The Reason


Ini merupakan cerpen pertama yang berani saya publikasikan di note facebook sekitar Desember 2012 lalu. Masih ingat ketika beberapa kenalan–sepertinya boleh dibilang baru kenal di grup–saya inbox tulisan ini dan tidak ada yang merespon. 😦 #Jleb

Saya baru sadar kalau telah menghapus cerpen ini dari note fb. 😦 *ubek-ubek note. Apa yang saya pikirkan waktu itu? >_<

 

Pasti masih banyak kesalahan. Tapi, selamat membaca. ^_^

Gambar

 

 

Dia selalu menggangguku setiap kali berpikir. Lelaki paruh baya dengan kumis perpaduan hitam dan putih, serta rambutnya yang cepak beruban. Kulitnya hitam legam, karena sering tersengat cahaya matahari, atau mungkin dia benar-benar bersahabat dengannya?
Aku terpaksa berdiam diri di rumah untuk hukuman yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Hanya karena nilai raporku di bawah rata-rata dibandingkan yang lain. Lagi-lagi pak Fauzi datang ke rumah. Padahal aku mendapatkan nilai itu karena cara mengajarnya yang sulit masuk di otakku.
Aku mengambil raporku kembali setelah omelan-omelan berdesing bising di telingaku. Mama dan papa rasanya sama kompak ketika aku terpojok seperti ini. Mereka selalu serasi mengatakan, “Mama dan Papa seperti ini tak lain untuk masa depanmu, Sayang.”
Kulihat tak ada yang aneh dengan nilai raporku, kurasa ini malah seperti sebuah seni. Apa salahnya dengan nilai; tujuh, tujuh koma enam, EMPAT? Mungkin satu angka itu yang sedikit membuat mataku perih melihatnya. Nilai matematika yang paling buruk sepanjang aku sekolah.
Bagiku saat ini, Matematika itu makin teliti makin tidak karuan hasilnya.
***
Kurasa, kantin seriuh ini adalah nyanyian alam termerdu di sekolah. Sayangnya, kelasku teramat menyimpan misteri. Hanya ada dering suara gesekan spidol di papan tulis. Selebihnya hanya suara sumbang ilmu yang belum berhasil menggerakkan otakku ini. Aku tak tahu semenjak kapan aku menjadi bodoh seperti saat ini. Dulu waktu SMP kurasa aku bisa mendapatkan nilai dengan rata-rata delapan sekaligus. Juara kelas, itu bukan suatu yang mengagetkan bagiku.
Mungkin, dialah alasanku.
“Woy! Nglamun aja, Bro?”
“Sial! Nih, lihat!”
“Jiah, surat peringatan, yang sabar bro! Masih setahun lagi kita kelas dua belas.”
“Nggak tahu deh. Pusing! Aku belum yakin bisa lulus atau enggak nanti.”
“Sudahlah, optimis!” Evan menepuk pundakku pelan. “Eh, ngomong-ngomong, bakso di depan itu kayaknya nganggur aja dari tadi.”
“Dasar, tahu aja yang enak. Ambil deh!”
***
Aku melihatnya dari kejauhan. Gadis manis yang telah lama aku rindukan, Ririn. Dia adalah sainganku sewaktu kami satu kelas di kelas sembilan, dalam hal prestasi. Dia tampak berjalan mendekat ke arahku.
“Hai, Riko?”
“Aku hampir pangling lihat kamu tadi.”
“Benarkah? Aku tadi sempat kaget waktu nerima SMS dari kamu. Lama nggak ketemu ya.”
“E …, iya. Aku dapat nomermu dari Tiara tadi.”
“Oh, sepertinya ada hal penting. Ada apa ya?”
“Eng, jangan di sini deh. Nggak enak banyak teman-temanmu. Naik motorku dulu, nanti baru aku ceritakan.”
“E …, iya deh.”
***
“Ow begitu ceritanya.”
“Ya. Seperti itulah, aku merasa menjadi aneh dan tak hidup lagi di SMA.”
Kulihat, dia sedikit mengerutkan keningnya dengan pipi yang selalu dia kembungkan. Kuyakin setelah ini akan muncul kata-kata aneh keluar dari mulutnya yang bisa memotivasiku seperti masa-masa dulu. Dia sempat mengisi kerongkongannya dengan beberapa teguk jus jambu sebelum akhirnya kata-kata anehnya muncul.
“Em …, seperti halnya dawai gitar yang kapan saja bisa putus dari tempatnya, seperti itulah kamu. Kamu adalah gitar dan dawai-dawai itu adalah temanmu. Kamu takkan selalu membutuhkan dawai-dawai yang putus itu untuk kamu gunakan lagi. Tapi, kamu tak harus membuangnya, kamu masih bisa menyimpannya.”
“Aneh ya?”
“Aneh memang, tetapi itu realitanya. Perlahan, kamu harus belajar hidup mandiri. Kamu masih bisa menemuiku, belajar bersama, dan ….”
Aku segera memotong kalimatnya, “Melihat poni petalmu? Haha ….”
***
“Turun sini saja, Ko!”
“Hah? bener sini aja?”
Sebuah perempatan dengan latar belakang gedung-gedung tinggi serta toko-toko elektronik menambah hawa panas senja ini. Dia pun turun dengan sukses menginjak badan trotoar.
“Kamu tuh berasal dari planet mana sih, Rin? Kenapa semenjak dulu aku nggak pernah boleh melihat rumahmu?”
“Karena kamu sahabat seplanet dan se-soulmate denganku, jadi aku nggak ingin membuatmu risih dengan seseorang di rumahku.”
“Seharusnya tuh …,”
“Sssttt …! Kamu cepat pulang gih! Mama papamu di rumah pasti sudah kangen berat denganmu. Lagian aku juga sudah nggak tahan dengan bau badanmu.”
Secara reflek aku pun mengendus bajuku. Kurasa tak ada yang aneh. Bagiku ini aroma lelaki.
“Ah, masak sih bau? Ya udah, dari pada bau ini makin menjadi di sini. Aku pulang dulu.”
***
Aku tak tahu mantera apa yang sesungguhnya ada pada sosok Ririn. Kenapa ucapannya selalu membuatku terpacu dengan sempurna mengikuti apa yang disarankannya. Untuk beberapa hari terakhir ini, Pak Fauzi hanya geleng-geleng melihat perubahanku. Nilaiku mulai membaik.
Kurasakan empuknya busa kasur ini ikut menenggelamkanku memikirkan si gadis planet itu. Dia bukanlah pemakan segala, karena acap kali aku mengajaknya makan mulai dari restoran china, restoran cepat saji, ataupun italia dan sebagainya, dia sama sekali tak tertarik untuk mencicipinya. Dia sering mengingatkanku “Cintailah produk bangsa kita sendiri”. Bagiku itu terdengar lucu dan menggelitik di telingaku. Mungkin, dia lebih cocok sebagai salles penjual dagangan indonesia.
Ririn. Dia itu aneh, bagaimana bisa aku memikirkannya. Dia pendek dan nggak cantik, serta pemikirannya selalu aneh bagiku. Gila! Dia benar-benar membuatku candu memikirkannya.
***
Kulihat dari kejauhan, sosok ringkih yang aku kenal sedang menuntun sepeda tuanya dengan terseok-seok di jalanan aspal. Ada perasaan ingin menertawakannya. Tapi sayangnya, hatiku tak sekejam itu. Kupelankan motorku saat mulai berada di dekatnya.
“Kenapa, Pak, sepedanya?” tanyaku basa-basi
“Nggak papa. Sudah berangkatlah sana!” ucapnya sinis
Mendengar ucapannya hatiku sedikit mengeras. Ini membuat telingaku terasa bertambah tebal satu inci, tapi melihatnya demikian aku jadi teringat Papa. Seandainya Papa seperti ini, apa mungkin aku membiarkannya?
“E …, bannya bocor ya, Pak?”
Sama sekali dia tak menghiraukanku. Dia tetap bersi keras mendorong sepedanya.
“Em, bareng saya aja pak gimana? E, kita bisa menitipkan sepeda bapak dulu di tempat tambal ban terdekat?”
Dia tak menggubrisku untuk kesekian kalinya.
“E …, hari ini bukannya jam pertama bapak yang mengisi, hari ini ada ulangan, kan?”
Dia pun menghentikan langkahnya dengan tatapan serius diarahkannya padaku. “Sudahlah, berangkat sana! Atau kamu mau bapak remidi lagi?”
“Sebenarnya saya benci sama bapak, tapi saya sadar. Saya bodoh karena bapak dan saya tidak mau terlihat bodoh lagi di depan bapak. Jadi terimalah tawaran saya!”
Kulihat dia sempat berpikir sebelum akhirnya dia menuntun sepedanya lagi. Aku pun mematikan mesin motorku
“Kalo bapak memang nggak mau. Saya akan menuntun motor ini seperti bapak.”
Aku pun turun dan menuntun motorku di sampingnya.
“Kamu terlihat semakin bodoh.”
“Setidaknya saya ingin jadi orang baik.”
Mendengar ucapanku demikian, dia pun pasrah pada keputusan terakhir. Aku pun memboncengnya dan menitipkan sepeda bututnya di tempat tambal ban samping sekolah.
***
Lukisan-lukisan di cafe ini seakan tak menarik bagiku, pandanganku lebih fokus pada sosok manis yang sedang menghabiskan kuah mie ayam di depanku.
“Kalau dilihat terus, kecantikanku bisa nambah lho. Hehe ….”
“Beh, lihat tuh bekas saos nongol di bawah bibir kamu,” ledekku sambil menyerahkan tissue padanya.
“Eh … Rin, aku merasa ada yang janggal lagi pada diriku,” ucapku datar
“E … masalah apalagi?”
Seketika tanganku diluar nalar bertemu dengan pergelangan tangannya yang lembut. Kurasakan denyut nadinya berdegub. Pipinya seketika memerah dengan ekspresi gugup dan malu melihatku.
“Tentang perasaanku padamu,” aku sedikit mengatur napas. “E … aku nggak pernah merasakan ini sebelumnya. Ketika aku coba memendamnya, aku malah terperangkap pada sebuah kata. Aku sayang sama kamu, Rin.”
Kulihat air mukanya mendadak gelisah. Tapi sebuah guratan di bibirnya mengisyaratkan sesuatu yang sulit untuk kujamah. Sebuah garis di keningnya semakin bertumpuk dengan membengkaknya ukuran pipinya. Sebuah embusan angin segar keluar dari mulutnya.
“Huft, aku ingin semua berjalan apa adanya. Kamu tetap sebagai sahabat se-soulmate seplanetku.”
“Oh …,” dengusku kecewa.
“Tapi, kamu pemilik hatiku.”
Semua terasa kacau. Seperti rumus trigonometri yang sulit kutemukan selisih sudutnya. Kurasa realita itu menyenangkan bila seperti ini.
Perasaanku nyatanya tak salah untuk memilihnya.
***
“Rin, udah sampai nih.”
“Mmm ….” desahnya panjang
“Hey, kamu ketiduran ya?”
“HAH! Astaga, kita di mana nih? Kurasa kita nggak berada di perempatan biasanya deh.”
“Di depan rumah kamu.”
“APA?!”
Kulihat dia berulang kali mengucek matanya memastikan ucapanku barusan.
“Kamu tahu dari mana?”
“Aku nggak sengaja mengikutimu kemarin. Habisnya ….”
“RIRIN!”
Aku mendengar suara parau di ujung pintu yang masih samar-samar wujudnya karena gelapnya hari. Kurasa dia mulai mendekat. Kulihat ekpresi Ririn dingin tak seperti biasanya.
“Ini bukanlah saat yang tepat kamu tahu rumahku, Ko,” ucapnya sedikit emosi.
Sosok itu mulai berwujud. Kilatan ubannya tersorot mengkilat oleh lampu jalan. Lelaki paruh baya yang telah lama menghuni otakku selama ini, muncul dengan sergahnya di hadapanku. Rahangnya terlihat sedikit lebih tegas dari biasanya dengan sorot mata yang tajam.
“Apa-apaan kamu pulang semalam ini? Apalagi lihat! Kamu pulang dengan laki-laki!”
“Dia ….”
“Maafkan saya, Pak. Saya nggak tahu kalau Ririn anak bapak.”
“Ririn! Kamu masuk!”
Kurasakan harum rambut Ririn mengepak-kepak di terpa angin menyentuh hidung dan sebagian mulutku. Dia berjalan lesu menuju pekarangan rumahnya. Setelah itu, bayangnya hilang dari pandanganku.
“Maafkan saya, Pak. Saya tahu kesalahan saya. Kuharap bapak nggak memarahi Ririn.”
“Apa urusanmu? Kamu tak perlu mendikteku soal cara mendidik anak. Kamu seharusnya tahu jam untuk ini!”
Seketika dia pun pergi meninggalkanku. Aneh. Dia sama sekali tak memarahiku dan ini terasa janggal. Perasaan bersalah menjadikanku tampak lebih bodoh. Tampangku mendadak lusuh tak karuan melihat ini.
***
Aku melihat Pak Fauzi tampak tak berselera denganku. Tak sedikit pun dia mengusik pikiranku dengan pelajaran sulit seperti biasanya. Lelucon garingnya tak kudengar lagi mengganggu pendengaranku. Kurasa gairahnya menurun karena kejadian semalam. Wajahnya sedikit lebih tenang. Sepertinya, dia telah benar-benar hilang dan tak menghuni kepalaku lagi.
Seperti biasa, aku menunggu Ririn di samping gerbang sekolahnya. Aku sangat khawatir denganya karena puluhan SMSku tak dibalasnya sama sekali, dan sampai sekarang nomernya masih belum bisa aku hubungi.
Semoga saja dia masih mau bicara denganku.
“RIN …!”
Seolah tak medengar suaraku, dia berlalu begitu saja berjalan di depanku. Aku pun bangkit dari jok motorku dan menyusulnya.
“Rin, gue pengin bicara sesuatu sama kamu. Kamu nggak papa, kan? Maafkan aku,” ucapku cemas.
Dia pun berhenti dan wajahnya tak secerah seperti biasanya.
“Aku nggak papa, kok. Papa hanya terlalu khawatir denganku. Maklum, dia satu-satunya orang tuaku yang masih hidup. Dia bilang, kamu sebenarnya anak yang baik.”
“Sungguh aku menyesal, Rin,” potongku cepat
“Dan Papa bisa menerima kamu dekat denganku …,”
Aku tak percaya mendengarnya. “APA?”
“Papa mengizinkan kita pacaran.”
“Hah? Aku nggak salah dengar, kan?”
Dia hanya mengangguk dan kulihat senyumnya mulai mengembang. Lebih parahnya aku senang kegirangan mendengarnya.
“Jadi kita bisa …,”
“Asalkan, nilai matematikamu sempurna dapat memuaskan papaku.”
“Ah, baiklah aku janji. Itu soal yang mudah.”
“Jangan berlagak pintar deh! Kali ini aku nggak akan membantumu.”
“Apa?”
“Janji dari manusia planet kedua, kukunci!” Ririn tertawa puas setelahnya.
“Hey, aku masih belum berpikir tadi,” rengekku tak terima
“Ingat sudah ter-kun-ci.”
Astaga, lagi-lagi dia akan menghuni otakku.
Kulihat Ririn begitu senang melihatku menderita dalam ketergantungan ini. Sepertinya, aku memang harus belajar mandiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s