Menulis dengan Cinta Bersama Nurhayati Pujiastuti


Gambar

Menulis dengan cinta. Mungkin, seperti itulah yang ingin disampaikan Kak Nurhayati Pujiastuti kali ini. Menulis sejak kelas empat Sekolah Dasar. Namun, baru berani mengirimkan karyanya berupa puisi, saat kelas enam, ke majalah anak-anak TomTam tahun 1982 dan dimuat. Seorang yang mengaku cucu dari Ronggowarsito–Sastrawan dari Solo–ini mengatakan, jika sampai saat ini aku masih yakin kerja keras dalam menulis lebih utama ketimbang bakat turunan. Mengandalkan bakat tidak akan jadi.

Berikut wawancara dadakan saya dengan beliau. Langsung ke topik pembicaraan. ๐Ÿ˜€

Kakak lebih suka mengirim tulisan ke media, menulis buku atau …?

Dua duanya suka karena intinya menulisnya sendiri sudah aku suka. Jadi apapun medianya selama pesan itu sampai tidak masalah.

Kakak, kan, menulis sejak kecil sampai sekarang dan menulis apa pun selama bermanfaat. Pernah tidak mengalami bosan dalam menulis, ide berkelebatan namun tidak ada yang ditulis? Lantas apa yang kakak lakukan?

Nah itu masalahnya Ko. Aku kok tidak pernah ada pada posisi seperti itu. Dari dulu aku memang selalu menulis. Kalaupun ada hambatan itu biasanya ada yang aku tulis tapi perasaan gak nyambung sama tulisannya. Biasanya di titik itu, aku baca-baca buku atau ke luar rumah cari teman ngobrol.

Sebagai pemula nih, Kak. Beberapa ada yang merasa minder mengirimkan karyanya ke media. Nah, hal apa saja sih yang sekiranya perlu dimiliki untuk mengirmkan karya kita ke media tersebut?

Baca media yang ingin kita kirimi karya. Kalau aku menyentuh langsung media itu bukan sekadar cari di google. Karena menyentuh langsung akan membuat kita memiliki keterikatan dengan media tersebut. Di samping itu, kita jadi tahu gaya tulisan di media tersebut. Kalau hanya membaca lewat google dari postingan penulis, maka yang terbentuk di benak kita yang membaca adalah karya di media tersebut seperti karya A, atau media tersebut maunya menerima tulisan seperti tulisan penulis A. Hingga kita akhirnya menulis seperti gaya penulis A. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Yang kedua, penulis baru sering beranggapan bahwa penulis yang sudah punya nama akan mudah menembus media. Padahal media tidak melihat siapa penulisnya tapi karyanya.

Yang ketiga, ada yang suka malu mengirim naskah ke media dan tidak percaya diri. Kalau dulu aku mikirnya, yang meriksa tulisanku masih sama-sama manusia, sama-sama makan nasi dan kita gak ketemu muka kenapa harus takut?

Yang keempat, kirim ke media yang profesional. Jangan kirim ke media yang tidak menghargai penulis dengan honor.

Em, apakah kakak pernah mengalami penolakan naskah? Tidak ada kabar? Menurut Kakak bagian pahit atau manis dari menulis itu apas, sih? Atau mungkin manis semua? Hehe

Ditolak sampai sekarang pun masih Ko. Naskah tidak ada kabar kalau buku lebih enam bulan, aku bikin surat penarikan. Kalau naskah untuk koran atau majalah biasanya aku lupa Ko karena hampir setiap hari aku kirim naskah, dan aku malas lihat email ke mana naskahku.

Lagipula aku pikir kalau untuk naskah cerpen itu akan selalu ada ide baru kalau kita terus menulis. Jadi melupakan adalah jalan terbaik.

Bagian pahit dari nulis? Aku terlalu cinta dengan nulis KO, jadi bagian pahitnya tidak terasa. Mungkin karena semua yang pahit bisa aku jadikan tulisan.

Bagian yang manis ketika ada tulisanku yang sudah bertahun-tahun lalu masih diingat oleh yang membacanya dan membuat mereka berubah ke arah yang lebih baik.

Wah, berarti ada jadwalnya setiap hari untuk menulis dan kirim ya? Terharu dengan yang terakhir. Kalau boleh tahu, nih. Apa, sih, kekurangan atau kelebihan di setiap tulisan yang kakak buat?ย 

Setiap hari aku nulis, Ko. Jadwalnya setelah urusan rumah tangga selesai.

Kelebihan tulisanku? Yang bisa menilai itu orang lain Ko, bukannya aku. Yang jelas untuk setiap tulisan aku buatnya semaksimal mungkin dan selalu ingin menghadirkan ide yang beda.

Kekurangannya? Aku kurang bisa menulis yang bikin orang tertawa. Sebab aku lebih suka membuat tuisan yang membuat orang lain bisa merenung.

Prestasi apa yang sampai sekarang masih lekat dipikiran kakak selama menulis, sehingga membuat kakak harus terus berkarya?

Kebetulan setiap kemenangan lomba memang sudah aku targetkan untuk menang Ko. Karena aku ingin komplit sebagai penulis maka aku ikut semua jenis lomba. Lomba cerpen remaja, novel remaja, cerpen dewasa, novel dewasa, artikel, buku anak, semuanya aku mendapat juara. Jadi itu karena memang target.

Prestasi yang paling melekat itu IBF Award 2012, karena awalnya aku ingin coba nulis novel anak dan itu novel anak pertama yang aku buat.

Istimewanya waktu aku dapat Award itu aku dapat tambahan hadiah dari pak menteri berupa uang tambahan dan laptop warna biru kesukaanku. Padahal sebelum dan sesudahnya penerima Award hanya dapat hadiah uang piala dan sertifikat dari panitia saja.

Istimewanya lagi hadiah Award itu aku dapat tanggal 9 Maret, beberapa hari sesudah hari ulangtahunku dan beberapa hari sebelum hari pernikahanku plus aku terima pada saat anak bungsuku ulang tahun.

Soal prestasi gak ada hubunganya dengan terus menulis Ko. Karena tanpa menulis kepalaku pusing.

Wah, mungkin hadiah juga kali ya Kak dari-Nya. Berarti semua sudah ditargetkan untuk menang? *dicatet! Mungkin, dari sana juga kali ya hasilnya jadi baik juga.
Yang terakhir, nih, Kak. Apa pesan kakak pada penulis pemula agar lebih produktif?

Iya, semua yang ditargetkan untuk menang, Ko. Termasuk non fiksi juga aku pernah menang juara pertama kisah inspiratif.
Pesannya untuk penulis pemula agar lebih produktif cuma satu, Ko. Cinta. Kalau sudah cinta menulis maka produktifitas itu akan mengikuti. Luruskan niat dalam menulis. Karena jujur meski menulis sudah jadi pekerjaan tapi aku tetap menomor satukan cinta ketika menulis.

Tidak terasa perbincangan seru itu pun berakhir. Dan masih menunggu sharing berikutnya dengan beliau. Jika ingin membaca beberapa karya beliau yang pernah dimuat di media, bisa menuju ke blognya langsung: http://waroengkoe-rumahkreatif.blogspot.com ^_^

Berikut profil dan foto beberapa buku karangan beliau.

Profil Penulis.

Nurhayati Pujiastuti lahir di Jakarta 6 Maret 1970. Menulis sejak SD. Tulisan pertama berupa puisi dimuat di majalah Tomtam tahun 1982. Setelah itu lebih dari seribu tulisannya berupa puisi, artikel, cerpen cerbung, banyak bermunculan di media. Media yang sudah memuat tulisannya adalah Paras, Ummi, Kartini, Femina, Sekar, Annida, Gadis, Ceria, Anita, Aneka, Bobo, Kompas Anak, Joglo Semar, Solo Pos, Republika, Story, Suara Pembaruan, Sekar Penulis beberapa kali memenangkan lomba penulisan seperti : 1) Pemenang Lomba Kata Indah Harvest sebanyak lima kali. 2) Pemenang Lomba Cerita Bersambung Femina 2002 3)Pemenang Lomba Novel Femina 2003 4)Pemenang Novel Remaja Mizan 2002 5)Pemenang Lomba Cerita Bersambung Gadis 1993 6)Pemenang Lomba cerpen Anita 1993 7) Pemenang Pertama Lomba Bye bye Office Mic Publishing 8) Peraih IBF AWARD 2012 9) Pemenang Hiburan Perempuan Inspiratif NOVA 2012 10) Pemenang Harapan Lomba Cerpen Anak Jalanan. 11)Nominasi IBF Award 2013 Penulis pernah bekerja sebagai reporter dan supervisor.Saat ini penulis fokus menulis. Penulis menghasilkan 28 buku dari novel anak, remaja dan dewasa juga non fiksi remaja dan dewasa khusus rumah tangga.

Gambar

Buku terbaru beliau.

Gambar

 

NB: Sharing ini diperoleh dari inbox facebook. ๐Ÿ™‚

Nantikan sharing berikutnya dengan penulis hebat lainnya di rubrik “Secangkir Kopi”. ๐Ÿ™‚

Gambar

Iklan

One thought on “Menulis dengan Cinta Bersama Nurhayati Pujiastuti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s