PAMIT

 

tumblr_static_tumblr_static_e7joxfieymg4skkkg8k80k880_640.jpg

Pamit tidak selalu tentang pergi dan tak kembali, bisa jadi pamit merupakan sebuah langkah awal untuk menjadi lebih baik serta masih bisa terhubung. Saya pamit dari blog Kertas Kusut yang sudah lama menemani saya, pamit dalam artian saya pindah ke rumah baru. Rumah yang menurut saya beberapa hari ini cukup nyaman. Saya tidak akan menghapus postingan di blog ini, dan terima kasih untuk yang sudah memfollow blog Kertas Kusut. Terima kasih para pembaca yang rela meluangkan waktu menikmati baik cerita maupun postingan yang kadang terasa tidak penting di sini. Bagi yang ingin tetap menjalin silaturahmi, dengan senang hati pintu rumah baru saya dibuka lebar-lebar lengkap akan suguhannya yang semoga manis pun mendatangkan berkah. Mampir yuk, ke blog Ruang Jenak. Saya menunggu kalian.

 

Salam Manis untuk Kertas yang Tak Lagi Kusut di Ruang Jenak

 

Koko Ferdie

( http://www.KokoFerdie.Blogspot.com )

BUKU: SEQUENCE

1457415628148

Judul : Sequence (hati yang bertaut penuh kisah)
Penulis : Sitta Hapsari
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : 2014
Tebal : 250 halaman
ISBN : 978-602-291-001-5

Saya menemukan buku ini di rak buku murah Mizan grup yang ada di depan Gramedia Basuki Rahmat. Ada banyak buku yang sepertinya menarik, namun karena tidak tahu jika ada bazar jadilah saya hanya membeli buku ini dan karya Kak Eve Shi—selain buku karya Kak Sefriyana, tujuan semula datang ke gramedia. Dan, saya merasa beruntung. Baca lebih lanjut

CERPEN: MARRA

    Marra, kau lebih suka menyebut dirimu dengan nama itu.
“Kenapa aku harus memanggilmu dengan nama Marra? Aneh.”
“Apa itu sejenis nama pena? Atau, nama bohongan?”
Pertanyaan itu selalu terdengar ganjil di telingamu. Kau selalu mengenyahkannya dan dengan begitu ada yang bisa kau lepas. Sahabat, juga ingatan tentang kedua orang tuamu yang kian pupus. Dan, saat itu tiba. Hari ini, di sore yang muram, kau memandang langit Kota Bogor untuk terakhir kalinya.
“Kau baik-baik saja? Gerimis adalah pertanda baik untuk perjalanan kita.”
Mobil melaju tenang. Titik-titik air hujan membasahi kaca mobil dan kau menghela napas untuk beberapa kali. Jaket hitam itu tidak terkancing sempurna sehingga membuat tantemu mendengus, lalu menarik resletingnya. Tantemu benar, gerimis selalu menjadi penawar keheningan yang baik.
“Di Jakarta nanti kau akan menemukan banyak teman baru,” ucap tantemu lagi, lalu mengatakan sesuatu pada sopir, “Kita mampir ke butik dulu.”
Tante Ella, adik Papa, adalah satu-satunya keluarga yang kaumiliki sekarang, paska kecelakaan tragis yang menewaskan kedua orang tuamu. Semuanya terasa cepat, kebahagiaan itu terenggut begitu saja. Tidak akan ada lagi acara menghias pohon natal, bertukar kado dan meletakkannya di kolong ranjang, atau menghitung mundur menyambut tahun baru dengan melihat kembang api di pusat kota bersama. Tawa yang pudar dan berubah menjadi seulas senyum getir.
Lidahmu masih terasa kelu, bahkan untuk menanggapi ucapan Tante Ella yang seolah tidak ada habisnya. Tanganmu lantas menyentuh kaca jendela mobil yang terasa dingin. Lalu, ada kata yang kautulis dengan jari telunjuk.
Kata itu …, Marra.
***
Sedikit banyak kau bersyukur karena Tante Ella adalah sosok yang tidak cepat hanyut dalam kesedihan. Tidak menyinggung tentang kematian orang tuamu secuil pun, bahkan sejak pertama kali kautinggal satu atap dengannya kemarin di daerah Bintaro. Atau bisa jadi beliau tengah menjaga perasaan seseorang yang tak lain adalah kau?
“Marra, menurutmu bagaimana gaun ini?” Tante Ella mengangkat gaun bermotif bunga berwarna pink, yang di bagian kerahnya diberi renda warna putih.
Kau mengernyit, tapi Tantemu segera menjawab sambil tertawa. “Nama facebook-mu berubah menjadi Marra sejak beberapa bulan lalu bukan?” Baca lebih lanjut

REVIEW: Perfect Pain karya Anggun Prameswari

KELUAR DARI JERAT BERNAMA KERAGUAN

Judul : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Terbit : 2015
Harga : Rp. 58.000
Tebal : 314 halaman
ISBN : 978-979-780-840-8

Perfect Pain bercerita tentang Bidari atau lebih suka dipanggil Bi yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya, Bram, adalah sosok yang tempramen dan ringan tangan, namun di sisi lain dia menjadi sangat penyayang pada Bi dan takut kehilangan istrinya tersebut. Kekerasan itu sendiri dilakukan di depan mata Karel, anaknya.
Selama ini Bi bertahan hanya untuk Karel. Sampai pada suatu titik Bi sudah tidak tahan dengan perlakukan suaminya dan memutuskan kabur. Dalam masa itu dia ditolong oleh Sindhu, pengacara muda. Ini bukan kebetulan, karena sebelumnya mereka sudah pernah bertemu saat mencari Karel bersama Miss Elena—guru Karel yang merupakan kekasih Sindhu. Baca lebih lanjut

CERPEN: DIA YANG KUSEBUT CINTA

pict from: https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj-8eGJ0LDLAhUOxI4KHdSuBvkQjhwIBQ&url=http%3A%2F%2Ftaniec-mojapasja.tumblr.com%2F&psig=AFQjCNEMbkDnvgOwJFcATWvjll3B_rMiiA&ust=1457510542519064

Kenes
Aku mengenang bunda dalam sebuah tarian yang diiringi melodi-melodi indah dari musik orkestra. Bunda tidak memaksaku menjadi seorang balerina. Ada bayak mimpi kata bunda dan aku berhak memilih salah satu atau dua di antaranya. Ketika bunda pergi meninggalkanku untuk selamanya, aku telah memilih mimpi mana yang harus kuwujudkan.
Namun, ketika melihat cewek bermata sebulat anggur dengan aroma apel itu, aku seperti melihat bunda dalam wujud nyata. Kaki jenjang dan ketika dia meliukkan badan disertai gerak tangan, dari sana aku merasa ada sesuatu kekuatan. Kekuatan itu juga yang perlahan seperti sebuah ranjau yang menghalangiku mewujudkan mimpi.
Lalu, aku harus bagaimana bunda? Dia tampak tidak menyukaiku. Aku juga ingin begitu, hanya saja aku masih ingat kata-kata bunda bahwa aku tidak boleh membenci atau dendam pada siapa pun. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya.
Shabrina
Aku membenci semua hal! Bahkan pada diriku sendiri. Seandainya papa masih hidup, pasti beliau tahu betapa kegelisahan merengkuhku begitu erat saat ini. Pada mimpi serta obsesi mama yang menginginkanku menjadi anggota OSIS, mengikuti les balet, serta beberapa les lain yang menunjang prestasiku agar tidak tertinggal sepuluh besar juara kelas.
Aku pernah bermimpi menjadi juru masak yang andal di sebuah restoran besar seperti papa. Tapi mama bilang aku lebih cocok menjadi balerina. Yang jelas, aku tidak tahu apa persisnya itu mimpi. Hingga suatu ketika di musim hujan, aku melihat cewek itu datang. Dia yang memancarkan binar di matanya ketika menari. Seperti ada sepasang sayap di punggungnya saat melompat. Gerakannya selaras, meski ada beberapa bagian yang masih terasa belum menyatu dan terlihat kaku.
Aku melihat ada mimpi di sana. Sesuatu yang kusebut cinta. Sesuatu yang sayangnya tidak kumiliki. Namun, masalah terbesarnya dia dekat dengan seorang yang aku sukai.
Cowok itu. Ya, danseur dengan senyum sehangat pagi. Hanya saja aku tidak berani menyebut namanya secara langsung sejak peristiwa beberapa tahun silam, dan memilih mengucapkannya dalam hati. Hanya diam-diam.
Kenes
Kami saling mengenal dalam rentang waktu yang bisa dibilang cukup lama. Dia tinggal di sebelah rumahmu semenjak delapan tahun yang lalu. Ibunya pandai membuat kari ayam yang lezat, ayahnya adalah pencinta tanaman hias sehingga tidak salah jika halaman rumahnya dipenuhi aneka bunga dari berbagai jenis.
Setiap menjelang pukul tujuh aku akan menunggunya dari balik jendela kamar di lantai dua. Dia akan melambaikan tangan dengan lolipop yang tidak pernah absen di mulutnya. Dia sendiri bersekolah di sekolah formal, sedangkan aku memilih homeschooling mengikuti saran ayah. Di mana seharusnya saat ini aku duduk di kelas sebelas, satu tingkat di bawah cowok itu. Mengenakan seragam yang sama seperti miliknya.
Aku juga akan menunggunya setiap menjelang sore. Begitu mendapati motor matic berwarna putih di depan gerbang lengkap dengan pengendaranya, aku pun gegas menyiapkan semua keperluanku dengan senyum cerah. Rasanya seperti mendapat donor semangat berpuluh-puluh kali lipat.
Ayah mencium keningku sebelum berangkat dan mengatakan, “Hati-hati!”
Ayah memang begitu, beliau selalu menghawatirkanku secara berlebihan karena aku anak satu-satunya. Aku menyanyangi ayah, meski memang tidak sebesar rasa sayangku pada bunda. Dari tangan ayah aku sering mendapat kejutan, seperti rak buku baru di sudut kamar atau meja kecil yang belakangan menjadi temanku menyantap buku dongeng dan jus jambu. Ayahku hebat karena bisa membuat kayu-kayu itu menjadi wujud yang indah.
“Sudah siap?”
Aku mengangguk menanggapi ucapan cowok bermata hazel di depanku ini.
Ketika motor mulai melaju pelan, aku hanya dapat mengatakan dalam hati, apabila cowok yang membocengku ini adalah sahabat terbaikku setelah bunda. Sahabat yang dapat mengerti kondisiku dalam keadaan apapun.
Kenalkan, namanya Banyu. Gigi depannya ginsul satu. Dia sahabat yang menyenangkan dan tidak banyak bicara. Dia paling suka buah jeruk. Bila berada di dekatnya akan tercium dengan jelas aroma jeruk yang berpadu rempah dari parfum miliknya. Dia suka membaca, dan kami seringkali berdiskusi soal buku. Aku sendiri lebih suka karya klasik seperti karangan Emily Bronthe dan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer.
Dan kami sama-sama mempunyai rahasia satu sama lain.
Shabrina
Senin. Hari yang melelahkan ketika harus bangun pagi, piket sebentar, lalu menjadi komandan upacara karena sekarang giliran kelasku. Berikutnya gegas menyiapkan bahan dan rapat untuk majalah sekolah edisi terbaru. Baca lebih lanjut

BUKU: CHOCORETO

Judul : Beautiful Mistake (biarkan aku jatuh cinta)
Penulis : Sefryana Chairil dan Prisca Primasari
Penerbit : GagasMedia
Terbit : 2012
Tebal : 257 halaman
ISBN : 978-979-780-539-5

Ada dua novela dalam buku ini, namun saya hanya akan membahas Chocoreto karya Kak Prisca Primasari. Menemukan buku ini disebuah bazar buku, dan ternyata ada banyak buku terbitan gagas lain, yang sayangnya harus menahan diri untuk beli banyak buku mengingat sejumlah buku yang dibeli sebelumnya belum dibaca.
Prisca Primasari merupakan salah satu penulis favorit saya, terlebih di sini chocoreto bersetting Jepang dengan diiringi musik-musik klasik. Chocoreto sendiri merupakan nama kafe yang menjual aneka jenis minuman cokelat. Di sini ada tokoh Kai yang terpaksa mengubur impiannya menjadi pianis dan Yuki seorang penulis yang takut bicara di depan umum karena trauma di masa lalu.
Kesan setelah membaca buku ini adalah hangat dan manis. Saya suka bagaimana kedua tokoh akhirnya meraih cita-citanya kembali. Ngomong-ngomong di sini diceritakan menggunakan POV 1 Kai dan saya rasa Kak Prisca cukup sukses jadi tokoh cowok. Membaca ini, saya kembali diingatkan dengan Evergreen. Ada beberapa kemiripan dari segi testimoni pengunjung dan seorang asing yang datang ke kafe tersebut, namun keduanya memiliki cerita yang berbeda.
Ada satu obrolan yang cukup menyentuh bagi saya di buku ini. Baca lebih lanjut

RESENSI, DIMUAT DI PERADA KORAN JAKARTA. Kamis, 25 Februari 2016.

Ini merupakan tulisan pertama saya yang dimuat media tahun 2016 dan resensi ke-5 setelah setahun kemarin tidak satu pun yang berhasil tembus media satu ini. 🙂

Mulanya saya sedikit pesimis dan merasa kurang yakin jika akan dimuat, tapi cukup kaget juga saat dapat kabar dari Mas Untung Wahyudi jika resensi ini tampil. Hihi. Rasanya seperti merasakan senang yang luar biasa–jika tidak ingin disebut lebay–setelah lama tidak menulis. Ini merupakan angin segar bagi saya pribadi dan semoga menjadi jalan untuk karya-karya selanjutnya. Mulai menulis kembali di tengah menyelesaikan tugas akhir kuliah.

XD Pembukaannya kepanjangan ya, berikut versi asli resensi saya karena ada bagian yang diedit oleh redakturnya.

Ada yang bertanya, apakah ada honornya jika dimuat? Baca lebih lanjut