Cinta Butuh Waktu


  “Ra …! Gue ada kabar gembira!”

            Juna melompati pagar dan hampir terjatuh saking semangatnya. Ia lalu menghampiri Eyra dan mengguncang-guncang pundak sahabatnya tersebut, yang sedang sibuk menyirami bunga.

            Eyra menghentikan kegiatannya, meletakkan selang air begitu saja, lantas menatap ke belakang dengan mimik muka kesal, dan bertanya, “Lo kesurupan atau emang dasarnya kurang waras?”

            “Sensi amat! Pakai bibir dimanyun-manyunin segala, kayak gurita aja lo. Haha ….” Juna mencubit kedua pipi Eyra yang tembem seraya terkekeh sendiri.

            Eyra yang bersilang tangan, menanggapinya dengan kurang semangat. “Terus?”

            “Gue ada kabar gembira!”

            Eyra mengernyitkan dahi, menebak-nebak sendiri apa yang dimaksudkan sahabatnya barusan. “Nggak remidi Fisika lagi?”

            “Bukan!” Juna menggeleng.

            Kali ini, ia mengetuk-ngetuk ujung bibirnya. Seraya menahan tawa. “Eng, nggak disuruh masak sama nyokap lo lagi? Haha.”

            “Ish!” Merasa dapat ejekan, Juna pun langsung menjitak kepala Eyra. “Bukan, bodoh!”

            “Terus?”

            “Gue baru aja nembak Sashi, Ra.”

            Kali ini senyum Eyra sedikit memudar, namun ia ingin mendengarkan cerita Juna lebih lanjut. Menaikkan alisnya sebagai tanda ingin tahu.

            “Sashi anak SMA Pelita, teman kita SMP dulu yang glamour itu?”

            “Ya, dan dia jawab ‘mau’.” Juna berlonjak senang, ia lalu mengguncangkan lebih keras pundak Eyra. “Yuhu …!”

            Eyra tak tahu ekspresi apa yang mesti ia keluarkan. Bukan, ia harusnya senang mendengarnya, sahabatnya tak akan jomblo lagi. “Selamat.” ucapnya lirih tanpa sadar.

            “Cuma itu?”

            Eyra terbangun dari lamunannya, mencoba mengembangkan senyumnya lebih lebar lagi. Ia lalu berjongkok dan mengambil selang airnya kembali.

 “Pesta air!” teriaknya seraya memutar selang air ke udara.

***

            Tempat ternyaman bagi Juna dan Eyra adalah bangku panjang di samping rumah Juna yang dinaungi pohon mangga.

            “Ra, cantik nggak?” Juna memperlihatkan hasil sketsa wajah Sashi.

            Namun, Eyra yang sudah hampir sekarat di atas tumpukan buku Fisika, melambaikan tangan kanannya, tanda ia benar-benar mengantuk.

            Terdengar suara klakson yang berbunyi beberapa kali dengan tidak sopan. Eyra merasa sebagian nyawanya terangkat kembali dan bangun dengan kondisi sangat mengenaskan, rambutnya yang sebahu, menjuntai acak-acakan. Dan matanya yang masih menyipit, tak menemukan Juna di tempatnya?

            Ia buru-buru mengucek matanya, mengalihkan pandangan ke arah gerbang. Seorang cewek manis dengan potongan dress ungu dan headband warna senada berada di sana dengan Juna. Mereka terlihat sangat akrab.

            “Hay, Sas?” sapa Eyra seraya mengulurkan tangannya.

            Sashi melirik ke arah Juna, meminta penjelasan, siapa yang berada di hadapannya.

            “Pura-pura lupa ya, dia Eyra.”

            Memori Sashi dibawa ke masa SMP yang menyebalkan ketika bertemu dengan cewek di depannya. Ia pernah dipermalukan dalam sebuah artikel mading, yang menjulukinya sebagai ababil salon berjalan.

            “Oh, dia. Hay, Ra?” Sashi terlihat tak nyaman. “Jun, kita cabut yuk! Nggak tahu kenapa, pemandangan mendadak berubah buruk banget di sini.”

            Eyra menurunkan tangannya yang dianggurkan. Mencoba tetap tersenyum, meski ia tahu yang dimaksudkan Sashi barusan, adalah ia.

            “Ya sudah, gue pergi pergi dulu Ra.” ucap Juna seraya menepuk pundak Eyra.

            “Oh, iya, hati-hati ya kalian.”

            Eyra mengulum bibir, meski ia baru saja mendengar kata-kata yang mengusik telinganya, yang diucapkan dengan intonasi kaku dan penuh penekanan dari Sashi sebelum pergi.

            Gue nggak suka lihat lo sama cewek aneh itu.

***

            “Pulang sekolah entar, kita belajar kelompok yuk! Parah banget, matematika gue dapat jeblok lagi. Haha.”

            Eyra menoleh ke samping, ucapannya barusan seperti menguap begitu saja. Juna masih sibuk dengan ponselnya.

            “Jun?” kali ini Eyra menepuk pundak Juna.

            “Eh, iya, Sorry. Ngomong apa lo barusan?”

             Eyra menelan ludah, tak mengerti dengan sikap Juna hari ini. Dimulai dari membiarkannya berangkat sendiri tanpa tebengan. Lalu, di kelas Juna tak meminta maaf dan tak menyinggung hal tersebut sedikit pun. Dan kali ini, Juna membiarkannya ngomong sendiri.

            Eyra mendengus, mencoba mengulang kembali ucapannya yang sebenarnya sudah lewat untuk dibahas. “Em, kita bela …,”

“Eh, Ra,  gue duluan ya! Mau jemput Sashi. Bye ….” potong Juna cepat seraya berlari menjauh darinya.

Eyra menghentikan langkahnya, tak mengerti dengan tingkah sahabatnya. Yang dilihatnya barusan, seperti di luar logika. Atau mungkin, seorang yang jatuh cinta selalu meniadakan arti sahabat? Batinnya saru.

***

            Eyra melempar buku secara serampangan, ia kesal tak bisa mengerjakan tugas matematika yang biasa dikerjakan bersama dengan Juna. Ia benar-benar frustasi.

            Suara klakson itu berbunyi lagi. Ia sudah hafal betul, setiap sore suara itu seperti alarm yang mengingatkannya. Bahwa ia sudah kehilangan sahabat. Juna sering menghindar bila ditanya soal kenapa ia jadi berubah. Meski sebenarnya Eyra tahu, dan ia tak butuh jawaban lagi, karena alasannya adalah Sashi. 

            Ia menarik gorden kamarnya, menjulurkan sedikit wajah dan melihat sesuatu yang sepertinya sangat jarang terjadi. Bukan saling melempar pandang, mencium kening, atau berpelukan.

            Mereka, bertengkar?

            Ia ingin menertawakan semua ini, betapa konyolnya Juna mengejar seseorang yang tak pasti. Sashi anak orang kaya, ia manja, mana mungkin ia betah bersama dengan Juna yang cuek dan apa adanya. Pikiran Eyra melayang ke mana-mana. Tapi  tak lama, air matanya jatuh, ia menahan perih yang tak berkesudahan.

            Jika sebenarnya, ia cemburu.

***

            Jam pelajaran terakhir telah lama usai. Namun, Eyra dan Juna masih tinggal di dalam kelas.

            Eyra pun memutuskan untuk menyusul duduk di bangku Juna, dan menyapa, “Hay, boleh duduk?”

            Tak ada jawaban. Dengan sedikit canggung, ia pun duduk begitu saja di samping Juna tanpa menunggu persetujuan. “Em, kenapa sih lo diem aja?” tanya Eyra seraya menoleh ke samping.

            Juna masih sibuk memasukkan buku ke dalam tasnya, tak acuh dengan suara Eyra.

            “Gue udah lelah, Jun.” Eyra geram dan menutup tas Juna dengan paksa. “Lo berubah.”

            Juna menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya keluar jendela.

            “Seminggu ini, gue coba betahan dengan sikap lo. Cuek dan selalu menghindar dari gue. Tapi please, gue bukan anak kecil. Gue butuh alasan.”

            Juna tersenyum datar, “Gue baik-baik aja.”

            Eyra meremas ujung roknya, dan kembali menatap ke arah Juna. “Bohong! Dua hari ini lo terlihat murung.”

            “Gue sama Sashi putus. Puas?!” Juna pergi begitu saja dengan wajah penuh emosi.

***

            Bukan, bukannya aku takut untuk mengatakannya. Tapi, apakah dia percaya tentang perasaanku. Dan jika itu terjadi, aku tak yakin, kita masih bisa bersama seperti sedia kala.

            Lipat.

            Seperti biasa, rangkaian kata itu hanya akan menjadi burung camar kertas yang tergeletak di dalam laci. Untuk kesekian kalinya, Eyra putus asa akan perasaannya.

Apakah salah mencintai seorang sahabat sendiri? pikiran itu berulang-ulang muncul di benaknya.

Sudah dua hari ini, Juna tak masuk sekolah. Semua orang di kelas, bahkan guru membombardirnya dengan pertanyaan yang sama, Juna ke mana? Lo sahabatnya kan? Dia sakit?

Cukup, Eyra tak tahu. Untuk melangkah ke rumah Juna saja, rasanya lututnya hampir lemas tak kuat jika harus diusir secara paksa.

Setidaknya, dicuekin jauh lebih menyakitkan. Kali ini, ia setuju.

Siang hari rumah Juna sepi, kedua orangtuanya pergi ke kantor masing-masing. Seperti biasa, ia pun langsung menyelinap begitu saja, dan menuju ke lantai atas.

Ia menyeret pintu yang tak terkunci, “Jun?”

 Dan melihat seseorang yang sedang memeluk lutut di balkon, dengan banyak kertas HVS bercecer di sembarang tempat.

 “Gue mau sendiri. Pulanglah ….”

“Lo kayak anak kecil, Bodoh! Banyak yang khawatirin lo!”

Sejenak, suasana mendadak hening. Eyra seperti kelepasan berkata. Ia pun mengatur napasnya dan memulai dengan berkata lebih lembut. “Apa hanya karena lo putus? Nggak fair tahu.”

“Gue lagi nggak butuh ceramah dari lo! Gue minta lo keluar …!”

Eyra hampir sesak mendengarnya, baru kali ini ia dibentak, bahkan oleh sahabatnya sendiri. Ia menggeleng tak mengerti dan segera memundurkan langkahnya keluar.

“Ra?” ucap Juna yang mematung dengan wajah lusuh.

Eyra pun berbalik dan menghapus cetakan basah di pipi. Tiba-tiba Juna memeluknya tanpa komando.

 “Maafin gue, Ra. Lo sahabat gue yang lebih penting dari segalanya.”

***

            “Jadi dia mau pindah kota ikut ayahnya? Lo nggak coba ngehubungin dia?” Eyra memasukkan kacang atom ke mulutnya.

“Sudah, dan nomernya nggak aktif. Juga semua salah gue yang kayak anak kecil, mendadak emosi waktu tahu dia ngomong kayak gitu.”

Eyra melambatkan kunyahannya, melihat ke sekitar kantin yang telah sepi. “Em, lo mau terima tantangan dari gue?”

Juna mengernyitkan dahi tak mengerti.

“Eng, sebentar,” Eyra sibuk mencari sesuatu di dalam tas punggungnya. Senyumnya mengembang saat menemukan benda yang dicari. “Gue punya dua lembar kertas, salah satu di antaranya bertuliskan truth dan satunya lagi bertuliskan dare. Jika lo dapat truth, lo harus kasih tahu sesuatu yang lo sembunyiin selama ini dari gue. Dan jika dare, lo harus nerima tantangan dari gue.”

 “Ide gila!” Juna tertawa setelahnya. “Dan gue mau.”

Eyra sempat kaget,“Kenapa nggak mikir dulu sih?”

“Karena gue juga mau, saat gue dapat truth lo harus ngambil kartu dare gue. Dan terima tantangan gila dari gue. Begitu pula, sebaliknya.”

Eyra sedikit menimbangnya. “Em, ya, setuju.”

Ia pun meletakkan dua kertas itu dengan cara dibalik (menampakkan punggung kertas yang putih tanpa tulisan) dan memutarnya beberapa kali. “Sudah.”

Dengan sedikit ragu, Juna beberapa kali mengambil dan menurunkannya lagi, hingga ia yakin dengan kartu yang berada di sebelah kanan. Mengambilnya dan membaca. “Gue dapat dare.

Eyra lemas seketika. Menyimpan kartu truth-nya kembali ke dalam tas dengan senyum setengah terpaksa.

Ia sedang berpikir, mencari tantangan terbaik untuk Juna. Dengan satu embusan napas, ia lalu angkat bicara, “Tulis surat, dan kirim ke alamat rumahnya sebelum dia pergi. Terkadang, sebuah kalimat yang ditulis dari hati, jauh lebih tulus dari sekadar ucapan.”

Juna tersenyum mendengarnya. Ia melihat ada sesuatu yang tulus, bukan kasihan, dari apa yang diucapkan Eyra barusan. Ia pun menggenggam tangan Eyra. “Truth?”

“Setelah lo ketemu Sashi.” jawab Eyra tak yakin.

***

            “Gila, Jun! Gue hampir pingsan tau, naik roller coaster!”

            “Haha …, iya nih, lama banget nggak ngerasain fly kayak tadi.”

Eyra mendadak menghentikan langkahnya, saat melihat siluet cewek yang beberapa minggu lalu dekat dengan Juna, sedang berdiri di samping mobil. “Eh, Jun.”

Juna memandang ke arah Eyra tak mengerti, dan mengalihkan pandangannya ke muka. Ia hampir tak bisa bernapas, “Sashi?”

Sashi tersenyum sambil menggoyangkan surat bersampul biru. “Gue sudah baca.” ucapnya riang.

Eyra meremas jemarinya, dan ia tahu, kehadirannya saat ini tak dibutuhkan lagi. Mereka berdua butuh ruang untuk bicara. “Eng, gue pulang dulu, Jun. Cayo!”

“Makasih, Ra. Lo sudah mau jagain Juna.” Sebuah pelukan hangat datang dari Sashi tiba-tiba.

“Eng, iya, Sas.” Eyra menepuk punggung Sashi dengan lembut. Dan melanjutkan langkahnya kembali.

Eyra sempat mendengar obrolan singkat mereka.

“Jadi lo tetap mau pergi?”

Yeah, and i’m always missed you ….

            Ia berhenti mengupingnya, ada rasa yang hancur tiba-tiba dalam hatinya.

Mengapa mencintai harus sesulit ini?

***

            “Ra?” Juna masuk begitu saja ke kamar Eyra. “Lo nangis?”

            Eyra masih membenamkan wajahnya di atas bantal, ia belum sanggup bila Juna melihatnya dalam kondisi seperti ini. “Gue sakit, Bodoh!”

            “Eng, gue punya sesuatu buat lo.”

            Eyra sedikit menimbangnya. Tak lama, ia memutuskan bangkit dari posisinya berbaring. “Apa?” tanyanya penasaran.

            Juna menyodorkan sesuatu padanya, membuat bibirnya bergetar, napasnya putus-putus. Ia tak ingin membiarkan air matanya jatuh, membasahi sketsa wajahnya di kertas HVS yang berada di tangannya. “Ini …?”

            “Buat lo. Sahabat terbaik gue,” Juna lalu memeluk sahabatnya dengan begitu erat. “Truth?

            Eyra tak tahu, ia mesti berkata apa. Bibirnya mengatup sempurna, pikirannya buyar. Ia terjebak pada permainannya sendiri. Beberapa kali mendesah, namun sia-sia, ia tetap menjatuhkan air matanya. “Gue …, sayang lo, Jun.” ucapnya lirih seraya menutup mata.

            “Hehe, lo sahabat gue. Jadi gue juga akan sayang sama lo.” Juna menepuk-nepuk punggung Eyra. “Selamanya ….”

            Tapi yang gue harapkan bukan itu, Jun. Ucap Eyra dalam hati.

            Dan cinta, tak pernah datang di waktu yang tepat.

Iklan

2 thoughts on “Cinta Butuh Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s