TAKDIR CINTA DARI RAMALAN BINTANG (Dimuat di Perada Koran Jakarta 12 Pebruari 2014)


Ini resensi kedua saya yang dimuat di Koran Jakarta. Tidak mulus seperti yang pertama, karena yang ini mendapatkan beberapa catatan untuk direvisi. Kata seorang guru, jika mendapat catatan. Segeralah revisi dengan demikian redaktur akan senang terhadap respon kita. Dikirim hari Minggu dan dimuat hari Selasa.

 

Untuk syaratnya sendiri bisa dilihat di postingan saya sebelumnya:

 

 

https://www.facebook.com/notes/koko-ferdie/resensi-dimuat-di-perada-koran-jakarta-4-januari-2014/719626971391614

 

Masih belajar. 🙂 Berikut versi asli resensi saya.

 

 

TAKDIR CINTA DARI RAMALAN BINTANG

 

 

 

 

Judul Buku                  : Roller Coaster Cinta

Penulis                         : Aveus Har

Penerbit                       : Cakrawala (imprint Penerbit Media Pressindo)

Tahun Terbit                : Cetakan pertama, 2014

Tebal                           : 188 halaman

ISBN                           : 978-979-383-248-7

Harga                          : 35.000

Peresensi                     : Fredy H, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Ikip Budi Utomo Malang

 

            Siapa yang akan percaya dengan ramalan bintang di zaman yang sudah modern seperti saat ini? Mungkin, itu masih berlaku pada Iga Putri Mentari. Seorang siswa SMA kelas sepuluh, yang tak pernah absen dari majalah Chit Chat dan selalu menekuri rubrik zodiak di halaman dua belas. Dia yakin, jika ramalan di majalah tersebut tak pernah bohong. Sebab, dia selalu membuktikannya selama ini dengan beberapa kejadian yang hinggap di hidupnya dan tak ada satu pun yang meleset. Termasuk untuk urusan perasaannya. Iga sangat mengidolakan Tebing Samudra. Kakak kelasnya yang memesona dan membuatnya terobsesi untuk jadi kekasihnya karena sebuah ramalan bintang.

            Dan kebencianku berubah jadi cinta ketika sebulan lalu menemukan sebuah fakta dari majalah Chit Chat kesayanganku. Ini tentang kecocokan pasangan yang menjadi bonus edisinya—dicetak terpisah

dalam format tabel. Di situ tertulis: Aries dan Leo is the best couple. Artinya … aku dan Tebing ditakdirkan berjodoh! (halaman 13)

            Ramalan bintang mengatakan, akan ada yang menembak Iga minggu ini. Seperti biasa, Iga langsung curhat pada teman terdekatnya, Rani. Iga pun langsung menebak jika yang akan menembaknya adalah Tebing. Ramalan itu semakin diperkuat saat Iga tak sengaja berpapasan dengan Tebing pada hari Senin. Dan Tebing pun menyapa Iga dengan bertanya namanya. Tapi naasnya sampai dengan minggu terakhir Tebing tak kunjung menembaknya.

            Sampai sore, Tebing tidak muncul juga. Rasanya, aku ingin meneleponnya atau mengiriminya SMS. (halaman 22) Lagi-lagi Iga selalu berharap. Tapi ternyata yang meneleponnya bukan Tebing melainkan Ligo. Seorang yang mengaku anak kelas sebelah dan ngefans dengan dia.

            Tanpa menjawab, aku langsung mematikan telepon. Buru-buru ke belakang dan menuntaskan buang airku. Sepanjang itu pikiranku masih bertanya-tanya. Memangnya siapa sih Ligo ini? Bagaimana mungkin dia tiba-tiba menyatakan cinta? Lebih tepatnya, kenapa dia dan bukan Tebing? (halaman 24)

            Besoknya, Ligo pun menghampiri Iga di depan kelas. Dari penjelasan Rani, Ligo ini sering memperhatikan Iga, baik di kantin, di perpustakaan, di lapangan olahraga. Bahkan pernah membuatkan puisi untuk Iga, tapi tak pernah disadari olehnya. Jelas, Iga tahu jika Ligo tidak termasuk dalam list cowok tampan idamannya, karena di hatinya hanya ada Tebing. Namun, perjuangan Ligo tidak sampai di situ saja, dia terus berjuang untuk bisa mendapatkan hati Iga yang selalu cuek dan bersikap dingin padanya. Dan akhirnya Iga pun luluh juga.

            Tidak ada yang istimewa dengan kencan pertamaku dengan Ligo sore harinya. Kami hanya jalan-jalan mengitari mall lalu masuk ke KFC. (halaman 48)

            Meski sudah menjadi kekasih Ligo. Tapi, obsesi Iga tetap tertuju pada Tebing. Dan saat Iga mulai mencintai Ligo—sebab, semua ramalan bintangnya benar-benar menunjukkan jika cintanya adalah Ligo dan bukan Tebing—ada sebuah fakta yang menyedihkan membuat persahabatannya dengan Rani terpaksa bubar dan hubungannya dengan Ligo pun harus kandas.

            Sepulang sekolah aku mendekam di kamar. Majalah kesayanganku tergeletak begitu saja di samping kakiku. Aku sedang tidak mood untuk membacanya. Barangkali, aku tidak akan percaya lagi pada bintang cinta. (halaman 125)

             Novel setebal 188 halaman dengan memakai sudut pandang orang pertama sebagai pencerita ini memiliki tema yang unik. Setiap ramalan yang ditulis di awal bab membuat penasaran seperti apakah kelanjutan ceritanya. Gaya bertutur penulis pun lugas sehingga remaja bisa dengan mudah memahami isi ceritanya. Ada beberapa hal yang kurang dalam novel ini, seperti penggambaran fisik tokoh yang masih samar-samar kecuali Ligo yang sudah tampak jelas. Karakter Iga pun sedikit plin-plan menentukan perasaannya. Namun, itu semua terbalas saat mendekati bagian konflik dan penyelesaian cerita yang diramu dengan begitu baik oleh sang penulis. Ada beberapa rahasia yang terkuak di akhir cerita. Beberapa pesan pun terselip dalam novel ini. Salah satunya, ramalan tetaplah ramalan yang tidak bisa diyakini kebenarannya.

 

 Gambar

Ini versi webnya.  Ada kesalahan dalam pemilihan gambar. Tapi untuk versi cetaknya tidak demikian, kok. 🙂 🙂 Dan lagi, ternyata ada beberapa bagian yang diedit oleh Redakturnya, termasuk judul. Hehe

  

 

 

http://koran-jakarta.com/?5588-cinta%20harus%20dikejar,%20bukan%20menunggu%20ramalan%20mewujud

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s