napas dalam-dalam. Namun hal itu tidak kunjung hilang, bahkan ketika aku memandang langit malam penuh bintang dari balik jendela kamar. Embusan angin dari luar malah membuatku semakin gigil dan sesak.

Aku lantas meletakkan pigura di atas nakas. Di sampingnya ada sepiring nasi goreng hangat yang aromanya segera tertangkap oleh hidungku. Dua hari ini aku tidak melihat mama berangkat bekerja lagi, atau mungkin beliau cuti? Tadi, aku mendengar suara gaduh dari arah dapur dan aku tidak menyangka jika mama akan memasakkan makanan ini untukku. Tanganku terulur mengambil sendok lalu menyuapkan sedikit nasi ke mulut. Mengunyahnya perlahan.

Aku menarik napas yang terasa berat. Nasi goreng ini enak, hanya saja mama tidak tahu jika sebenarnya aku lebih suka irisan kol daripada potongan sawi.

***

Aku terbangun dari tidur begitu mendengar suara aneh. Seperti suara ayunan yang berderit beberapa kali. Aku lantas melihat handphone sambil mengusap wajah perlahan, pukul 00:15.

“Siapa yang malam-malam begini bermain ayunan?” bisikku sambil menyalakan lampu meja di samping ranjang.

Ayunan itu sendiri berwarna kuning, dibeli papa dua tahun lalu sebagai kado ulang tahunku. Ditempatkan di belakang rumah, di dekat pohon jambu air yang di sampingnya diletakkan pula meja bundar dari bahan marmer. Kami biasa bermain ayunan di sana sambil sibuk membaca buku, atau sekadar melewatkan sore berdua dengan dua cangkir teh beraroma melati serta biskuit rasa kelapa pandan.

Apa mungkin …? Ah, tidak mungkin itu papa. Papa sudah pergi dengan tenang, aku yakin itu.

Dengan rasa penasaran aku pun menyibak selimut, berjalan keluar, dan meniti anak tangga satu-satu. Langkahku terdengar menggema disertai suara jarum jam di sepanjang ruangan. Udara cukup dingin yang membuatku harus mengusap tangan dan lengan beberapa kali. Sunyi dan remang. Tengkukku terasa pegal.

Dug!

Jantungku mencelus yang diikuti satu langkah mundur dan membekap mulut karena tersandung, entah apa, yang membuatku menjatuhkan benda di atas buffet. Aku menarik napas dalam-dalam. Kenapa suasana menjadi setegang ini? Terlihat samar gorden putih di ruang belakang bergerak-gerak ditiup angin dari luar.

Langkahku kian ragu begitu suara ayunan itu semakin jelas terdengar, disusul gumaman serta tangis yang membuatku merasa ingin kembali ke kamar. Tanganku kemudian memegang knop pintu yang sedingin es. Jujur, tanganku gemetar ketika memutarnya.

Begitu pintu terbuka sedikit dan melihat siapa yang berada di luar, aku buru-buru menutupnya kembali. Dadaku berdebar cukup kuat yang diikuti meremangnya bulu tangan. Ada sosok wanita berambut panjang—sama panjangnya dengan rambut sepunggungku—mengenakan pakaian berwarna putih, dan aku beberapa kali mendengar beliau menyebut nama papa, juga namaku disela tangis. Itu mama. Kalimat yang diucapkan selanjutnya tidak terdengar pasti.

Aku merasakan ada yang ingin keluar di kedua mata ini. Sesak itu kembali menghuni dadaku. Dan pertanyaan-pertanyaan itu pun mulai bermunculan dengan cepat. Kenapa semua harus sesulit ini? Kenapa papa pergi begitu cepat di saat aku belum siap sendiri?

Kenapa?

Aku menghela napas dan menyeret kaki kembali ke kamar. Lalu bagaimana aku menjalani hari pertamaku besok di SMA tanpa papa? Selama ini aku tidak memiliki teman selain papa. Aku takut hari-hariku akan lebih mengerikan dari sebelumnya.

Aku takut kembali di-bully. Terasingkan.

Lalu, sendiri ….

#2: First

Ini adalah hari pertamaku di SMA. Jejak hujan semalam masih menggenang di beberapa ruas jalan. Pagi ini udara Kota Malang cukup sejuk ditemani angin semilir dengan langit abu-abu di akhir bulan Juli. Aku bersyukur SMA-ku tidak begitu jauh dari rumah, sehingga tidak perlu merepotkan mama yang buru-buru berangkat setelah menerima telepon. Suara sepatunya yang mengetuk lantai terdengar seperti nada drum yang berantakan. Aku memilih menghindar ketika beliau ingin mencium keningku.

Aku terus melangkah, namun terhenti dan mendongak begitu mendengar suara keributan. Ada cewek berpostur tinggi dengan potongan rambut menyerupai cowok yang mengomel pada bapak berkumis di depan mobil, kata-katanya terdengar kasar.

“Mulai besok papa nggak usah nganter aku lagi!”

“Sejak dulu kalian selalu egois, nggak pernah ngertiin perasaanku!”

Tak lama cewek itu menghilang ditelan gerbang. Langkahnya yang besar-besar seolah menampakkan jika dia benar-benar muak. Aku pun memilih untuk melanjutkan langkah kembali dengan wajah menunduk.

Aku berniat menoleh begitu mendapati seorang berlari di sisiku, namun kuurungkan dan memilih untuk terus berjalan. Hingga sebuah tepukan di pundak disusul suara seseorang membuatku terhenti tak lama kemudian.

“Sapu tanganmu?”

Aku membalikkan badan. Mataku terpaku ke arah sapu tangan yang disodorkannya. Sapu tangan berwarna biru laut dengan tepian bertuliskan nama lengkapku.

Aku segera menunduk begitu pandangan kami bertemu. Entah karena alasan apa jantungku berkedut. Aku membingkai matanya yang sipit diliputi raut gelisah dengan keringat di dahi. Nada suaranya ringan dan meski dirundung panik, namun aku menangkap suatu ketenangan dalam dirinya. Dia bertubuh sedang dengan hidung tak begitu mancung dan sepasang alis tebal. Aku mengangguk menerima sapu tanganku kembali.

“Tas bagian depanmu terbuka.”

Mataku membulat, buru-buru memastikan apa yang dikatannya. Ternyata benar, aku memang selalu ceroboh dan beruntung barang yang lain tidak ikut jatuh.

Dia mengulas senyum tipis sebelum pergi dan mengangguk sekali. Aku menamatkan punggungnya yang kian menjauh. Rambut berwarna hitam legam itu bergerak-gerak seirama tas punggung yang dicangklongnya.

Aku masih tidak mengerti, bukankah ini sudah hampir jam tujuh? Apa mungkin ada barangnya yang ketinggalan di rumah? Atau kemungkinan kedua, cowok itu mau bolos pelajaran?

Ah ….

Aku menggeleng dengan cepat. Kenapa harus memikirkan orang yang sama sekali belum kukenal? Namun, detik berikutnya aku baru sadar apabila belum mengucapkan terima kasih pada cowok tadi.

Aku lalu memutuskan masuk dengan menggigit bibir karena penjaga gerbang baru saja mengomeliku yang berjalan terlalu lelet seperti siput.

***

Kelasku berada di lantai satu, tepat di ujung, dan berseberangan dengan ruang guru. Aku berhenti di depan pintu sambil mengedarkan pandangan yang ada dalam kelas. Ruangan kelasku sendiri berwarna hijau muda dengan beberapa hiasan dan pengumuman di dinding peninggalan kakak kelas. Tampak wajah-wajah asing yang sibuk berkenalan satu sama lain saat guru belum datang. Cukup berisik, keadaan yang tidak kusukai. Mataku lalu terhenti, fokus dalam beberapa jenak pada segerombolan siswa yang ada di bangku pojok dekat jendela. Lebih tepatnya pada satu sosok yang membuatku hampir kesusahan mencari oksigen. Masalahnya, detik berikutnya cewek itu menyadari keberadaanku.

Kami akan satu kelas?

Aku mencengkeram rok abu-abuku kuat-kuat, memundurkan langkah gelisah dan tanpa sadar menyenggol bahu seseorang di belakang. Buku yang dibawanya pun jatuh diikuti suara berdebam.

“Maafkan aku,” kataku seraya menunduk dengan gugup.

Cewek itu justru tertawa sambil menggerakkan tangannya. Dia lantas mengambil bukunya kembali sebelum aku membantu dan berkata, “Ah, nggak apa-apa kok.”

“Sekali lagi maafkan aku.”

Beberapa siswa di dalam kelas mengamati kami dengan ekspresi sulit ditebak. Termasuk satu siswa di dalam yang kukenal dan dia langsung berdiri. Satu hal, sorot matanya berubah tajam. Aku memundurkan satu langkah, kemudian langkahku kian gusar. Ingatan-ingatan tentang bagaimana dia melukaiku bermunculan dengan cepat. Ketakutan. Detik berikutnya seperti ada yang memaksaku meninggalkan tempat ini sesegera mungkin. Berlari.

“Hei, kamu mau ke mana?”

Aku tidak tahu. Aku hanya ingin pergi dan menghindar sejenak.

“Hei,” ada tangan yang mencegahku. “Aku nggak mau disalahin lagi karena sesuatu yang nggak aku lakuin. Jadi, berhentilah karena seisi kelas pasti menuduhku ketika kamu pergi.”

Aku ingin melangkah lagi, tapi genggaman itu malah semakin kuat. Dan, aku memilih menyerah begitu melihat sepotong senyum milik cewek di hadapanku. Ada satu lesung di pipi kirinya. “Maafkan aku.”

“Ah, apa nggak ada kosa kata lain selain minta maaf?” katanya seraya menarik tanganku. Dia tertawa. “Wajahmu kayak baru saja dikejar hantu. Ayo masuk karena guru sudah datang!”

Aku mengangguk dengan ragu. “Sekali lagi maafkan aku.”

Dia tampak frustasi, lalu kami pun masuk disertai ucapan minta maaf karena terlambat dan memutuskan duduk di bangku urutan pertama, di depan meja guru. Karena memang tidak ada bangku yang kosong selain di situ. Atau lebih tepatnya bangku untuk kami berdua duduk bersama. Masih ada satu bangku kosong di belakang, entah siapa yang akan duduk di sana.

“Bangku paling angker,” katanya pelan seraya mengeluarkan buku dan kotak pensil dari tas punggung. Aku mendengar dia bernyanyi-nyanyi kecil lagu Bunda milik Melly Guslow.

“Oh iya, lupa, kita belum kenalan.” Dia menoleh seraya mengulurkan tangan. “Dilla Putri, penyuka makanan pedas dan parfum buah-buahan.”

Berkenalan? Mataku mengerjap, lalu menyadari tangan itu terulur terlalu lama. Dia mau berkenalan denganku? Aku hanya ragu, hal yang selalu membuatku berpikir lama, apabila nanti dia memutuskan tidak menjadi temanku lagi begitu mengetahui jika dulunya aku pernah menjadi murid paling cupu yang sering disebut autis atau alien di SMP. Namun, aku memutuskan menjabatnya.

“Kei …, K-Keisha.” Aku menghirup napas kuat-kuat begitu dapat mengatakannya. Hidungku menangkap aroma apel yang segar dari tubuh Dilla. “K-Kei saja.”

“Baru kali ini aku menemukan orang segugup kamu waktu kenalan.” Dilla tertawa pendek sambil melirik ke arah Guru Bahasa Indonesia yang baru memperkenalkan diri dengan nama Widya. “Kamu lucu.”

Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir di dada. Baru kali ini ada yang mengatakan aku lucu, bukan cewek yang aneh atau buruk untuk dikenal.

Lalu pandanganku tertarik saat ada siswa yang terlambat. Aku terkesiap, cukup terkejut ketika menyadari siapa yang berdiri di sana.

“Maaf, saya tadi salah kelas,” katanya seraya melenggang masuk setelah mendapat persetujuan dari Bu Widya, dan duduk di satu bangku yang tersisa tadi. Beberapa pasang mata fokus menatapnya. Cowok yang duduk di sampingnya membenahi kacamata, sepertinya kaget karena sedari tadi sibuk membaca buku.

“Dia berani banget pakai rok beberapa senti di atas lutut,” gumam Dilla. “Wajahnya tampak arogan.”

Mendengar ucapan Dilla, aku pun ikut mengamati penampilan cewek itu lebih seksama. Diam-diam aku setuju dengan apa yang dikatakan Dilla. Cewek itu memiliki rahang yang tegas dengan sorot mata tajam disertai gestur tubuh kaku. Dia cewek yang kulihat bertengkar di gerbang tadi sebelum masuk.

“Audy Shinta?” tanya Bu Widya seraya melihat absensi, diikuti sebuah anggukan dari cewek yang disebut namanya barusan.

Eh, sebentar. Entah kenapa nama itu cukup familier di telingaku, tapi bukankah ini kali pertama kami bertemu? Aku menggeleng dengan lemah, mungkin hanya halusinasi saja. Mataku justru terseret memandang ke arah lain begitu menyadari ada yang menatapku sedari tadi. Mata yang menyiratkan rasa tidak suka, seperti ada percikan kebencian yang kentara. Mendadak ada yang terasa penuh di dada ini. Sesak.

Buru-buru kualihkan pandangan ke posisi semula, menunduk yang disertai gigitan bibir kuat-kuat.

Aku takut.

#3: Tere

Kadang, aku masih bingung dengan diri ini. Kadang pula aku lebih suka menghindar, tapi yang terjadi malah hal-hal yang masih sulit diterka itu datang lebih menyakitkan. Aku masih ingat ketika akan masuk SMP, aku memilih bersekolah sedikit lebih jauh dari rumah. Berharap akan ada banyak hal baru kutemui, setidaknya karena Tere juga bersekolah di sana.

Aku dan Tere akrab sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Tere Marissa.” Dia mengulurkan tangannya dengan senyum ramah ketika itu.

Aku masih ingat gigi depannya ompong satu. Dia banyak bercerita dan aku menanggapinya dengan hati yang lepas. Kami biasa bertukar pakaian barbie, membicarakan tentang film-film keluaran Disney, menikmati donat buatan papa, atau bercerita tentang apa saja yang kami lakukan selama liburan semester. Biasanya Tere lebih sering berlibur keluar kota bersama keluarganya, lalu akan ada oleh-oleh untukku dan sederet kisah seru yang selalu aku nantikan. Dari sanalah aku merasa Tere akan menjadi sahabat terbaikku selamanya. Kami sering dibilang kembar oleh teman-teman karena memiliki potongan rambut, tas, tinggi badan, serta hiasan rambut yang sama. Ada aku pasti ada Tere, begitu pula sebaliknya.

Namun seiring waktu semua sirna begitu saja. Mantra tentang kekekalan janji persahabatan itu lenyap seketika, karena lama-kelamaan aku menangkap ada banyak hal yang berubah dari dirinya ketika di bangku SMP. Termasuk menghindariku secara perlahan-lahan. Pada akhirnya dia pun memilih meninggalkanku dan bergabung dengan teman baru. Dia seakan melupakan persahabatan enam tahun yang kami jalin dan menganggapnya seolah tidak pernah terjadi. Dia juga ada dalam aksi yang tidak bisa kulupakan sampai detik ini. Aksi yang selalu membuatku takut setiap kali akan berangkat ke sekolah. SMP-ku dulu hampir serupa penjara yang dingin, yang tidak menyisakan kehangatan untukku dan juga tempat kebahagiaan mengenal arti sahabat sepenuhnya.

Tidak kudapatkan sama sekali.

Aku selalu bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa Tere menghindariku? Apakah aku terlalu buruk menjadi sahabatnya atau mungkin aku punya salah yang sulit dimaafkan?

Setiap kali mengingat hal itu, rasanya aku ingin menangis. Tapi, begitu melihat Tere satu sekolah lagi denganku, bahkan berada dalam satu kelas, takdir Tuhan mana lagi yang harus kuhindari? Aku tidak mungkin pindah kelas atau memutuskan pindah sekolah, karena setidaknya akan ada teman yang menemaniku selama tahun ajaran pertama ini.

Aku memejamkan mata yang terasa kantuk dan perih. Tanganku memegang kuat-kuat tali ayunan dan merasakan angin tengah menerpa wajah ini secara perlahan. Suara kicau burung yang hinggap di dahan-dahan pohon jambu terdengar samar di telinga. Sinar matahari sore pun membuatku menarik sudut di bibir.

Ayunan di sebelahku kosong tanpa suara berderit yang selalu membuatku kangen. Papa biasa mendorong dari belakang hingga membuatku memegang tali ayunan dengan sepenuh tenaga agar tidak terjatuh diselingi tawa.

“Pa …, aku mohon berhenti!” kataku seraya memejamkan mata diikuti suara terkekeh dari bibir papa.

Dan ketika ayunan semakin kencang, saat aku mencoba memberanikan diri membuka mata, di sana aku merasakan langit begitu dekat. Dua kata saat itu, damai, lepas. Melepas segala kepenatan yang merangsek di kepala dan berharap sebuah kedamaian saat menghela napas.

Aku lalu menghentikan laju ayunan, kakiku mengerem dalam sekali sentakan. Mataku menatap langit dengan awan yang berarak pelan.

Pa, apakah papa bahagia di sana? Apa di surga ada ayunan dan bolu hangat dengan vla jeruk citrus kesukaan kita? Es krim rasa vanilla dengan topping jelly, potongan pisang, dan marsmallow yang rasanya nikmat ketika musim panas? Juga, waktu kita kompakan mengenakan sweater di musim hujan sambil memandang rintik di balik jendela ditemani alunan musik dari soundtrack drama Endless Love. Koleksi novel misteri karangan Agatha Christie, karya-karya Nh. Dhini dan beberapa novel kesukaanku lainnya, atau cerpen-cerpen Nurhayati Pujiastuti yang sering kuceritakan pada papa?

Aku mendesah, menyingkirkan daun yang baru saja jatuh di pundak.

Aku baru ingat apabila harus mengerjakan tugas pertama pelajaran biologi. Dan di hari pertama pula dua bulpoinku sudah ada yang meminjam, satu penghapusku sepertinya juga tidak ada di kotak pensil. Ah, aku lupa nama cowok-cowok tadi. Tapi tidak lucu juga jika besok saat aku menagih bulpoin yang mereka pegang dan pakai untuk menulis bukan lagi milikku.

Terdengar suara gerbang digeser diikuti deru mobil yang aku yakin itu adalah mobil  mama. Mama pulang lebih awal? Sepertinya aku harus cepat-cepat masuk kamar. Melangkah pasti, cenderung berlari. Namun, ketika akan naik tangga, mama memanggilku.

“Kei …, sudah makan? Mama bawakan kamu ….”

Aku tidak menjawab, hanya menggeleng, dan melanjutkan langkah menuju lantai atas. Tanpa menoleh, tanpa menatap pandangan penuh luka itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s