Kutukan Angka Dua (Dimuat di Majalah HAI, edisi 23 September 2013 )


Aku kaget ketika melihatnya di ambang pintu. Aku tak menyangka dia masih hidup,bahkan dia tampak lebih sehat dari dugaanku.

Kini, di tangannya terdapat rotan panjang yang diketuk-ketukannya di daun pintu. Kumisnya seketika naik saat melihatku berdiri di depannya. Jantungku hampir dibuatnya berhenti untuk sekadar melihat seringai matanya yang tajam.

***

Pria tua itu adalah pengajar yang handal untuk ukuran sekolahku, bukan untukku. Dia bukan guru favoritku, melainkan musuh bebuyutan untuk nilai nolku. Tak tanggung-tanggung dua pekan ulangannya aku harus merebus dua nol yang diberikannya untukku di rumah.

Aku telah berusaha mengejar ketertinggalanku. Nyatanya, dia tetap sekongkol dengan soal yang sulit. Orang tuaku juga masih saja menggerutu soal ini. Suplai vitamin dari mereka bertambah dua butir kali ini untuk mencerdaskan otakku.

Lagi-lagi, aku harus bertemu dengan angka dua yang memenuhi isi otakku, dua angka nol, dua butir vitamin, dua orang tua cerewet dan dua puluh soal remidial matematika yang belum tuntas kukerjakan, hal ini membuat otakku perlu kupukul beberapakali agar tak menggumpal di dalamnya.

 Hari ini, aku dikagetkan dengan kedua orang tuaku yang mendobrak pintu kamarku. Aku melongo melihat mereka menggerutu didepan pintu.

“Diko…! Jam berapa ini?!”

Omelan Mama melengking mengoyak seisi telingaku. Lagi-lagi otakku belum sadar sepenuhnya.

“Sudahjam tujuh Diko!”

Papa membuatku masih melongo, gerakkan tangannya ingin sekali aku beri bulpoin untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahku.

Setelah lama mereka bergumam. Akhirnya kesepakatan itu muncul, mereka berdua menarik tanganku kuat-kuat menuju kamar mandi.

Otakku telah kembali untuk merespon ulah mereka.

“Stop!” cegahku, “Mama dan Papa, Diko nggak sekolah aja hari ini.”

Mereka berdua langsung melotot dan saling berkata, “APA!”

Aku langsung membalasnya dengan tak acuh, “Diko males sekolah. Lagian aku sudah gede kali, jadi nggak perlu lah dipaksa untuk sekolah.”

“Hey…,”Mama menjewer telingaku, “kamu itu masih kelas dua SMP. Beruntung Mama dan Papa masih perhatian sama kamu!”

“Aduh…,ampun, Ma. Ampun!” aku merasakan panas di telingaku “iya deh Diko sekolah hariini.”

“Nah,kalau begitu cepat mandi!”

Aku menggosok telingaku yang masih sakit. “Iya, Diko mandi, tapi Mama dan Papa pergi!”

Aku pun mendorong mereka keluar dari sarang keramatku.

***

Bisa-bisanya aku di hukum oleh pria tua itu, karena terlambat duapuluh menit, saja? Hukumannya selalu membuatku ngeri, membersihkan WC dan lari mengitari lapangan.

Aku masih heran dengan kutukan angka dua di hidupku. Ini takkan terjadi, jika pria tua itu tak memberiku dua nilai nol untuk ulanganku seminggu lalu.

Kakiku masih menendang-nendang batu di jalan. Papa menelepon, agar aku pulang naikangkot saja, mobilnyaa rewel dan perlu dibawa ke bengkel.

Wajahkukian lembek untuk urusan naik angot. Uang jajan dua ribu harus benar-benar kurelakan untuk sekadar menaikinya, kadang spon angkot yang tipis dan cara menyetir sopirnya yang kacau membuat bokongku merintih kesakitan. Sudah lebih dari dua jam aku menunggu dan belum ada satu angkot pun yang lewat.

Apa akusalah jalur? Terakhir naik angkot waktu aku kelas satu SMP. Dan kurasa, aku masih ingat betul angkot jurusan rumahku.

Aku pun memutuskan berjalan kaki melewati perkampungan. Hanya bebarapa kendaraan berlalu lalang disini. Sejenak, aku berhenti di pos ronda dekat perempatan jalan.

Dari kejauhan, pria tua itu tampak kepayahan mengayuhkan kakinya pada pedal sepeda ontelnya. Dia terlihat mendekat dan lewat di depanku dengan senyum sinisnya.

“Sore, Pak?”sapaku setengah terpaksa.

Aku bersyukur dia segera hilang dari pandanganku. Setidaknya, mataku bisa lebih tenang untuk melihat hal lain.

BRUAK!

Terdengar suara hantaman dari samping kiri pendengaranku. Aku pun menoleh ke arah sumber bunyi tersebut.

Sesaat,aku tercekat melihatnya. Pria tua itu tengah terkapar di sana. Tampak mobil jeep berlalu cepat saat suasana lenggang seperti ini. Aku masih berusaha menata napas.

Aku memutuskan untuk segera berlari ke arahnya. Ternyata, masih ada pemikiran positif di otakku selain angka dua. Dia tampak mengaduh menahan sakit di kakinya, velg sepedanya bengkok tak karuan. Akucemas melihatnya demikian.

“Bapaknggak apa-apa?”

Dengan panik, aku berteriak meminta bantuan. Beruntung setelah itu, ada warga yang membantukumembawanya ke rumah sakit terdekat.

***

“Maaf, Pak,terlambat.”

Pria tua itu kemudian maju selangkah ke arahku. Masih dengan rotan panjang yang diketuk-ketukannya di tembok. Tatapannya tak berubah sedikit pun.

Aku masihterpaku bisu menatapnya lemas.

“Hem, jamberapa sekarang?” dia mengetukkan telunjuknya beberapa kali di atas jam tangannya.

Aku menelan ludah untuk pertanyaannya barusan.

“E… jam tujuh lebih dua menit, Pak.”

Dia langsung menghampiriku, meski kakinya masih tampak terseok untuk sekadar melangkah.

Ada rasa canggung yang seketika menyergapku.

“Terima kasih, Ko. Bapak tak tahu, seandainya tak ada kamu seminggu yang lalu.”

Seketika aku lega dengan apa yang dilontarkannya barusan, bukan suara parau yang biasa bising di ambang pintu memintaku berdiri duapuluh menit sampai jamnya selesai. Setidaknya, aku bisa bernapas panjang kali ini.

“E, iya,Pak. Setidaknya Diko ingin jadi orag baik, meski nggak pintar.”

Dia menggelengkan kepalanya. Dan menepuk pundakku lebih keras, hingga membuat  pundak kananku hampir dibuatnya tak seimbang.

“Siapa bilang kamu tak pintar?”

Aku sempat shock mendengarnya. Ada genangan semangat yang tiba-tiba muncul di otakku karena testimoni yang dilontarkannya barusan.

“Jadiulangan saya kemarin?”

Pria tua itu segera menyodorkan kertas ulanganku. Aku tertegun melihatnya. Aku tak percaya ini benar-benar ajaib bagiku. Sesuatu yang akan merubah kutukan angka dua dalam hidupku.

“Kamu pintar mendapatkan satu telur lagi kali ini. Haha ….”

Tawa pria tua itu menggelitik sampai membuat telingaku perih mendengarnya. Aku terkekeh sendiri dengan nilaiku kali ini. Benar-benar magic. Sepertinya, kutukan angka dua itu akan berubah setelah ini. Menjadi tiga?Malang, Februari 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s