MASIH (It’s Now or Never)


Kami sama-sama masih diam. Duduk berdua, sembari menatap keindahan pantai Losari di sore hari. Ada sesuatu yang sebenarnya begitu mengganjal dalam hatiku. Tapi, entahlah. Aku benar-benar belum bisa mengungkapkannya.

“Rio!” teriak Rayi membangunkan lamunanku.

“Hemmm.”

Kulihat, ekspresinya sedikit kesal atas responku yang terlihat tak mengenakkan.

“Kamu pernah merasakan jatuh cinta?” Ia menatapku mantap.

Jujur, aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Ia seperti bisa membaca pikiranku saat ini. Aku mengatur napas, mencoba menyembunyikan rasa gerogiku. “Em, tentu.”

“Dengan siapa?”

Aku terhenyak, ia benar-benar berhasil memancingku.

Sedikit berat hati, aku pun berkata, “Dengan …,”  kata-kataku sedikit tertahan. Lidahku terasa kaku, “eng … pada Papa dan Mama.” Aku mengangguk setuju, “ya, aku mencintai mereka.” Jelasku seraya menggigit bibir bawah dengan perasaan was-was. Dasar  pengecut!

Ia meninju lenganku. “Ye … maksudku bukan itu. Em …, ” keningnya sedikit mengerut, seperti sedang berpikir keras. “Semacam, jatuh cinta terhadap lawan jenis.”

Aku mengerti maksudnya, hanya saja ….

“Kalau kamu?” aku balik bertanya.

“Aku sudah. Tepatnya beberapa hari lalu.”

Bagaimana pun aku tahu yang ia maksud. Jatuh cinta terhadap cowok baru di sekolah. Mereka begitu dekat.

“Rasanya meledak-ledak tiap kali bertemu!” teriaknya seraya mengangkat kedua tangannya. “Dan waktu terasa melambat, saat aku tak bersamanya.”

Aku memaksakan senyum. Sepertinya, ia sedang memojokkanku.

“Aku paling suka senyumnya, manis.”

Ya, cowok yang dimaksudnya memang manis; memiliki lesung pipit, berbadan tegap, dan aku tak peduli.

Saat ini aku hanya ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Membiarkannya bawel seperti biasa.

“Ketika aku melihat matanya, ada air laut yang bersatu dengan sepoi angin. Aku tak mampu berkedip.”

Aku menahan tawa. Ia sepertinya sudah kehilangan akal, tak bisa membedakan realis dan surelis. Oke, aku mulai mengerti yang ia maksudkan.

Aku mengembuskan napas, “Lalu menurutmu, definisi cinta itu seperti apa?”

Ia menghentikan tawanya, lantas menyipitkan mata memandangku penuh. Membuatku hampir tak dapat bernapas, lebih tepatnya salah tingkah. Segera kusingkirkan pandangku, pasrah menatap muka laut.

“Cinta itu realistis, lo suka, gue suka. Jadian. Simple.

“Jadi menurutmu, ada semacam magnet ketertarikan?”

“Ya, tepat. Cinta itu semacam magnet berbeda kutub, antara aku dan dia memiliki sifat yang berbeda. Namun, itulah yang membuat kita bersama.”

“Oh,” aku tak begitu suka mendengarnya. “Revan memang cocok buatmu.” Aku langsung menembak ke arah pembicaraan yang lebih serius.

“Maksudmu?”

“Ya, aku tahu kalian beberapa minggu ini dekat. Bahkan kamu jarang bersamaku. Seperti yang kamu bilang tadi. Magnet berbeda kutub, kamu penyuka musik dan dia penyuka sport. Jadi kalian memang cocok.”

Ia seperti menangkap kekonyolan pada diriku—pada mimik wajahku. Ia buru-buru tertawa setelahnya.

“Ya, definisi cinta yang tepat. Kamu cocok jadi ahli psikolog.”

Aku tak sedang butuh jawaban itu, “Jadi kalian sudah jadian?”

Ia diam dan mengalihkan pandangan. Sepertinya, ia sudah cukup lelah berargumen denganku. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi penglihatannya dan menyelipkannya di sela daun telinga.

“Kalau kamu berbicara kata cinta, aku lebih suka menyembutnya dengan kata care.” Ia memulai obrolan kembali.

Aku masih ingin mengetahui lebih jauh hubungan mereka.

“Aku suka pemikirannya. Di otaknya seperti ada cadangan letupan yang mampu membuatku terus tertawa.”

“Telinganya bahkan mengerti aku sedang berbicara saat ini.”

Aku menelan ludah, buru-buru menyela pernyataannya, “Hah! Tunggu …”

“Hatinya belum peka. Bahkan, sampai detik ini.” Ia seperti tak membiarkan aku untuk berkata.

“Hey, tunggu! Maksudmu siapa?”

“Hari sudah mulai petang. Dan dia belum juga sadar.”

Aku seperti orang yang sedang tersedak makanan dan butuh  minum. Aku tercengang mendengarnya. “Rayi, aku nggak sedang bercanda. Maksudmu …” kali ini ia menatapku. “Aku?”

Ia tersenyum, aku menangkap air mata yang menggenang di bola matanya. “Aku juga nggak sedang bercanda, maksudku …” nadanya terdengar bergetar, seperti sengaja mengulur kalimat terakhirnya. “Aku sayang sama kamu, Yo.”

Aku kaget, dan dadaku naik turun  mendengarnya. “E… sejak kapan?”

Ia menghapus air matanya. Baru kali ini aku melihat ia tak seceria biasanya. Terlihat sedang menahan beban dalam hati. “Aku dan Revan, memang sedang dekat, tapi dalam artian proyek kecil. Adiknya penyuka musik. Dan aku mengajarinya main gitar setiap hari, sepulang sekolah bersamanya.”

Aku belum benar-benar percaya mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya. Ternyata, aku salah tebak.

“Kamu care, relain jaket kamu basah hanya untuk melindungiku dari hujan. Dan akhirnya kamu sakit, aku tahu ini cinta yang terdengar—”

“Cinta itu bukan sesuatu yang konyol. Dia datang tanpa kita sadari. Dan aku pun mengalaminya.” Aku menatapnya yakin. “Denganmu.”

“Hah?” Air matanya jatuh. Menutupi getar di bibirnya dengan kedua tangan. Seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Kamu tahu satu hal yang paling kubenci?” Aku menghirup napas dalam-dalam. “Mengakui perasaanku sendiri padamu. Aku suka padamu.

“Jadi kita sama-sama menghianati persahabatan kita?”

“Bukan. Kita sahabat, yang berakhir …,” aku sengaja mengulur pernyataanku, memandang lama-lama bola matanya, ingin sekali menghapus air yang jatuh ke pipinya. Ingin sekali memeluknya. Dan, “saling menyukai.”

Aku tersenyum tipis.

Ia mencoba tertawa, namun sia-sia. Air mata dan getaran di bibirnya tak mampu membohongiku. Ia terharu, lantas menyandarkan kepalanya tepat di pundakku. Aku tak memberikan efek penolakan. Aku telah lama menunggu momen ini. Tanpa sadar, tanganku reflek membelai rambutnya.

“Yang terakhir, cinta itu seperti senja. Kamu nggak akan menemukan keindahan yang sama persis semacam ini, besok, atau lusa. Dan perasaan pun sama. Jika sekarang kamu terlambaat maka …,” ia menghentikan kalimatnya.

“Ya, aku setuju. It’s now or never?

Ia mengangguk sepakat.

Kini, tak ada lagi cinta yang terlambat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s