LARI, DIMUAT DI MAJALAH HAI EDISI 01, 5-12 JANUARI 2015


10929022_1034289546588340_8522398177049263513_n

Cerpen keempat di Majalah Hai. Cerpen yang ditulis di buku paska tragedi hilangnya laptop itu. Haha, awalnya sedikit kagok sih nulis di buku lagi, tapi ternyata lama-lama enak juga. Dan jadi beberapa cerpen lain juga. 😀 Yay!

Judul awalnya “Lari, Dyko! Cepat!” cerpen yang menurut saya sendiri sederhana, seperti cerpen-cerpen saya sebelumnya. Saya pikir setiap orang pernah mengalami kegagalan. Dari situlah ide awalnya ada. Em, lebih tepatnya berasal dari satu dialog yang mengendap di kepala 🙂 Lalu baca-baca artikel tentang atlet lari, dan ditambah refrensi dari cerpen Kak Hairi. Jadilah cerpen ini dengan judul yang dipersingkat, LARI 🙂 Dikirim tanggal 11 Desember dan dapat kabar 23 Desember. Cukup kaget, pasalnya cerpen sebelumnya yang dimuat menunggu antara 1-5 bulan. 🙂 🙂

Ceritanya enak dibaca. Ringan tapi menyentuh.

Nah, karena keunikan cerpen kamu ini, cerpen kamu layak tayang di HAI No. 01 yang terbit 5 Januari 2015 (kalaupun ada perubahan, biasanya maju atau mundur satu atau dua edisi). Jadi, jaga tgl terbitnya ya dan jangan kapok utk kirim cerpen lagi ke HAI okay

Surat cinta dari Hai yang pasti selalu bikin senyum-senyum 🙂

Selamat membaca. Belum bisa bikin cerpen yang wah, tapi semoga bermanfaat. 🙂 🙂 Semoga bisa menulis lebih baik lagi dari ini. 

Pemuda itu membanting pintu studio dan langsung menuju ke arah gitar yang biasa dimainkannya. Tampangnya kusut dan dia terlihat berantakan. Pun, melodi yang dimainkannya saat ini sungguh tidak karuan.

“Hei! Berisik sekali kau!”

Pemuda itu menghentikan petikan gitarnya. Nada-nada sember itu segera menguap di udara begitu mendengar suara protes dari arah …, drum?Sungguh tidak lucu jika dia menganggap drum itu dapat berbicara.Tapi, dugaan konyolnya itu segera terbantahkan begitu melihat gadis bertampang innocent yang selang beberapa detik berdiri dan dia mengenalinya.

Hei …, bukankah itu, “Melisa? Apa yang kau lakukan di situ?”

Gadis bernama Melisa itu merentangkan tangannya danmenguap.

“Kau membangunkanku sebelum waktunya, Dyko!”katanya seraya melotot. “Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini? Bukankah ini Minggu? Dan kalian, maksudku kau, Joe dan juga Dru ke sini hanya setiap Sabtu sore, kan?”

Ditanya seperti itu Dyko gelagapan. Dia sama sekalit idak pandai berbohong. Hari ini dia sungguh frustasi, dan berharap gitar dapat menghiburnya yang tengah kacau.

Melisa, si anak pemilik studio sekaligus teman sekelas Dyko di SMA Bakti Nusa, menatapnya penuh curiga.

“Oh iya,” Melisa seperti ingat sesuatu.”Bukankah sore ini kau akan mengikuti lomba lari?”

“Ah, itu ….”

“Kau tidak bermaksud menghindar, kan?” Melisa sengaja tidak memberikan kesempatan pemuda di depannya berbicara. “Hei! Ini masih pukul delapan dan karena kau sudah menggangguku. Bagaimana jika kita jalan-jalan dulu?”

Dyko ingin mengatakan tidak, “Aku …”

Gadis itu lalu menguncir rambutnya asal. “Pagi ini udara di sekitar sangat sejuk, dan tentu saja kau juga harus mentraktirku! Oke? Jangan bilang tidak, karena aku tidak suka mendengar kata itu!”

Melisa langsung keluar dari studio tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu dari Dyko.Terdengar suara pintu tertutup.

“Gadis itu licik sekali!” gerutu pemuda itu sambil melihat isi dompetnya. “Harusnya aku tidak datang ke sini tadi!”

Shit!

***

“Kuperhatikan, kau diam saja dari tadi!” Melisa menengok ke samping kiri. Lalu, memakan kembali cotton candy yang ada di tangannya. “Apa karena aku merampokmu hari ini?”

Dyko diam, kemudian tertarik untuk duduk di kursi panjangyang tersedia di trotoar. Dia membersihkan daun yang mengotori kursi itu sebelum duduk. Melisa pun menyusulnya duduk di samping.

Gadis itu tidak mau berpura-pura lagi. Dia cukup tahu,Dyko bersikap seperti ini karena apa.

“Hei …, aku tahu lomba ini sangat pentinguntukmu.” Melisa diam sejenak, menepuk bahu pemuda disebelahnya. “Kau tidak akan menyia-nyiakannya bukan?”

Dyko memasukkan kedua tangannya di saku jaket. Benar kata Melisa, udara kota Malang pagi ini benar-benar sejuk. Dia lalu memejamkan mata, mendengar suara burung dan dia masih enggan untuk berkata.

Melisa mencomot kembali cotton candy-nya dan menyodorkan sebagian pada Dyko. “Kau mau?”

Dyko tertawa sinis. Dia akhirnya berkata, “Hei, gadis kancil! Aku hanya tidak tahu apakah aku harus mengikuti perlombaan itu atau tidak.”

Melisa membulatkan mata. Dia salah dengar? “Maksudmu?”

“Mama dan Papa baru kembali besok dari seminar di Jakarta,” kata Dyko seraya mengembuskan napas kecewa. “Dan, kau tahu si kembar Joe dan Dru memberikanku kabar mendadak, kalau mereka tidak bisa datang karena ternyata hari ini mereka harus berlibur bersama kedua orangtuanya ke Solo.”

“Oh …, hanya itu?”

Dyko mencebik. “Aku sudah gagal dua kali! Bukankah kau tahu itu?”

“Ya, tapi apakah hanya karena itu, sekarang kau ingin menyerah?” Melisa berkata sungguh-sungguh. “Hanya itu?”

Dyko melempar muka, menghindarikontak mata dengan Melisa yangkini menatapnyatanpa berkedip.

“Kenapa kau berbicara hanya itu terus? Harusnya kau tidak membuatku semakin terlihat bodoh saat ini,” Dyko menggigit bibir. Frustasi. “Kau tahu, Miko? Ya, dia selalu mendapatkan yang dia inginkan. Dan tahun kemarin dia mengalahkanku! Papanya adalah teman papaku, dan akhirnya papa selalu membandingkanku dengannya. Sialnya lagi sekarang dia berpacaran dengan gadisku!”

Untuk yang terakhir, dia kelepasan berbicara. Dia baru putus dari pacarnya.

“Konyol sekali. Siapa itu Miko? Aku tidak mengenalnya,” ucap Melisa dusta. “Dan, aku kira selama ini kau adalah motivatorku. Aku pernah diremehkan karena nilai bahasa inggrisku amatlah buruk semester kemarin. Aku melihatmu mengikuti lomba lari lagi, setelah sebelumnya kau pernah gagal.Dari sanalah aku mencoba juga dengan lebih giat belajar. Tapi hari ini, aku melihat motivator yang salah. Ke mana Dyko yang kukenal? Ke mana kalimat ajaib yang kau ucapkan padaku waktu itu?”

Melisa lalu beranjak dari posisi duduknya, pergi dengan wajah menunduk. “Jangan ikuti aku!”

Dyko pun hanya bisa tertegun. Bergeming, tanpa bisa mencegah kepergian gadis itu. Dan sesaat, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Mengganjal,dan dia bingung lalu memutuskan berputar arah.

Mencoba lari dari masalah.

***

“Lari Dyko! Cepat!”

Dyko menatap jengah pada gadis yang bersorak dengan toa di barisan penonton tanpa rasa malu. Ternyata gadis itu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, apabila tidak mau mendukungnya. Serta, ada beberapa gadis yang memakai topeng bergambar mama, papa, dan duo kembar sahabatnya. Ah, jujur,dia terharu melihatnya meski itu tampak aneh.

Dyko mengambil ancang-ancang. Suara tembakan segera meluncur di udara. Dia berlari. Kencang. Napasnya memburu. Di lintasan berbelok dia melakukan kesalahan, terjatuh. Dia ingat, dia pernah diremehkan. Penonton menyorakinya saat keluar dari lintasan dengan kaki tertatih. Lalu, dia bangkit. Dan tak lama ketika dia hampir menyentuh garis finish seseorang berbuat curang padanya, tidak ada yang mengetahui hal itu, hingga membuatnya kembali terjatuh. Dan, saat itu Miko menang.

“Lari Dyko! Lari!”

Dyko tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum. Menatap ke arah Melisa yang terus berteriak. Kali ini, dia benar-benar mengambil ancang-ancang. Berlari. Bersungguh-sungguh. Seperti yang didengarnya tadi. Lari, Dyko! Cepat! Dia tidak akan menyerah.

Seperti dulu, dia tidak percaya pada kata kalah. Kini, baik Dyko maupun Melisa berkata lirih, “Aku hanya percaya. Aku harus mencoba lagi, lagi, hingga menang.”

Sore itu ada banyak jiwa yang tersenyum. Pun, tak mencoba lari kenyataan.

10929550_779259208788641_7898687820756851305_n

Iklan

4 thoughts on “LARI, DIMUAT DI MAJALAH HAI EDISI 01, 5-12 JANUARI 2015

  1. Wah, aku jd kepengen ngirim cerpenku jg ke majalah HAI. Oh ya, klo ngirim ke sana, format subyek emailnya ditulis kyk gimana ya? Apa langsung tulis nama aku sama judul cerpen yg aku kirim aja atau gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s