Resensi, Dimuat di Perada Koran Jakarta 28 Agustus 2014


Ini merupakan resensi saya yang ke-4 di Koran Jakarta. Sedikit kaget karena sudah beberapa kali mengirim, sudah lama, dan sempat berpikir macam-macam haha …. kenapa nggak dimuat-dimuat? XD #skip

Memilih Sabtu Bersama Bapak karena ceritanya sedikit beda, dan saya suka novel ini sehingga setelah membaca langsung terpikir untuk membuat resensinya, jadi, sorenya langsung dikirim.

Berikut versi asli resensi saya karena beberapa bagian ada yang diubah. 🙂

BELAJAR MENJADI SEORANG BAPAK YANG BIJAKSANA UNTUK KELUARGA

 

Judul Buku                  :Sabtu Bersama Bapak

Penulis                         :Adhitya Mulya

Penerbit                       :GagasMedia

Tahun Terbit                : 2014

Tebal                           :277 halaman

ISBN                           :978-979-780-721-4

Setiap anak akan beranjak menjadi remaja, dewasa, lalu memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikah dan menjadi orang tua bagi anak-anaknya. Begitu pula dengan Novel ini.Bercerita tentang seorang Bapak yang ingin selalu berada bersama kedua anaknya,menemani mereka hingga dewasa meski telah berbeda media.

Gunawan Garnida, Bapak dari keluarga sederhana memiliki istri bernama Itje dan dua anaknya, Satya serta Cakra (Saka). Ketika mengetahui umurnya tak panjang lagi karena kanker, pula saat itu kedua anaknya masih kecil. Sang Bapak merencanakan ide luar biasa agar bisa menemani anak-anaknya hingga mereka dewasa tanpa menghilangkan sosok seorang Bapak. Dan sebelum meninggal Bapak merekam ratusan video dirinya dengan bermodalkan handycam.

Setiap Sabtu baik Satya maupun Cakra selalu menonton video sang Bapak. Hal itu sudah seperti rutinitas bagi mereka setiap minggunya.

Di lain waktu, Ibu Itje menemukanCakra—si Bungsu, menangis dalam sepi. Menutup mukanya dengan bantal. Menyadari bahwa dia beruntung tidak kehilangan sosok Bapak setelah meninggal. Menyadari betapa dia merindukan beliau juga. Terkadang, Cakra memutar video sampai pagi.(hal. 7)

Satya dan Cakra tumbuh dewasa bersama petuah dan pesan dari video Bapak. Cakra yang bekerja di Bank POD sebagai Deputy of Direktor, sukses dan telah memiliki rumah sendiri diusianya yang menginjak 30 tahun namun masih sendiri. Hal itu pula yang membuat Ibu Itje dan teman-teman Cakra khawatir, lantas sibuk mencarikan jodoh. (hal. 10) Sedangkan, Satya dewasa menjadi pribadi yang emosional dan tempramen, terlebih pada ketiga anaknya bersama Risaa: Ryan, Miku dan Dani. (hal. 28) Pun Ibu Itje sendiri, seorang single parent  dan pengusaha restoran dengan problem yang dihadapi tanpa ingin merepotkan kedua anaknya. Dia akan menjalani operasi. (hal. 63)

Sabtu Bersama Bapak. Novel yang banyak mengajarkan arti sebuah perencanaan, terlebih pada pria untuk keluarga kedepannya. Banyak pesan dan quote manis dalam novel ini, namun tidak terkesan menggurui. Seperti.

“Iya, sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. Mamah tahu itu. Bapak jugagitu, dulu.” (hal. 17)

“Waktu dulu kita jadi anak, kita gak nyusahin orang tua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak.” (hal. 68)

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orang tua untuk semua anak.” (hal. 106)

“Laki atau perempuan yang baik itu,gak bikin pasangannya cemburu. Laki atau perempuan yang baik itu, bikin orang lain cemburu sama pasangannya.” (hal. 227)

Ada pula bagian lucu ketika membahas tentang kejombloan Cakra seperti pada halaman 12-14. “ …. Apakah Cakra benar-benar suka pada wanita? Apakah Cakra tidak bohong ketika dia bilang dia suka wanita? Klarifikasi dari Cakra kepada seluruh saudara bahwa dia tidak perlu dikenalkan pada wanita. Benar-benar sangat haikul yakin, jamin 100%,tidak perlu dikenalkan pada pria. Bersumpah demi Allah tentang poin 7 dan 8 di depan gambar kakbah dan di atas sajadah.” Serta ada beberapa bagian lainnyayang membuat pembaca akan terpingkal.

Novel ini menjadi angin segar ditengah banyaknya novel roman yang beredar di toko buku. Ada cinta, tawa, sedih dan kesan mendalam dalam novel ini pada sosok Bapak.

Versi Koran Jakarta

http://www.koran-jakarta.com/?18943-menjadi-ayah-yang-bijak-bagi-keluaga

Jika kamu ingin mengirimkan resensi ke koran jakarta, bisa ditengok di catatan saya yang ini. 🙂 Nggak perlu panjang-panjang, paling enak patokannya sekitar 3500 cws-an aja sekitar 2 halaman spasi 1,5. 🙂

Selamat mencoba. ^^

https://www.facebook.com/notes/koko-ferdie/resensi-dimuat-di-perada-koran-jakarta-4-januari-2014/719626971391614SABTU BERSAMA BAPAK

Iklan

3 thoughts on “Resensi, Dimuat di Perada Koran Jakarta 28 Agustus 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s