Sneak peek Membagi Rindu


Saya menikmati proses penulisan novel ini. Ditulis dan diterima penerbit tahun 2013, cukup bersabar menunggu terbitnya. Tentu hal paling membahagiakan adalah ketika melihat wujud nyatanya di toko buku. Menunggu siapa pun menyapa lalu membacanya. 🙂

Dan, berikut sedikut nulikan dari novel terbaru saya. Membagi Rindu.

PROLOG
Ia berdiri dengan gamang. Tangan kirinya mencengkeram erat bagian depan piyama rumah sakit yang ia kenakan. Dadanya terasa begitu sesak saat ini, hingga membuat ujung matanya berair dan isaknya tak mampu ia bendung lagi.
Mati!
Ya, itu adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Meninggalkan semua luka yang datang bertubi-tubi di kehidupannya. Bahwa dengan ini, tak akan ada lagi penderitaan yang harus ia tanggung seorang diri.
Matanya sekali lagi memandang ke bawah. Tampak sekumpulan anak manusia sibuk meneriakinya, agar ia mengurungkan niat untuk terjun dari atas gedung ini.
“Rain! Hidup lo masih panjang …!” teriak Nadia di belakang tubuh Rain dengan air muka penuh cemas, karena tak menjaganya dengan benar. Ia ketakutan setengah mati.
Rain menghapus cetakan basah di pipinya lantas mengangkat tangan kanannya: mengisyaratkan tak ada yang ingin ia dengarkan saat ini. Ia kemudian melangkahkan satu kakinya, membuat debu dan kerikil itu beterbangan. Dan …, jatuh.

SATU
#RAIN: Berlin, 26 Maret 2009 …
Cewek berambut pirang kecokelatan yang memakai munze berwarna abu-abu itu berjalan menyusuri trotoar, yang sebagian jalannya masih tertutup oleh salju. Di kejauhan pun, terlihat atap Zeiss-Grossplanetarium memutih oleh butiran es tersebut. Gedung teater terbesar di Berlin itu, tak ubahnya bangunan tua dalam dongeng Cinderella.

Ini adalah kali pertama ia berada di sini pada suhu yang cukup ekstrim. Bahkan, pakaian tebal berlapis jaket katun yang ditambah lilitan syal di lehernya pun, tak mampu menyembunyikan gemeletuk giginya. Ia hanya bisa menggigit bibir dan menggosok-gosokkan telapak tangannya yang terlapisi oleh sarung tangan, mengusir rasa dingin yang hampir membuatnya kesulitan bernapas.
Langkahnya terhenti pada sebuah rumah kecil berdesain Eropa kuno yang memiliki halaman lumayan luas; cukup menyenangkan untuk sekadar bermain lempar-lemparan bola salju di musim dingin seperti ini.
Sesaat, pandangannya tertuju pada satu pohon linden yang tak berdaun di dekat ayunan kayu—samping rumah. Matanya tiba-tiba menghangat, ia bergegas melanjutkan langkahnya untuk masuk ke rumah.
“Guten tag?” ucapnya sambil membuka pintu kayu yang seketika berderit.
Wanita paruh baya, bermata biru, dan berpostur sedikit besar dengan kaca mata bulat tampak berlari kecil menghampirinya, bahkan ia terlupa akan adonan kue yang masih berada di tangannya.
“Rain?” sambut wanita itu setengah terpekik.
Rain hanya tersenyum kecil melihat tingkah Oma, seraya melepaskan sepatu boot dan menggantungkan jaketnya pada gantungan samping pintu masuk.
“Oma selalu khawatir denganmu. Apalagi jika kau pergi sendiri.”
“Oma …, sebelum Rain pulang ke Indonesia, Rain ingin menikmati keindahan kota Berlin sendirian.”
Oma hanya mengangguk pelan seraya memijat keningnya sendiri. Ia heran dengan tingkah Rain yang kadang-kadang selalu bertindak di luar dugaannya, dan itu membuatnya cukup khawatir.
“Istirahatlah, Oma akan buatkan café latte dan kuchen untukmu. Cukup untuk mengusir udara sore ini yang amat dingin.”
Pipi Rain seketika bersemu merah mendengar ucapan Oma yang terdengar begitu tulus. Ia lantas berjalan ke ruangan paling kecil di sudut rumah ini. Ruang televisi dekat jendela yang selalu membuatnya betah untuk berlama-lama di sana.
Ia duduk di atas sofa bundar, hanya untuk melihat beberapa album foto kenangan yang tertata rapi di rak samping tubuhnya. Lama ia memandangi lembar demi lembar foto mamanya yang masih tersisa. Kerinduan itu seketika menyergapnya. Kenangan indah tiga tahun lalu bersama almarhumah mamanya, tiba-tiba melintas di benaknya. Mereka pernah menghabiskan waktu hanya untuk membuat snowman, dan memberinya tangan dari ranting pohon linden di depan rumah.
Papanya telah berubah, tak seperti dulu. Ia selalu saja sibuk dengan urusan kantor. Tak pernah meluangkan waktu untuknya sedikit pun. Bahkan sampai saat ini. Ia lebih sering membiarkannya berlibur sendiri dan hanya mengantarnya sampai di tujuan. Tak lebih! Bahkan setelah itu, ia langsung pulang ke Indonesia.
Rain menghela napas panjang. Mengingat setahun lalu, papanya memutuskan untuk menikah lagi. Ia tak pernah membenci papanya. Ia hanya merasa kecewa dengan tindakan papanya, hanya itu.
“Melamun saja …,” tegur Oma yang berjalan pelan membawa kopi dan makanan ringan di atas nampan kayu.
“Eh, Oma,” Rain seketika meletakkan album foto tersebut sekenanya dan membenahi posisi duduknya lebih sopan. “Minggu ini Rain pulang.”
Oma sedikit tak memedulikan ucapan Rain barusan. Ia meletakkan kopi dengan uap yang masih mengepulkan asap tipis dan kue ringan di atas meja persegi. Ia sedang tak berkonsentrasi penuh dengan apa yang dilakukan. Ia mencoba untuk bersikap wajar, meski sebenarnya menyembunyikan kegundahan hati teramat dalam, akan tinggal sendiri lagi di sini. Mengisi hari-hari monotonnya dengan hanya menonton televisi dan mendengarkan lagu-lagu klasik yang diputar dari gramophone sebagai hiburan.
“Oma jangan sedih,” Rain mengambil satu kue di atas piring, lantas menggigitnya sedikit. “Mungkin setiap hari Rain akan menghabiskan banyak pulsa untuk menelepon Oma dari Indonesia, hanya untuk mengobati rasa rindu.”
Rain lalu menatap jauh ke mata Oma yang terlihat begitu resah.
Oma tersenyum, meletakkan nampannya di atas meja. Kemudian menghampiri Rain dan duduk di sebelahnya.
“Kau bisa saja. Fokuslah belajar untuk masuk SMA pilihanmu!” ujarnya seolah mengomel.
Rain melihat Oma dengan ekor matanya. “Oma terlalu melankolis dan cerewet seperti Mama.”
“Dan kau juga terlalu cerewet untuk menilai Oma. Persis, seperti Mamamu.”
Rain tertawa menanggapi pernyataan Oma. Ia menaikkan kedua kakinya perlahan, melipat dan mendekapnya erat hingga menyentuh dada. Pandangannya menerawang jauh ke luar jendela. Langit tampak pucat, ribuan butiran salju melayang-layang di udara dan jatuh menyatu dengan gumpalan salju yang menyelimuti hampir semua permukaan tanah. Dan kebersamaan hangat ini, mungkin akan segera hilang beberapa hari lagi. Tanpa sadar, bulir hangat itu menitik di ujung matanya. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menghujam ke ulu hatinya.
Ia benci dengan ini, kenapa semua perpisahan selalu memberi kesan yang menyedihkan?
#AWAN: Jakarta, 29 April 2009 …
Cowok berkulit cokelat, berambut ikal dan bermata sipit dengan jaket jeans belelnya itu berlari sekuat tenaga, melewati pemukiman dan gang-gang sempit. Tas punggung yang di bawanya bahkan tak menggantung sempurna. Napasnya terengah-engah berpacu dengan degub jantungnya yang kian tak beraturan, menghindari seseorang yang mengejarnya.
“Hah …, hah …, hah ….”
Ia bernapas lega kini, hatinya bersorak girang karena berhasil melewati kawanan bodyguard suruhan orang tuanya. Ia lantas memutuskan masuk ke sebuah gang kecil. Lebih tepatnya, masuk ke sebuah kolong jembatan.
Keringat dingin masih menetes membasahi pelipis dan rahangnya yang tegas. Ia mulai mengatur napas perlahan-lahan. Matanya tertuju pada rumah-rumah kardus yang banyak berjejer di sepanjang lorong ini. Namun, bukan itu yang sedang ia cari.
Langkahnya tertuju pada sebuah bangunan kecil. Dinding-dindingnya terbuat dari lempengan kayu yang dicat dengan warna biru, kuning, dan merah; menampakan keceriaan penghuninya. Terdapat dua buah jungkat jungkit, satu perosotan plastik dan juga ayunan di depan bangunan kecil ini. “Taman bacaan pelukis angin”.
Ia masih ingat, setahun lalu, ada dua orang mahasiswi di tepi jalan yang meminta sumbangan jalan untuk membangun sebuah taman bacaan. Saat itu, hatinya terketuk untuk membantu, dan bahkan hingga saat ini.
Ia mempercepat langkahnya, ingin bergegas masuk ke bangunan itu, sekali lagi melihat tas ranselnya yang penuh sesak. Ia tersenyum, hingga mencetak cekungan sudut di pipi kiri yang membuatnya terlihat manis. Ia tak sabar ingin segera menyerahkan isi dalam tasnya.
Tapi mendadak, cowok itu terhenti di ambang pintu. Matanya sedikit panas melihat seseorang yang berdiri di sana, dan memandangi seisi ruangan dengan sinis. Wanita yang mengenakan blazzer berwarna hitam pekat itu seketika memandangnya dengan menggelengkan kepala.
“Awan?!”
“Mmma-ma?” ucap Awan kaget, menelan ludah.
“Jadi di sini setiap hari kamu menghabiskan waktu, hem?!”
Awan tertunduk lemas, ternyata mamanya jauh lebih cekatan mencari tahu keberadaannya.
Wanita itu segera mengambil handphone dari tasnya, menekan beberapa tombol dengan telunjuknya yang runcing dan mendekatkannya ke telinga.
Awan tahu ini kondisi yang tidak baik, ia segera membalikkan tubuhnya, bermaksud meninggalkan tempat ini sesegera mungkin yang ia bisa. Tapi niatnya menjadi sia-sia ketika dua orang bodyguard telah berdiri tegap di hadapannya. Dan dengan sigap segera menyekal lengan Awan dengan paksa.
“Apa-apaan ini?! Lepaskan!” Awan mencoba berontak. “Tapi Ma …,”
“Kamu tidak perlu khawatir! Mama sudah memberikan dana lebih untuk rumah kumuh ini. Iya, kan?” ujarnya dengan senyum licik, lantas menoleh ke samping, ke arah gadis berjilbab yang tengah tertunduk lesu di salah satu sudut ruangan.
“Jadi, kalau kamu coba-coba datang ke sini lagi, dan bergaul dengan orang miskin, Mama nggak akan segan-segan merobohkan bagunan ini!”
“Ma, tapi ini ….”
“Ikut Mama pulang sekarang, atau Mama benar-benar akan melakukan hal yang buruk pada bangunan ini?!” Wanita itu melangkahkan kakinya keluar.
“Ma, aku mohon!” Awan meronta, berharap bisa lepas dari jeratan kedua manusia bertubuh besar di sampingnya. Namun tetap saja, usahanya tak membuahkan hasil. Kekuatan remaja limabelas tahun itu terlalu jauh dibandingkan dengan mereka. Harapannya sirna, gagal sudah niatnya untuk memberikan beberapa buku bacaan dan sedikit uang yang jauh-jauh hari telah ia persiapkan.
Awan memandang sekali lagi taman bacaan yang perlahan sirna dari pandangannya.
Mana mungkin ia akan melupakan taman bacaan ini begitu saja, takkan terjadi! Itu janji hatinya. Untuk saat ini, ia membiarkan mamanya tersenyum penuh kemenangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s